Kemuhammadiyahan wawasan

Cermin dari Ranting dan Cabang Muhammadiyah untuk Indonesia Yang Tercerahkan dan Berkemajuan

RANTING MUHAMMADIYAH
Shares

Selama ini publik sudah cukup mafhum dengan kontribusi Muhammadiyah dalam berbagai bidang kehidupan berbangsa dan bernegara: mulai dari KH Ahmad Dahlan, KH Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Sudirman, Kasman Singodimejo, Ir Djuanda, hingga Amien Rais, dan A Syafii Maarif.

Namun sebenarnya kontribusi Muhammadiyah tidak hanya terbatas pada tokoh-tokoh dan kegiatan berskala besar, melainkan juga ke akar rumput yang jauh dari liputan media. Di seluruh pelosok Indonesia lebih dari dua belas ribu PRM dan lebih dari tiga ribu PCM ikut bergerak melakukan perbaikan dan penataan kehidupan, baik di internal umat Islam maupun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Mendalami dinamika kehidupan akar rumput Muhammadiyah akan memberikan banyak pelajaran yang dibutuhkan oleh Bangsa Indonesia di tengah perkembangan kehidupan yang makin kompleks.

Pasang Surut Gerakan Akar Rumput
Pada awal sejarah Muhammadiyah, Ranting dan Cabang adalah kelompok-kelompok mandiri yang dibentuk oleh Pimpinan Muhammadiyah, maupun kelompok keagamaan yang sudah ada lalu secara sukarela bergabung dengan Muhammadiyah, sehingga memiliki corak yang beragam sesuai dengan konteks lokal.

Di beberapa wilayah, Ranting dan Cabang Muhammadiyah berkembang di kalangan para saudagar dan pedagang, seperti di Jatinom-Klaten atau Pekajangan-Pekalongan di Jawa Tengah, serta berbagai daerah terutama di kalangan perantau Minang mulai dari Sulawesi Selatan hingga NTB, bahkan NTT. Di tempat lain, seperti Garut Jawa Barat, atau Lamongan Jawa Timur, Muhammadiyah berkembang di kalangan ulama dan pesantren. Sementara di tempat lain Muhammadiyah banyak dikembangkan oleh para profesional seperti pegawai dan guru.

Namun, karena tuntutan tata-kelola organisasi, Muhammadiyah mulai melakukan berbagai penataan dan standarisasi mulai struktur Ranting (waktu itu disebut “Gerombolan”) dan Cabang, kepengurusan dan pemilihan pimpinan (Congres XIX di Minangkabau 1930), hingga penyeragaman pengelolaan dan kurikulum sekolah Muhammadiyah (Muktamar ke 34 di Yogyakarta 1959). Pelan namun pasti kondisi ini menjadikan program dan kinerja Ranting dan Cabang semakin homogen.
Penataan ini menjadikan Muhammadiyah lebih tertib, efektif dan efisien. Namun di saat yang sama melemahkan kemampuan Ranting dan Cabang dalam merespon dinamika dan perkembangan yang muncul dalam konteks lokal. Akibatnya, gerak Ranting dan Cabang lebih banyak menunggu petunjuk dari Pusat, serta melihat program lebih sebagai kewajiban dan bukan kebutuhan.
Puncaknya adalah pergantian rezim Orde Baru tahun 1998, ketika berbagai organisasi Islam baru bermunculan, dan mulai terjadi gesekan dan bahkan konflik, karena ruang geraknya berhimpitan dengan Muhammadiyah. Mulailah tersiar beragam berita dan cerita tentang pimpinan Ranting atau Cabang mengundurkan diri karena tidak sanggup melanjutkan perjuangan, atau mengundurkan diri dari keanggotaan Muhammadiyah karena merasa tidak cocok lagi, bahkan keluar dari Muhammadiyah sambil membawa jamaahnya pindah ke organisasi lain karena ada kesempatan yang lebih menjanjikan.

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah
  • web-ad_kld-2019.jpeg
  • webad_pasang-iklan.gif
  • WebAds_deamilela_thumb.jpeg
  • SS-web1.jpg