31 C
Yogyakarta
Sabtu, Agustus 15, 2020

Mendirikan Bangunan di Atas Makam

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Menjadi Super Tendik di Kala Pandemi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Memasuki era New Normal, Sabtu (15/8), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY mengadakan kegiatan Pelatihan...

Esai Cerdas di Masa Pandemi (1) Humor di Atas Normal

Menggali ceruk-ceruk pengalaman yang membahagiakan selama lima bulan di rumah saja saya menemukan banyak jurus hidup yang asyik. Salah satu jurus hidup...

Lazismu Medan Gelar Aksi Kemanusiaan Erupsi Sinabung

KARO, Suara Muhammadiyah - Erupsi Sinabung terus berlanjut dalam pekan ini. Kerugian akibat hancurnya lahan pertanian diperkirakan mencapai Rp 41 miliar lebih....

UMSU Gelar Parade Qori dan Qoriah Terbaik Lintas Generasi

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara menyambut  Hari Ulang Tahun ke 75 Kemerdekaan RI dan  Tahun Baru Islam, Muharram 1442 Hijriah...

Mengembangkan Sekolah Muhammadiyah Harus Pada Niat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mengembangkan sekolah Muhammadiyah harus memiliki niat. Kepala Sekolah Muhammadiyah harus memiliki visi misi dan tujuan harus jelas.
- Advertisement -

Pertanyaan:
Assalamu ‘alaikum w. w.
Kepada Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah, saya ingin bertanya. Bolehkah mendirikan ba­ngunan permanen di atas makam?
Terima kasih.
Wassalamu ‘alaikum w. w.

Marwan Hakim, Muba,
Sumatera Selatan
(disidangkan pada hari Jum’at, 10 Rajab 1435 H / 9 Mei 2014)

Jawaban:
Wa ‘alaikumussalam  w. w.
Sebelumnya kami mengucapkan te­rima kasih atas pertanyaan yang saudara ajukan. Sebenarnya perta­nyaan saudara berkaitan dengan men­dirikan bangunan (pembangunan tembok) di atas makam sudah dijelaskan di dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah ce­takan ke-3 halaman 232 dalam pembahasan cara mengubur mayat, yang berbunyi; “serta janganlah kamu buat tembok di atasnya (kuburan)”, dan juga dalam Suara Muhammadiyah edisi No. 24/TH. Ke-92/16-31 Desember 2007 halaman 38. Untuk le­bih jelasnya, kami akan sebutkan be­berapa hadits, antara lain:

1
“Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata; Rasulullah saw melarang menem­bok kuburan, duduk dan membuat ba­ngunan di atasnya”. [HR. Muslim dalam Sahih Muslim No. 970 dan Ah­mad dalam Musnad Ahmad No. 26556]

2
“Diriwayatkan dari Jabir, ia berkata: Rasulullah saw melarang diba­ngun suatu bangunan di atas kubur, atau ditambah tanahnya, atau diplester; Sulaiman ibn Musa menambah: Atau ditulis di atasnya.” [HR. an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra No. 2165]
3

4

“Diriwayatkan dari Ibnu Juraij dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu az-Zubair bahwasanya ia mendengar Jabir berkata; Rasulullah saw melarang menembok kuburan, mendirikan bangunan di atasnya atau seseorang duduk di atasnya.” [HR. an-Nasa’i dalam as-Sunan al-Kubra No. 2166]

Ketiga hadits di atas menjelaskan bahwa Rasulullah saw melarang kita untuk mendirikan bangunan, baik permanen ataupun tidak. Jumhur ulama berpendapat bahwa larangan membangun dan menembok kuburan ini bertujuan untuk menghindari perbuatan yang dilarang atau saddu adz-dzari’ah (menutup jalan perbuatan dosa) seperti mengkultuskan, mengagungkan, dan meminta pertolongan kepada makam atau kuburan (Subul as-Salam: Kitab al-Jana’iz, hadits No. 543). Adapun beberapa faidah lain dari larangan ini adalah:

Agar tidak mempersulit generasi berikutnya untuk mendapatkan tanah pemakaman.

Agar tidak menghamburkan harta untuk perkara yang tidak bermanfaat.

Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bish-shawab.•

- Advertisement -

4 KOMENTAR

  1. Bisakah ditetapkan batas waktu? Misalkan jika tubuh mayat sudah hancur tak tersisa lagi atau memang tidak mengenal batas waktu, sekali dipake kuburan maka selamanya tanah itu “dihukumi” sebagai kuburan ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles