smamda
Bina Akidah Wawasan

Menjaga Al-Qur’an

quran

Di suatu ruang, seorang guru sedang bermain dengan murid-muridnya. Guru menggelar babud merah kemudian di tengah-tengahnya ditaruh Al-Qur’an. Guru mengibaratkan hamparan babud tersebut sebagai umat Islam dan Al-Qur’an berada di tengah-tengah dijaga oleh umat Islam. Selanjutnya guru meminta muridnya untuk mengambil Al-Qur’an dan menggantikan dengan buku lainnya, tetapi tanpa menginjak babud merah yang tergelar tersebut.   

Murid-murid pun berusaha untuk mengambil Al-Qur’an dan menaruh buku lain tanpa menginjak babud. Mereka ada yang berusaha memakai tongkat dan alat lainnya untuk mengambil tetapi tetap tidak ada yang berhasil. Kemudian setelah waktu yang disediakan habis sang Guru pun perlahan-lahan menggulung babud dari salah satu sisi dan kemudian menggantikan Al-Qur’an dengan buku lain dan kemudian menggelar babud tersebut seperti semula. Babud tidak terinjak tetapi Al-Qur’an telah tergantikan.
Inilah gambaran mayoritas umat Islam saat ini dalam hal menjaga Al-Qur’an, mereka lebih menjaga Al-Qur’an secara fisik ketimbang pengamalan ajarannya. Ketika Al-Qur’an diinjak-injak, mereka akan marah. Ketika Al-Qur’an dilumuri najis, umat akan marah. Bahkan sampul Al-Qur’an dipakai untuk terompet, umat juga akan marah. Tetapi ketika Al-Qur’an sebagai petunjuk tergantikan oleh buku atau kitab lain mereka cuek karena Al-Qur’an secara fisik tetap utuh.
Ini juga yang diprihatinkan KHA Dahlan pada saat mudanya, orang masih membaca Al-Qur’an tetapi kondisi kehidupan umat masih tercampur dengan khurafat. Ketika Al-Qur’an masih dipelajari umat Islam tetapi mutu kehidupan umat jauh tertinggal tidak sebagaimana gambaran Al-Qur’an. Umat Islam itu umat yang terbaik (khaira ummat). Tentu ini ada hal yang salah dalam diri umat.
Umat Islam dalam menjaga Al-Qur’an masih sekadar membaca secara fisik, tetapi belum sampai menjaga Al-Qur’an secara pengamalan di dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga secara fisik memang perlu tetapi menjaga ajaran dan pengamalannya juga tidak kalah perlunya. Dua hal ini perlu dijaga oleh umat, agar betul-betul menjadi umat yang terbaik.
Karenanya, saat itu KHA Dahlan melahirkan metode yang relatif berbeda dengan ulama saat itu dalam hal mempelajari Al-Qur’an. Kiai Dahlan pernah menerangkan bagaimana cara mempelajari Al-Qur’an, yaitu ambillah satu, dua atau tiga ayat, dibaca dengan tartil dan tadabbur (dipikirkan). Pertama, bagaimana artinya? Kedua, bagaimanakah tafsir keterangannya? Ketiga, bagaimana maksudnya? Keempat, apakah ini larangan dan apakah kamu sudah meninggalkan larangan itu? Kelima, apakah ini perintah yang wajib dikerjakan? Sudahkah kita menjalankannya.
Metode inilah yang melahirkan kisah yang menggegerkan pada masanya, ketika saat itu Kiai Dahlan mengajarkan kepada murid-muridnya tentang tafsir Al-Maun. Ketika harus sampai kepada pengamalan ayat, murid-murid mencari fakir miskin untuk disantuni, murid-murid mencari anak yatim untuk dipelihara. Suatu hal yang berbeda dalam hal mempelajari Al-Qur’an. Itulah sejatinya menjaga Al-Qur’an. Tidak hanya menjaga fisiknya tetapi juga menjaga ruh pengamalannya.
Menjaga Al-Qur’an yang seperti ini, adalah sebuah keharusan bagi manusia yang mengaku beriman kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf 158:

1ba

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raf 158).

Ketika orang mendapat petunjuk, sebagaimana permintaan setiap shalat “Ihdinash shiratal mustaqim” (tunjukilah kami jalan yang lurus), maka ketika telah mendapat petunjuk haruslah melaksanakannya. Ketika orang mendapat petunjuk tidak mengamalkannya, maka tidak akan mendapat dampak baginya. Sebaliknya jika setelah mendapat petunjuk mereka mengamalkannya, maka pasti ia akan menuai dampak positip dari pengamalannya. Itulah sejatinya menjaga Al-Qur’an, menjaga pengamalannya dalam kehidupan. Waallahu a’lam bishshawab.• (Lutfi Effendi)

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *