smamda
Bina Akhlaq Wawasan

Mutohharun Jinan; Memenuhi Janji

syariah-hukum-jabat-tangan-dengan-wanita-non-mahram--l

Hampir tidak ada orang yang tidak pernah berjanji, baik pada diri sendiri maupun janji kepada orang lain, baik janji besar maupun janji kecil. Janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat sesuatu (seperti memberi, membantu, bertemu, dan sebagainya). Janji dilakukan oleh siapa saja, orang biasa, pejabat, pemimpin, orang kaya, orang miskin, anak-anak, dan orang dewasa.

Hidup manusia memang tidak bisa dilepaskan dari ikatan perjanjian, terlebih menyangkut hubungan antara manusia satu dengan yang lain. Perkawinan pada dasarnya adalah ikatan perjanjian suami dan istri, jual beli adalah ikatan perjanjian penjual dan pembeli terkait hak kepemilikan barang, bekerja di perusahaan didahului dengan perjanjian pekerja dan perusahaan, menjadi pemimpin pada hakikatnya adalah perjanjian dengan rakyat untuk menyejahterakan mereka.

Perjanjian terjadi karena orang tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu secara tunai dan langsung dalam satu waktu. Kewajiban, tugas, dan tanggung jawab ada yang harus diselesaikan dalam jangka waktu yang lama dan dalam waktu yang ditentukan kemudian. Untuk mengikat supaya kewajiban dan tugas itu dapat dilaksanakan maka diperlukan janji. 

Janji juga bisa terjadi karena seseorang berhasrat ingin mencapai sesuatu. Untuk memuluskan hasratnya perlu menjanjikan imbalan berupa pemberian atau program yang menguntungkan. Seperti yang terjadi pada bulan lalu rakyat Indonesia menyelenggarakan hajatan besar, yaitu Pilkada serentak. Syukurlah Pilkada berlangsung relatif aman, lancar, tertib, dan damai. Suasana menjelang pencoblosan berlangsung, pada saat kampanye, banyak janji yang ditebar oleh para calon pemimpin kepada rakyat pemilih.

Tebaran beragam janji, jika terpilih jadi kepala daerah berjanji akan memberantas korupsi, membuat program yang berpihak kepada rakyat, dan janji-janji kebijakan lainnya untuk kemakmuran dan kemajuan masyarakat yang akan dipimpinnya. Kini saatnya rakyat untuk mengingatkan janji-janji para pemimpinnya yang terpilih. Begitu juga para pemimpin terpilih bersiap untuk menunaikan janji-janjinya. 

Janji bagaikan hutang, demikian banyak orang mengatakan. Memang benar begitulah adanya. Orang yang akan berhutang cenderung mengabaikan keberatan-keberatan bagaimana akan mengembalikannya. Berhutang terasa lebih ringan daripada melunasinya. Sebagaimana orang yang akan berhutang, janji terasa ringan diucapkan, cenderung lupa memperhatikan bagaimana nanti cara memenuhinya. 

Al-Qur’an memerintahkan agar orang-orang beriman menepati janji. “Hai orang-orang yang beriman penuhilah janji-janji itu.” (Qs Al-Maidah [5]: 1). Untuk membuktikan keimanannya seseorang hendaklah menepati janji-janjinya. Baik janji kepada Allah dan Rasul-Nya, janji kepada sesama manusia, janji kepada diri sendiri, bahkan semua janji yang tidak mengandung pengharaman yang halal dan penghalalan yang haram.

Perintah ayat tersebut sangat menekankan perlunya memenuhi janji secara sempurna, bahkan bila perlu dipenuhi secara lebih dari ucapan janjinya. Menepati janji adalah barometer yang dengannya diketahui orang yang baik dari yang jelek, dan orang yang mulia dari yang rendahan. Bahkan, saking pentingnya, menepati janji tidak terbatas hanya sesama kaum Muslimin, terhadap kaum non-Muslim pun demikian. Sekian banyak perjanjian yang telah diikat antara Nabi Muhammad saw dan orang-orang kafir dari Ahlul Kitab dan musyrikin, tetap beliau jaga, sampai mereka sendiri yang memutus tali perjanjian itu. Begitulah antara lain pesan firman Allah (Qs At-Taubah [8]: 4).

Sebaliknya, mengingkari janji sangat dikecam karena harmoni hubungan sosial akan terancam, rasa aman akan hilang, pertikaian akan sulit dihindari jika janji-janji tidak dipenuhi. Karena itu, dalam hubungan sesama manusia, hukuman dan konsekuensi ingkar janji ditetapkan menurut kadar perjanjiannya. Antara janji besar dan janji kecil tidak terlalu berbeda. Saat tidak ditepati kedua-duanya berpotensi menyebabkan suatu kerugian yang besar.

Rasulullah Muhammad saw juga memperingatkan akan bahaya batin dari ingkar janji sebagai kanker spiritual yang dapat menggerogoti iman seseorang. Disebutkan dalam Haditsnya bahwa “di antara tanda-tanda kemunafikan seseorang adalah apabila berbicara berdusta, apabila berjanji mengingkari, dan jika dipercaya menghianati.” (HR Muslim). Kemunafikan pada hakikatnya adalah cikal bakal penyimpangan terhadap kebenaran, dan hal ini pula menjadi pangkal kehinaan. 

Menepati janji bagian dari kebajikan yang memelihara kemuliaan. Menepati janji adalah suatu kebijaksanaan yang mutlak harus dilakukan, dan tidak mengumbar janji adalah salah satu bentuk kebijaksanaan lainnya. Manusia menjadi mulia saat menepati satu janji, bukan saat mengucapkan seribu janji.• 

________________

Mutohharun Jinan, pengasuh Pondok Shabran dan dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *