smamda
Bina Akhlaq Wawasan

Muhsin Hariyanto; Bercermin Pada Kisah Abu Lahab

urwah

KISAH yang tertuang dalam rangkaian ayat Al-Qur’an ternyata sangat indah dan “bisa” memberi inspirasi yang tak ternilai bagi siapa pun yang mau bertadabur dengan ayat-ayat itu. Tak terkecuali kisah Abu Lahab dalam Qs. Al-Lahab.
Dikisahkan dalam kajian tafsir Qs Al-Lahab, bahwa ketika turunnya ayat 214, Qs. Asy- Syu’arâ’ (26), “dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”, Rasulullah saw keluar hingga naik ke atas bukit Shafa dan berseru, “Wahai sekalian manusia.” Orang-orang Quraisy pun bertanya, “Siapakah orang ini?” Akhirnya mereka pun berkumpul bersama beliau. Beliau pun bersabda, “Bagaimana pendapat kalian, jika aku mengabarkan, bahwa di balik bukit ada pasukan berkuda yang akan segera keluar (menerkam), apakah kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab, “Ya, kami belum pernah mendengar bahwa kamu berdusta.” Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan bagi kalian, bahwa di hadapanku ada adzab yang sangat pedih.” Maka Abu Lahab pun (spontan) berkata, “Celaka kamu (wahai Muhammad). Apakah hanya lantaran ini kamu mengumpulkan kami?” Setelah itu, ia langsung beranjak, dan turunlah firman Allah, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.” (HR al-Bukhari dari Abdullah bin Abbas, Shahîh al-Bukhâriy, juz VI, hal 221. hadits no. 4971)
Abu Lahab—paman Rasulullah saw—adalah “penentang dakwah Islam” yang amat keras, melebihi dari “kerasnya penentangan” para penentang yang lain. Bahkan —kata para sejarawan— melebihi sikap Abu Jahal yang dikenal sebagai seteru abadi Rasulullah saw. Sikapnya itu diikuti juga istrinya
Bahkan Abu Lahab —di kemudian hari— “meninggal dunia” dalam keadaan sangat mengenaskan, karena terlalu sakit hati ketika mendengar ke­kalahan kaum Quraisy dalam pepe­rangan Badar. Mendengar berita duka itu, dia sangat kecewa. Kekesalan dan kekecewaannya—menurut kisah yang diceritakan para sejawaran—tersimpul di wajah jenazahnya. Sedang istrinya pun mendapatkan nasib sebagaimana yang dialami suaminya. Upayanya untuk menghalangi dak­wah, yang antara lain dilakukan dengan cara memfitnah Rasulullah saw, mengalami “kegagalan”.
Pelajaran yang sangat berharga yang bisa kita peroleh dari kisah ini, antara lain. Pertama, ketika kesombongan dan hasad (iri dan dengki) telah melekat pada diri seseorang, maka seseorang akan terhalang untuk mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah SwT. Meskipun Abu Lahab dan istrinya sebenarnya bisa memahami “esensi kebenaran” ajaran Islam yang didakwahkan Nabi Muhammad saw, namun—karena dorongan hawa nafsunya—dia memilih untuk bersikap sama dengan “Fir’aun”, yang—dengan sombong dan kedengkiannya—menentang dakwah Nabi Musa as. Dan siapa pun yang “mengulangi” perbuatan Abu Lahab (dan juga istrinya) kapan pun dan di mana pun, serta dengan cara apa pun akan mengalami nasib yang sama dengan Abu Lahab dan istrinya, terjauhkan dari hidayah dan taufik (dari) Allah.
Kedua, setiap penentang kebe­nar­an yang datang dari Allah—de­ngan cara apa pun—akan selalu mengalami kegagalan dalam setiap upayanya. Dan bahkan—pada akhir­nya—akan mendapatkan adzab dari Allah, sebagaimana yang telah dialami Abu Lahab dan istrinya.
Nah, “apakah kita—saat ini—akan mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan Abu Lahab?” Tentu saja ja­wabnya, “Tidak!” Sebagai pengikut setia Rasulullah saw—tentu saja—kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan “duplikat Abu Lahab”. Kita hadapi makar Abu Lahab-Abu Lahab kontemporer yang selalu akan berusaha menghambat dakwah Islam de­ngan sikap sabar dan tawakal. Karena Abu Lahab sebagaimana Fir’aun dan orang-orang yang menentang dakwah para Rasul Allah memang telah tiada. Namun bukan berarti karakter yang mereka miliki tak kan pernah bisa terwariskan kepada siapa pun. Hingga kapan pun di belahan bumi ini akan selalu ada “manusia” yang berkarakter seperti Abu Lahab dengan sejumlah kroninya yang mungkin saja lebih berbahaya dari pada Abu Lahab yang pernah menjadi “seteru” Rasullullah saw dan umat Islam pada masa itu, karena mereka bisa belajar dari kegagalan Abu Lahab dan berupaya untuk memperbaiki strategi perjuangannya untuk mengalahkan para pengikut Rasulullah saw, di mana pun dan kapan pun.
Kepada Allah kita bermohon. Semoga Allah senantiasa berkenan menyertai perjuangan para da’i yang senantiasa bersikap istiqamah untuk beramar ma’ruf nahi munkar di te­ngah “tantangan” para manusia yang mungkin saja tengah dikitari sejumlah orang yang berkarakter seperti Abu Lahab. Āmîn Yâ Mujîbas Sâilîn.•

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *