Menyikapi Undangan Tahlilan

Pertanyaan Dari: Siswo S., Mojokerto, Jawa Timur

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Sebagai warga yang hidup dan berada di lingkungan yang mayoritas masih kental dengan nuansa tradisi-tradisi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, pada kesempatan ini saya ingin menanyakan yang ada kaitannya dengan hal-hal tersebut khususnya mengenai selamatan tahlilan orang yang meninggal.

Biasanya kalau ada warga yang meninggal, pada waktu selesai upacara pemakaman disampaikan kepada hadirin, bahwa ada tahlilan sampai dengan hari ke-7. Sedang untuk hari ke-7 dan ke-40 ada undangan tertulis untuk menghadiri selamatan tahlilan.

Pertanyaannya:

  1. Bagaimanakah kita menyikapi hal tersebut, khususnya yang memakai undangan?
  2. Jika kami datang untuk menghormati yang mengundang, apakah kami juga ikut membaca / mengikuti upacara tersebut ataukah cukup diam dan mendengarkan?
  3. Apa yang harus kita lakukan bila ada salah satu keluarga yang meninggal, karena mengingat mayoritas lingkungan / kompleks masih kuat melaksanakan tradisi tahlilan tersebut?

 

Jawaban:

Pertanyaan tentang selamatan tahlilan orang yang meninggal sudah beberapa kali ditanyakan di Majalah Suara Muhammadiyah. Di antara jawaban yang diberikan telah dimuat dalam buku Tanya Jawab Agama II halaman 196 dan 197. Namun untuk menjawab ketiga pertanyaan di atas, perlu kami jelaskan sebagai berikut.

Tradisi selamatan 7 hari, 40 hari, 100 hari maupun 1000 hari untuk orang yang meninggal dunia, sesungguhnya merupakan tradisi yang tidak ada sumbernya dari ajaran Islam.

Adapun tahlil, secara harfiah mengandung arti membaca kalimat la ilaha illallah atau mengingat Allah. Tahlil dalam konteks ini, tentu merupakan amalan utama yang sangat dianjurkan oleh al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Adapun keberadaan tahlil orang yang meninggal dunia pada dasarnya tidak bisa dilepaskan dari tradisi tarekat. Tahlil memiliki fungsi yang sangat sentral bagi pengikut tarekat, sehingga terdapat gerak-gerak tertentu disertai pengaturan nafas untuk melafalkan bacaan tahlil sebagai bagian dari metode mendekatkan diri pada Allah.

Berawal dari tradisi tarekat ini berkembanglah model-model tahlil atau tahlilan di kalangan umat Islam Indonesia. Di lingkungan Keraton terdapat tahlil rutin, yaitu tahlil yang diselenggarakan setiap malam Jum’at dan Selasa Legi; tahlil hajatan, yaitu tahlil yang diselenggarakan jika Keraton mempunyai hajat-hajat tertentu seperti tahlil pada saat penobatan raja, labuhan, hajat perkawinan, kelahiran dan lainnya. Di masyarakat umum juga berkembang bentuk-bentuk tahlil dan salah satunya adalah tahlil untuk orang yang meninggal dunia.

Masalah tahlilan orang yang meninggal dunia merupakan masalah khilafiyah (terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama). Di kalangan para pendukung gerakan Islam pembaharu (tajdid) seperti Muhammadiyah, sepakat memandang tahlilan orang yang meninggal dunia sebagai bid’ah yang harus ditinggalkan karena tidak ada tuntunannya dari Rasulullah. Adapun para pendukung gerakan Islam tradisional maupun gerakan tarekat, cenderung membolehkan dan bahkan menganjurkan tahlilan bagi orang yang meninggal dunia.

Esensi pokok tahlilan orang yang meninggal dunia sebagai perbuatan bid’ah bukan terletak pada membaca kalimat la ilaha illallah, melainkan pada hal pokok yang menyertai tahlil, yaitu ; (1). Mengirimkan bacaan ayat-ayat al-Qur’an kepada jenazah atau hadiah pahala kepada orang yang meninggal, (2). Bacaan tahlil yang memakai pola tertentu dan dikaitkan dengan peristiwa tertentu.

Terdapat beberapa argumentasi untuk menolak praktik tahlilan. Pertama, bahwa mengirim hadiah pahala untuk orang yang sudah meninggal dunia tidak ada tuntunannya dari ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis Rasul. Ketika tidak ada tuntunannya, maka yang harus dipegangi adalah sabda Rasulullah yang berbunyi :

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. [رواه مسلم وأحمد]

Artinya : “Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan (agama) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak.” [HR. Muslim dan Ahmad]

Bahkan hadis Rasul menegaskan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ. [رواه مسلم]

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: Apabila manusia telah mati, maka putuslah segala amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat baginya, dan anak saleh yang mendoakannya.” [HR. Muslim]

Kedua, terdapat ayat-ayat al-Qur’an yang menegaskan bahwa manusia hanya akan mendapatkan apa yang telah dikerjakannya sendiri. Dengan demikian masalah hadiah pahala jelas bukan merupakan suatu tuntunan yang perlu dilaksanakan. Adapun ayat-ayat tersebut adalah :

  1. Di dalam surat an-Najm (53): 39 Allah SWT berfirman:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى. [النجم (53): 39]

Artinya: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” [QS. an-Najm (53): 39]

  1. Surat ath-Thur (52): 21 menegaskan:

وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ. [الطور (52): 21]

Artinya: “Dan Kami (Allah) tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka, tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” [QS. ath-Thur (52): 21]

  1. Surat al-Baqarah (2): 286 menegaskan:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ. [البقرة (2): 286]

Artinya: “Allah tidak akan membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya; ia mendapat  (pahala dan kebajikan) yang diusahakan/dikerjakannya; dan ia mendapat (siksa/dosa dari kejahatan) yang diusahakan/dikerjakannya.” [QS. al-Baqarah (2): 286]

  1. Surat al-An’am (6): 164 menegaskan:

وَلاَ تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلاَّ عَلَيْهَا وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى. [الأنعام (6): 164]

Artinya: “Dan tidaklah seseorang membuat dosa melainkan kemudaratannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” [QS. al-An’am (6): 164]

Terhadap pertanyaan bapak yang pertama, tentang bagaimana menyikapi undangan tahlilan kematian, maka bisa saja bapak minta ijin untuk tidak ikut tahlilan dengan alasan paham agama bapak tidak membolehkan tahlilan untuk kematian. Secara organisatoris, sikap ini merupakan sikap yang paling ideal, yaitu tunduk pada paham agama yang diyakini oleh Muhammadiyah. Jika hal di atas tidak mungkin dilakukan dan harus menghadiri tahlilan untuk menghormati yang mengundang (menjawab pertanyaan kedua), maka hendaklah bapak bersikap pasif. Terhadap pertanyaan ketiga, ketika mayoritas lingkungan masyarakat masih kuat melaksanakan tradisi tahlilan, maka kedua sikap di atas bisa dipilih. Tentu bapak  lebih tahu tentang kondisi lingkungan di mana bapak berdomisili.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

___________

Semua pertanyaan dijawab oleh Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah
e-mail: tarjih_ppmuh@yahoo.com

11 COMMENTS

  1. Kalau di kampung kami ketidaksukaan orang NU kpd Warga Muhammadiyah sampai pada tidak mau membantu pembangunan mushola/ masjid warga Muhammadiyah

      • Assalamu Alaikum, jika kasusnya seperti itu sangat merugikan bagi masyarakat muslim, supya akur harus disosialisasikan bahwa ini adalah masalah khilafia, jika kedua pihak menganggap ini bukan khilafia yah wajar aja seperti itu, Muhammadia menganggap itu bid’ah dan NU tdk terima dikatakn bid’ah, jd seolah olah muhammadia punya rumah ibadah sendiri dan NU punya rumah ibada sendri, coba kita pikir apakah kita membantu membangun rumah ibadah padahal saling membenci, jika ini tdk dianggap khilafia ya harus siap jalani seperti hidup berdampingan muslim dan non muslim. Ayo kuatkan Ukhuwah Muslimin .

  2. salam. bapak Siswo S., Mojokerto, Jawa Timur saya mencoba membantu menjawab pertanyaan dr bapak.
    1.sikap kita tetap menghormati yg mengundang dan tetap baik
    2.jika bapak memahami bahwa tidak diperkenankan tahlilan maka bapak tidak menghadiri dg minta izin disampaikan dg sopan dan baik bahwa ada acara klga, jd ketika jam tahlilan tersebut bapak dan klga kemana gitu mengadakn acra sendiri. jd menolaknya bukan langsung disampaikan karna paham agama saya tidak memperkenankan tahlilan bukan. hal ini merupakn cara berdakwah jga dg tdk frontal.dan itu pun sudah dibuktikan dg papa saya.hasilnya masyarakat tetap menghormti papa dan tdk membencinya. yg ptg hubungan tetap terjaga baik.
    3.jika bapak sudah yakin klo tahlilan itu bapak dan klga memahami dan meyakini tdk diperkenankan dlm agama maka klga bapak tetap tdk menggunakan tahlilan akan tetapi msl menggunakan tiga hari pd awal hari itu disampaikan dg baik ato ceramah diawal bahwa klga kami demikian dan bsa nanti klga jika ada rizki lbh berbagi dg tetangga. sehingga hubungan dg masyarakt tetap baik.dan itu sdh terbukti dilakukan oleh kakak sy waktu mb saya meninggal.maaf dan mksh hanya sharing pengalaman sj.semga bermanfaat

  3. Semua tergantung pada sikap kita. Muhammadiyah telah memberikan tuntunan terkait dengan amalan dalam beribadah. Sebagai warga Muhammadiyah, sdh seharusnya kita mengamalkan tuntunan dalam beribadah tersebut.
    Kebetulan saya dari keluarga besar, 10 saudara dari ibu dan bapak yg sama. Dari sepuluh keluarga tsb ada 3 keluarga yg warga Muhammadiyah dan 7 saudara jadi warga NU. Awalnya sikap saya yg menjalankannya amalan sebagaimana Muhammadiyah tuntunkan mendapat perlawanan dari keluarga yg NU. Terutama saat ibu dan bapak meninggal, krn saudara yg NU minta ditahlili tapi dari yg Muhammadiyah tidak mau. Akhirnya saya adakan musyawarah keluarga dan saya sampaikan bahwa ini masalah Khilafiyah. Bagi yg mau tahlili dipersilahkan dan bagi yg tidak mau juga dipersilahkan dan tidak akan dikucilkan. Sikap ini akhirnya menyadarkan bagi semua keluarga bahwa boleh berbeda sesuai keyakinan nya dan masalah kekeluargaan tetap terjalin dg baik.
    Berangkat dari sini, akhirnya masyarakat sekitar saya yang mayoritas NU, juga mulai menghargai perbedaan tsb tanpa harus saling mengganggu, krn kelurga saya yg NU turut menjelaskan keberadaan saya yg Muhammadiyah. Dan saat ini kalau ada undangan tahlilan orang mati, saya selalu tidak diundang. Tapi kalau ada kondangan hajatan manten saya selalu diundang. Dan yg menyejukkan, 3 tahun yg lalu warga yg mayoritas NU itu meminta saya untuk menjadi ketua RT.
    Jadi, ayo kita berbangga menjadi warga Muhammadiyah tanpa harus menjelekkan keyakinan umat Islam yg tidak Muhammadiyah. insya Alloh kita akan diterima ditengah2 masyarakat tanpa harus takut menyampaikan….’ saya warga Muhammadiyah…’

  4. Syukur Alhamdulillah….
    Anak anak dan pengurus PAM (Panti Asuhan Muhammadiyah ) di tempat kami berkenan hadir menuhi undangan tahlilan…empat puluh hari dsb.

  5. Alhamdulillah saya seblumnya NU dan sekarang saya lebih meyakini paham MUHAMMADIYAH. Mohon pencerahan nya apa yang harus saya laku untuk kedepannya.

  6. “Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan (agama) yang tidak ada perintahku untuk melakukannya, maka perbuatan itu tertolak.” [HR. Muslim dan Ahmad]

    Jika memang semua disamakan jaman dulu, berarti yang menikah diatas usia 25th adalah BID’AH. kenapa ? karena nabi menikah di usia 25th. bagi yang menikah dengan mahar yang minim berarti BID’AH. kenapa ? karena nabi menikahi siti khadijah dengan mahar 20 Ekor Unta.

    jika acuanya dalil itu dan ditelan mentah², Semua yang kalian lakukan adalah BID’AH. karena sekarang pada pakai mobil sedangkan nabi dulu memakai unta, kuda, bahkan jalan kaki.

    kalau memang tetap memahami dalil dengan mentah, disitu tertulis kalau tidak diperintahkan nabi maka perbuatan itu ditolak. Termasuk menikah diatas 25, apakah diperintahkan ? termasuk kalian memakai internet, memakai mobil, memakai hp, apakah diperintahkan ? TIDAK.

    jika tahlilan dianggap BID’AH, dengan alasan itu tidak diperintahkan oleh nabi, lalu dianggap apa kehidupan kalian? yang terus memakai internet, memakai kendaraan, memakai hp, dll. apa ? adakah perintah nabi untuk memakai semua itu ? bahkan jelas² hp, kendaraan, dll yang kalian pakai adalah dibuat dari orang non muslim. kenapa masih dipakai ? internet kenapa masih dipakai ?
    tolong bisa dijelaskan.

    • Bidah yg di maksud rosululloh adlh bidah dlm masalah agama atau peribadatan. Sabda rosululloh:” kalian lebih tahu dlm masalah dunia kalian”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here