Mutiara

Pancasila dan Jalur Helm

kh-abdul-razaq-fachruddin-_150508174513-704
Shares

Menjelang Muktamar Solo (1985) Pak AR ditugasi PP Muhammadiyah untuk menghadap Pak Harto untuk mengundang beliau untuk memberi sambutan sekaligus membuka muktamar.

Setelah berbasa-basi, Pak AR menyampaikan pesan PP Muhammadiyah kepada Pak Harto, dan terjadilah dialog kira-kira sebagai berikut.  Kata Pak Harto ; “Saya bersedia  hadir, asal Muhammadiyah menerima Pancasila sebagai  azas organisasi”.

Kata Pak AR, “ Saya tidak bisa memutuskan, karena hal itu merupakan masalah prinsip, keputusannya di muktamar nanti”

Kata Pak AR selanjutnya : “Karena masalah itu baru akan dibicarakan dalam muktamar, sebaiknya Pak Harto hadir, memberi pengarahan tentang  azas tunggal itu”

“Ya tapi harus ada kepastian, bahwa Muhammadiyah bersedia menerima azas Pancasila” kata pak Harto.

“Begini” kata Pak Harto terus memberi uraian panjang lebar yang intinya  kira-kira , karena negara Indonesia ini berdasarkan Pancasila, maka semua organisasi dan perkumpulan supaya juga menggunakan Pancasila sebagai azas. Artinya karena semua orang dan organisasi di Indonesia ini mempunyai tujuan yang sama, ketika berjalan juga harus menggunakan azas atau dasar aturan yang sama.

Lalu Pak AR nyletuk ; “Apa kira-kira boleh diibaratkan seperti kalau orang  naik kendaraan di jalur helm, sehingga semua pengemudi motor yang lewat di situ harus pakai helm?”

“Em, ya kira-kira begitu walau tidak persis. Misalnya saja sebutkan Muhammadiyah itu organiasi Islam, beraqidah Islam dan berazas Pancasila. Kan tidak apa-apa, tidak merubah keyakinan kita sebagai orang  Islam” Kata Pak Harto.

“Sekali lagi” kata Pak AR.

“Jadi bisa diumpamakan seperti  pengemudi motor di jalur helm tadi?”  “Saya kira tidak masalah” kata pak Harto.

“Baik, kalau begitu  kami menunggu kehadiran Bapak untuk membuka muktamar sekaligus memberi pengarahan” kata Pak AR sambil pamitan  “Asal Muhammadiyah bersedia menerima azas Pancasila” kata Pak Harto lagi.

“Seperti di jalur helm” kata Pak AR sambil tersenyum Pak Harto pun tersenyum.

Ketika muktamar berlangsung muncul-lah dikoran-koran head line sekitar jalur helm.

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

2 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Pencipta Pancasila Sila 1. Ketuhanan Yang Mahaesa, adalah : Ki Bagus Hadikusumo ( Ketua Umum PB Muhammadiyah ).
    Tokoh2 yg berjasa dalam Sila 1 Pancasila yaitu Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo.
    Walaupun Sejarah ini , banyak anak bangsa yg belum mengetahui, walaupun seorang Sejarawan sekalipun.

  • […] Muktamirin akhirnya sepakat memasukkan penjelasan bahwa Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah keimanan kepada Allah Subhanahu wata’ala (Tauhid). Muhammadiyah akhirnya menerima Pancasila sebagai asas pada pasal 2 dalam suasana tekanan rezim. Muhammadiyah juga bersiasat dengan menyebutkan di pasal 1 yang menegaskan ciri dan identitas Muhammadiyah yaitu berakidah Islamiyah yang bersumber pada Al Qur’an dan Sunnah. (Sufyan, Fikrul Hanif: 2014) Pak AR mengibaratkannya azas tunggal seperti helm, seperti kalau orang naik kendaraan di jalur helm, sehingga semua pengemudi motor yang lewat di situ harus pakai helm. (http://www.suaramuhammadiyah.id/2016/03/30/pancasila-dan-jalur-helm/) […]

  • web-ad_kld-2019.jpeg
  • webad_pasang-iklan.gif
  • WebAds_deamilela_thumb.jpeg
  • SS-web1.jpg