IMG_6907
Berita Dinamika persyarikatan

Sangat Mungkin Awal Ramadhan Bersamaan

YOGYAKARTA– Kalau melihat hasil hisab Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yaitu jatuhnya 1 Ramdhan pada 6 Juni 2016, dimungkinkan awal puasa akan bersamaan karena hasil perhitungan menunjukan +4 derajat di atas ufuk. Hal itu disampaikan Prof Yunahar Ilyas Ketua PP Muhammadiyah pada Konferensi Pers penetapan awal Ramdhan di kantor PP Muhammadiyah Senin (18/4).

Menurutnya, metode yang digunakan Kementrian Agama selama ini adalah imkanu rukyat +2 derajat. “Jadi insyaallah awal Ramadhan tidak akan berbeda”, jelas Yunahar.

Sedang untuk 1 Syawal, lanjut Yunahar, hasil hisab Muhammadiyah menunjukan 4 Juli 2016 pukul 18:03:20 WIB hilal belum wujud karena -01 derajat. Saat terbenam matahari bulan berada di bawah ufuk. Karena itu kemudian Muhammadiyah memutuskan 1 Syawal 1437 H jatuh pada 6 Juli 2016. “Tentu ini memungkinkan juga idul fitri bersama karena pemerintah dengan kriteria +2 derajatnya akan menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari”, paparnya.

“Munkin hal serupa akan terjadi kembali pada jatuhnya tanggal puasa Arafah dan 10 Zulhijah (Idul Adha)” kata Yunahar.

Berdasarkan hisab Muhammadiyah, sambung Yunahar, 1 Zulhijah jatuh pada Sabtu Legi, 3 September 2016, hari Arafah 11 September, dan Idul Adha 12 September 2016. “Namun bersamaan atau tidaknya 1 Zulhijah itu tentu sangat bergantung pada kebijakan pemerintah Arab Saudi yang menggunakan Rukyat Murni”, ucapnya.

Hal serupa juga dijelaskan Drs Oman Fathurrohman Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah pada forum itu. Menurutnya, melihat kriteria yang berlaku di Indonesia, baik Ramadhan, Syawal, maupun Zulhijah, sangat dimungkinkan jatuhnya akan bersamaan. “Khusus Zulhijah, ada kemungkinan bisa berbeda dengan Arab Saudi”, katanya.

Berdasarkan penjelasan Oman, saat hari ijtimak di Indonesia, posisi bulan sudah terbenam sehingga lusa baru bisa ditetapkan sebagai 1 Zulhijah. Sedang pada hari ijtimak di Arab Saudi, bulan sudah berada di atas ufuk. Jika dimungkinkan di Arab Saudi berhasil melihat hilal, maka di sana harinya lebih maju di banding Indonesia. “Jika Zulhijahnya maju, maka puasa Arafah dan Idul adhanya juga akan maju”, jelasnya. (gsh)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *