Haedar Nashir : Bung Karno Cinta Muhammadiyah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Quo Vadis Fortasi Daring?

Oleh : Fathin Robbani Sukmana Pandemi Covid-19 hingga saat ini belum juga pergi dari Indonesia, beberapa daerah di Indonesia...

Kisah Mahasiswa UMM dalam Tugas Kemanusiaan Relawan Covid-19

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Semenjak mewabahnya COVID-19 di Indonesia, tidak sedikit rumah sakit yang kewalahan baik secara manajemen maupun sarana prasarana dalam...

Kolaborasi MCCC – Aisyiyah Deli Serdang Edukasi Lansia Pencegahan Covid-19

LUBUK PAKAM, Suara Muhammadiyah - Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Deli Serdang bersama MCCC Kabupaten Deli Serdang melaksanakan edukasi pencegahan Covid-19 kepada...

Wakil Rektor UM Jember: Perkuat SDM dan IT Hadapi New Normal

JEMBER, Suara Muhammadiyah - Indonesia tengah menuju kenormalan baru atau New Normal. Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember), Drs Akhmad...

RSI Cempaka Putih Terima APD dari PDIP DKI Jakarta

Sebagai bentuk gotong royong dalam menanggulangi wabah Covid-19, DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta memberikan bantuan Alat Pelindung Diri...
- Advertisement -

YOGYAKARTA— Bung Karno melalui pidatonya pernah mengucapkan, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun saya simpati kepada Kiyai Ahmad Dahlan sehingga saya nginthil kepadanya. Tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah. Tahun 1946 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah. Tahun 1962 ini saya berkata moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Swt, dan jika saya meninggal saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah di atas kain kafan saya. Peryataan panjang Bung Karno itu dibacakan Dr Haedar Nashir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam sambutanya pada Rakernas PP Aisyiyah di Yogyakarta, Jum’at (22/4).

Menurut Haedar, hubungan Bung Karno dengan Muhammadiyah sangatlah spesial. Sejak muda, mulai tahun 1915-an sampai 1918-an, Bung Karno berkali-kali bertemu dengan Kiyai Dahlan. Kala itu Bung Karno ngekos di rumah Cokroaminoto. Sejak itulah Bung Karno merasakan betul getaran Islam inspiratif, Islam perubahan yang diajarkan oleh Kiyai Dahlan.

Kemudian, sambungnya, ketika Bung Karno dibuang di Ende, Bung Karno banyak berdiskusi dengan tokoh-tokoh Islam. Dari pergaulanya dengan tokoh-tokoh Islam selama masa pengasingan itu, Bung Karno melahirkan gagasan “Memudahkan Pemikiran Islam” yang menjadi inspirasi dan perdebatan panjang para tokoh Islam di eranya dan era sesudahnya. “Pemikiran inilah yang mempertemukan Bung Karno dengan Kiyai Dahlan dan Muhammadiyah”, terang Haedra.

Bung Karno, lanjut Haedar, pernah mengatakan, karena merasakan betul semangat Islam yang membakar yang dibawa oleh Kiyai Dahlan, Bung Karno tertarik dengan Muhammadiyah. “Bahkan karena itu pula Bung Karno mengatakan saya nginthil kepada Kiyai Dahlan”, jelasnya.

Nginthil itu artinya kader yang sejati, yang secara informal memiliki kedekatan spiritual dan kedekatan personal dengan Kiyai Dahlan tanpa harus bertemu langsung kepadanya”, papar Haedar.

Selanjutnya, ketika Bung Karno di Bengkulu, Bung Karno bertemu dengan Fatmawati muda, anak dari keluarga Muhammadiyah yang ayahnya adalah aktivis Muhammadiyah. “Melalui Muhammadiyah inilah Bung Karno dan Fatmawati menyemaikan benih-benih perjuangan dan pemikiranya untuk bangsa Indonesia”, ucap Haedar. (Ns/gsh)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -