Khazanah

Nabi Musa as; Berhadapan dengan Fir’aun

kisah-kisah-islam

Oleh; Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA 

Dalam Surat Thaha ayat 47-48 yang sudah dikutip pada tulisan sebelumnya Allah SwT memerintahkan kepada Musa dan Harun–’alaihima as-salam– untuk pergi menemui Fir’aun dengan misi utama membebaskan Bani Israil dan meminta Fir’aun jangan lagi menyiksa mereka. Rejim Fir’aun memperbudak Bani Israil. Mereka dipaksa bekerja mendirikan bangunan-bangunan besar dan juga mendirikan kota-kota baru. Musa dan Harun meminta Fir’aun menghentikan semua itu.
Setelah Musa dan Harun diberi kesempatan untuk menghadap Fir’aun, penguasa Mesir itu, Musa memperkenalkan diri terlebih dahulu bahwa mereka berdua adalah utusan Tuhan. Dalam ayat disebutkan: “Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu.” Perhatikan, Musa tidak hanya menyebut utusan Tuhan, tetapi secara jelas menyebut kata ganti orang kedua, yaitu kamu. Penyebutan kalimat Tuhanmu itu mengingatkan kepada Fir’aun secara tidak langsung bahwa dia bukan Tuhan sebagaimana yang diakuinya selama ini.
Setelah memperkenalkan diri, Musa langsung menyampaikan maksud utama kedatangannya, yaitu meminta Fir’aun membebaskan Bani Israil yang selama ini diperbudak. Musa menyatakan dengan gamblang: “maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka.”
Selanjutnya Musa menyampaikan bahwa mereka berdua punya bukti kenabian dan kerasulan: “Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu.” Bukti yang diperlihatkan Musa adalah dua hal yang telah diperlihatkan oleh Allah SwT waktu beliau berada di Lembah Suci Thuwa yaitu tongkat bisa menjadi ular dan kedua tangan Musa bercahaya setelah dimasukkan ke dalam leher bajunya. Mukjizat yang diperlihatkan Musa itu oleh Fir’aun hanya dipandang sebagai sihir belaka yang menurut anggapannya gampang dikalahkan.
Setelah memperlihatkan bukti kenabian, Musa menyatakan pesan yang bersifat umum yang berlaku untuk siapa saja yaitu: “keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.” Ucapan seperti ini pulalah nanti yang disampaikan Nabi Muhammad saw kepada Kaisar Heraklius dan penguasa lain dalam surat beliau mengajak mereka masuk Islam. Bedanya kalau ucapan Musa kepada Fir’aun diikuti ancaman walaupun secara halus: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling. “
Masalah pertama yang menarik perhatian Fir’aun adalah tentang Tuhan. Selama ini Fir’aun mengklaim dirinya adalah Tuhan. Sekarang Musa dan Harun datang mengakui sebagai Utusan Tuhan. Lalu siapa Tuhannya Musa dan Harun tersebut. Masalah Tuhan itu lah yang pertama kali ditanyakan Fir’aun kepada Musa. Allah SwT berfirman:

1
“Fir’aun berkata: “Maka siapakah Tuhanmu berdua, hai Musa?” (Qs Thaha [20]: 49)
Nabi Musa menjawab:

2
Musa berkata: ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian memberinya petunjuk.’ (Qs Thaha [20]: 50)
Selama ini Fir’aun mengaku dan merasa jadi Tuhan karena dia yang berkuasa di bumi Mesir, perintahnya yang ditaati, larangannya ditakuti, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya. Dalam istilah Buya Hamka (Tafsir Al-Azhar, XVI: 167), hitam kata Fir’aun, hitam. Putih katanya, putih. Tidak siapa dapat membantah. Tetapi jawaban Musa tentang Tuhan membuat Fir’aun mati langkah. Hal yang tidak pernah terbayangkan oleh dia sama sekali. “Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.”
Fir’aun tentu menyadari bahwa dia tidak akan bisa melakukan itu. Bapak dan kakeknya serta raja-raja sebelumnya tentu juga tidak pernah mempunyai kekuasaan seperti itu. Menurut  Hamka, Musa telah membawanya ke daerah yang Fir’aun tidak ada kuasa sama sekali menentukannya. Kata Musa: “Tuhan kami yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya.” Tiap-tiap sesuatu, termasuk manusia, termasuk hewan yang merangkak di atas bumi, burung yang terbang di udara. Fir’aun tidak pernah turut menentukan bentuk manusia itu, dan bentuk binatang dan bentuk burung dan bentuk apa saja. Sungai Nil yang dibanggakannya mengalir di bawah kakinya, telah mengalir juga jauh  sebelum Fir’aun lahir ke dunia dan akan mengalir terus kelak, walaupun sesudah Fir’aun mati.” (Tafsir Al-Azhar, XVI: 167)
Allah SwT tidak hanya menentukan, tetapi juga memberi petunjuk. Masing-masing diberi petunjuk yang sesuai dengan masing-masing jenis makhluk. Binatang diberi instink untuk mencari makan, kawin dan berkembang biak, serta kemampuan untuk mempertahankan kehidupan mereka. Manusia diberi fitrah, panca indera, akal pikiran dan diturun Nabi membawa wahyu untuk membimbing kehidupan mereka.
Merasa tidak bisa membantah dan menandingi Tuhannya Musa dan Harun, Fir’aun menanyakan tentang umat-umat yang lalu. Allah SwT berfirman:

3
”Fir’aun berkata: ”Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?” (Qs Thaha [20]: 51)
Dalam pikiran Fir’aun jika mempertuhankan dirinya itu salah, dan akan disiksa dalam neraka, lalu bagaimana nasib nenek moyangnya pada masa lalu, apakah akan disiksa juga di neraka kelak?
Musa menjawab dengan agak panjang pertanyaan Fir’aun tersebut. Allah SwT berfirman:

4
5
6

”Musa menjawab: “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab. Tuhan kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa;  Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.  Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.  Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain,” (Qs Thaha [20]: 52-55).
Panjang lebar Musa menjawab pertanyaan Fir’aun. Dia menjelaskan bahwa segala sesuatu apa yang akan terjadi sudah ditulis oleh Allah SwT di Lauh Mahfuzh; Allah tidak akan pernah salah dan lupa. Sebagai Rabb, Allah SwT telah mengatur alam semesta ini demikian sempurna dan indah. Dia yang menciptakan bumi seperti hamparan, sehingga umat manusia bisa hidup di atas permukaannya. Dia yang menyediakan semua kebutuhan manusia, menurunkan air hujan yang sangat diperlukan dalam kehidupan, baik bagi tumbuh-tumbuhan, binatang, apalagi manusia.
Penjelasan panjang lebar Musa tidak diterima oleh Fir’aun. Dia mendustakan dan menolaknya, sekalipun sudah dikemukakan kepadanya bukti-bukti atau mukjizat yang dianugerahkan Allah SwT kepada Musa, yaitu tongkat bisa menjadi ular dan tangan yang bercahaya. Allah SwT berfirman:

7
“Dan sesungguhnya Kami telah perlihatkan kepadanya (Fir’aun) tanda-tanda kekuasaan Kami semuanya. Maka ia mendustakan dan enggan (menerima kebenaran),” (Qs Thaha [20]: 56).
Bagi Fir’aun apa yang diperlihatkan Musa itu hanyalah  sihir semata. Dalam pikirannya, setelah menghilang selama sepuluh tahun, tiba-tiba sekarang Musa berani muncul dan datang ke istana, tentu Musa telah menuntut ilmu sihir yang tinggi.
Fir’aun menuduh Musa dengan kekuatan sihirnya akan mengusir bangsa Mesir dari negeri mereka. Allah SwT berfirman:
8
‘Fir’aun berkata: Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, Hai Musa? (Qs Thaha [20]: 57)
Kekuatan Fir’aun selama ini karena rakyatnya percaya dia adalah Tuhan, paling kurang memperlakukannya sebagai Tuhan dengan kekuasan tanpa kontrol dan tanpa batas. Kemudian Musa datang mengatakan dia bukan Tuhan, Tuhan yang sebenarnya adalah Allah SwT pencipta, pengatur dan penguasa alam semesta. Jika ajaran Musa ini diterima tentu Fir’aun tidak lagi berarti. Bangsa Mesir juga akan hancur dikalahkan oleh Bani Israil. Dalam pikiran Fir’aun, itu sama artinya Musa ingin mengusir dia dan bangsa Mesir dari negeri mereka.• (bersambung)

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *