Humaniora

Kartu Lebaran Ajaib

167541_kartu-ucapan_663_382

Cerpen: Mustofa W Hasyim

PANUT betul-betul heran ketika sore hari pulang kerja, Ibunya memberikan sebuah kartu lebaran yang masih terbungkus amplop. Harum. Ia membolak balik amplop itu, tetapi tidak ada nama dan alamat pengirim. Amplop ia buka. Kartu lebaran dikeluarkan. Ia buka lembarannya. Kartu bergambar masjid, pohon kurma dan ada sepasang ketupat. Berwarna cerah. Ada tulisan permintaan maaf atas segala kesalahan. Ketika dicermati, di dalam kartu tidak ada  nama dan alamat pengirim.

“Dari siapa Bu?” tanya Panut.

Ibu Panut menggeleng.

Panut memperhatikan cap pos yang ada di perangko. Tetapi kurang jelas. Sebab tinta hitam dari cap pos itu kabur. Hanya ada huruf-huruf yang sulit dibaca.

Lantas siapa yang mengirim kartu Lebaran ini? Panut mencoba membayangkan teman di kampung, teman sekolah, atau kenalan di tempat lain. Tetapi tetap tidak ada satu pun yang dapat dibayangkan telah mau mengirim kartu lebaran kepada dirinya. Ya, siapa yang mau mengirim kartu lebaran kepada buruh nyikat*) seperti dirinya. Buruh yang paling rendah derajatnya di kota kerajinan ini. Buruh yang diupah  paling murah sehingga hidupnya selalu pas-pasan.

Teman sekolah? Jelas tidak mungkin. Sebab ia hanya lulus Sekolah Dasar, dan kebanyakan temannya juga menjadi buruh rendahan. Mereka tentu merasa berat kalau harus membeli kartu lebaran, memberi perangko lalu bersusah payah mengirimnya ke kantor pos. Lebih baik uang sebanyak itu dipakai untuk membeli makanan, atau untuk membeli nomor, yang kalau beruntung  dapat membuat kaya mendadak dalam semalam.

Panut mencium kartu lebaran itu. Ia senang dengan bau harum kertas itu. Ini pasti kartu yang mahal, pikirnya. Sebab kalau kartu lebaran biasa, tidak berbau harum. Tulisan tangan pada alamat tujuan bagus, ditulis dengan mengguakan sejenis vulpen yang mahal. Jelas bukan ballpoint murah yang banyak dijual di warung, kios atau took-toko kecil. Demikian juga tulisan di dalam kartu. Panut memperhatikan, tulisan seperti itu hanya dapat dibuat oleh seorang perempuan cantik, oleh seorang guru tamatan sekolah guru model lama, atau oleh seorang lelaki yang tertib hidupnya. Penghuni kampung Panut tidak ada yang mampu menulis sehalus itu. Demikian juga saudara Panut. Baik saudara dekat atau saudara jauh. Lagi pula, mereka tidak membutuhkan kartu kalau hanya untuk saling meminta maaf di Hari Lebaran. Sebab di kampung Panut, tempat para saudara dekatnya bermukim, setiap tanggal 1 Syawal pagi, sehabis dari tanah lapang untuk shalat Idul Fitri, seluruh penghuni kampung berkumpul di surau tua yang telah diperluas.

Di surau yang konon didirikan oleh cikal-bakal penghuni kampung, Mbah Haji Idris, semua penduduk, tua muda, lelaki perempuan medengarkan pengajian singkat, ikrar saling memaafkan yang diwakili, lalu saling bermaafan secara langsung, lalu makan lontong opor dengan sambal kerecek, makan kue-kue, dan minum es sirup. Setelah itu bubar. Ada yang kemudian pergi ke sanak saudara di luar kampung, ada yang memilih mencari hiburan di kebun binatang, ke Alun-alun, ke pantai atau jajan ke warung gule dan sate untuk mengisi perut sekenyangnya. Itulah cara orang kampung Panut merayakan Idul Fitri. Mereka semua saling mengenal, mudah ketemu, dengan demikian untuk mengucapkan selamat hari Raya Idul Fitri tidak memerlukan sebuah kartu lebaran.

Saudara jauh Panut biasanya berkumpul di tanggal 2 Syawal, dalam sebuah pertemuan Bani dari garis keturunan ibu, dan pada tanggal 3 Syawal ada pertemuan Trah, dari garis keturunan ayah Panut. Mereka datang dari berbagai kota. Kota dekat maupun jauh. Bertemu setahun sekali, kangen-kangenan, lalu makan-makan enak, minum es sirup. Banyak di antara mereka, sebelum hari raya, sudah mengirim kartu lebaran. Tetapi selama hidup keluarga Panut belum pernah mendapat kiriman kartu lebaran. Sebab biasanya kartu lebaran itu hanya beredar dari kalangan keluarga kaya, sesama anggota satu Bani atau satu Trah. Karena miskin, keluarga Panut  tidak dikirimi kartu lebaran.

Inilah yang menyebabkan ketika ada kartu lebaran berbau karum masuk ke rumah Panut, ibu, saudara dan Panut sendiri terkejut. Apalagi kartu lebaran itu misterius sekali. Tanpa nama dan alamat pengirim. Mungkinkah yang mengirim kartu lebaran itu juragan dan bekas juragan Panut? Mereka mungkin terbuka hatinya dan merasa bersalah karena bertahun-tahun memeras tenaga dan keringat Panut, kadang disertai bentakan dan makian. Panut menggeleng. Sebab mustahil para juragan dan bekas juragannya seperti itu. Menurut pengalaman, para juragan itu selalu merasa tidak bersalah. Kalau ada kesalahan dalam pekerjaan, atau ada kesalahan dalam mengurusi perusahaan, maka yang bersalah pasti buruhnya. Baik buruh yang berada di belakang maupun yang berada di toko imitasi tempat Panut bekerja. Kalau para juragan tidak pernah merasa bersalah, mengapa mereka harus minta maaf. Yang selalu terjadi adalah, para buruh itu yang selalu minta maaf. Hampir setiap hari pasti ada saja buruh yang mengucapkan, “Maaf, Den. Maafkan saya, Den.”

Ataukah yang mengirim kartu lebaran itu adalah Pak RT, atau Pak RW, atau Pak Lurah? Atau mungkin Pak Camat, atau Pak Bupati? Atau anggota DPRD dan DPR? Atau barangkali Pak Gubernur, Pak Menteri, atau mungkin Pak Presiden? Mungkin Pak RT merasa bersalah karena Panut pernah dimaki-maki ketika suatu hari jalan di depan rumahnya kotor karena ada sampah berceceran. Pak RT itu menuduh Panut yang membuang sampah seenaknya. Tentu saja Panut membantah. Tetapi setelah Pak RT melotot dan tangannya mengepal keras, cepat-cepat Panut mengaku memang dia yang membuang sampah itu sambil dengan terbungkuk ia berkata, “Maafkah saya Pak RT, saya kurang hati-hati.”

Untung saja Pak RT yang pensiunan tentara itu tidak menampar mulut Panut.

Atau mungkin yang mengirim kartu lebaran itu Pak RW yang merasa bersalah karena waktu ngebut ingin nonton balapan merpati tempo hari sempat menyerempat Panut sampai kakinya terluka. Waktu itu Pak RW membentak Panut, “Matamu! Kalau jalan mbok minggir dan jangan seenaknya!”

Kaki Panut berdarah. Tetapi ia tidak berani marah.

“Maaf Pak RW, saya sembrono tidak cepat-cepat minggir ketika motor Pak RW menyambar ke arah saya,” begitu katanya sambil terpincang-pincang.

Mungkin juga yang mengirim kartu lebaran untuk minta maaf itu Pak Lurah. Sebab selama beberapa tahun menjadi Lurah, dia telah melupakan janji-janjinya yang dilontarkan saat  kampanye pencalonan lurah. Jalan-jalan di kampung tetap buruk, selokan sering mampet, lampu listrik tidak nyala, dan masih sering terjadi pencurian di sana-sini setiap malam. Pak Lurah lebih bersemangat untuk menyelenggarakan rapat membahas bagaimana menjual tanah bondo desa**), dan sisanya dibangun pasar, dibangun kios sebanyak duapuluh, tetapi yang tujuh kios diborong oleh sanak keluarga Pak Lurah sendiri. Pada hari raya ini barangkali Pak Lurah insyaf lalu meminta maaf kepada rakyatnya dengan mengirim kartu lebaran. Panut, salah seorang yang menerima kartu lebaran itu.

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • menyentuh ndan…. jadi pengen tahu siapa yang mengirim… kalo gak ada yang mengaku biar sajalah aku yang mengaku telah mengirimkan kartu lebaran kepada si panut.