Haedar Nashir

Menjadi Gerakan Islam Alternatif

Dr. H. Haedar Nashir
Shares

SUARA MUHAMMADIYAHSaat ini kehidupan umat Islam baik di tingkat dunia lebih khusus Indonesia banyak menghadapi tantangan baru. Coba bayangkan betapa porak-poranda kawasan negeri-negeri Muslim di Timur Tengah pasca The Arab Spring. Yaman dan Suriah masih bergejolak dengan perang saudara. Palestina tak berkesudahan diagresi Israel. Irak dan Libya masih tertatih-tatih untuk membangun diri dari kehancuran perang dan invasi asing. Mesir sedang bangkit dari gejolak politik yang nyaris meruntuhkan negeri Piramida itu. Sedangkan arab Saudi dilanda ketegangan politik dengan Iran, yang memuat banyak kepentingan politik dan keagamaan yang terbilang rumit.
Di Indonesia keadaan relatif aman dan perkembangan demokrasi, hak asasi manusia, dan kehidupan berbangsa bernegara sangat kondusif. Memang terorisme masih menjadi ancaman di negeri ini, tetapi secara umum kondisi bangsa dan negara ini relatif normal. Namun ancaman narkoba tidak kalah gawat, malah sangat masif dan mengerikan, yang memerlukan kewaspadaan seluruh pihak. Persoalan-persoalan kebangsaan tentu selalu ada, hal itu karena Indonesia negeri besar dengan wilayah dan jumlah penduduk sangat tinggi, sehingga wajar adanya masalah-masalah nasional.
Persoalan umat Islam di Indonesia sebagai mayoritas tentu berhimpitan dengan problematika yang dihadapi bangsa. Umat Islam masih dihadapkan pada persoalan kemiskinan, ketertinggalan dalam sejumlah aspek kehidupan, dan tantangan yang kompleks yang datang dari luar. Jika di permukaan terdengar suara-suara meyakinkan, kalau Islam Indonesia memiliki prospek masa depan, malah dengan mengusung Islam Nusantara seolah merasa menjadi yang terbaik dibanding dengan umat Islam di belahan dunia lainnya. Optimis dan merasa khas boleh saja, tetapi adakah agenda dan langkah-langkah strategis dilakukan umat Islam di negeri ini sehingga benar-benar menjadi alternatif terbaik dari negeri-negeri Muslim lainnya?

Kekuatan Mandiri
Muhammadiyah dan umat Islam di negeri ini akan menghadapi arus baru kehidupan yang serbaliberal dan sekuler. Kehidupan politik, ekonomi, dan budaya serbabebas sehingga cenderung “apa saja boleh”. Nilai-nilai agama yang mengajarkan kebenaran, kebaikan, dan kepatutan serbautama dikalahkan oleh kepentingan serbaguna. Manusia dan masyarakat makin dimanjakan oleh materi, kursi, dan kesenangan yang serbainstan sehingga sering mengabaikan atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai utama kehidupan sebagaimana ajaran luhur agama.
Sementara itu masih banyak anggota masyarakat yang miskin (sekitar 29 juta orang), termarjinalisasi, terdiskriminasi, dan keterasingan hidup sehingga rawan secara psikologis dan sosiologis. Sebagian masyarakat karena berbagai faktor menjadi ekstrem atau radikal dan terlibat dalam gerakan-gerakan menyimpang atau sesat jalan. Sementara lainnya karna kerakusan menjadi koruptor, terlibat narkoba, dan berbagai perilaku yang merugikan diri dan orang lain. Banyak masalah sosial yang di antara penyebabnya karena kehilangan dasar moral dan arah kehidupan yang benar sebagaimana diajarkan agama.
Adapun umat Islam masih tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan, di tengah sebagian para pemimpinnya yang tidak hirau dengan nasib umat. Jika mayoritas miskin dan termarjinalisasi maka umat Islam yang miskin dan marjinal itu. Umat Islam belum menguasai akses-akses strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika melakukan kontestasi politik sering kalah oleh pihak lain. Sementara minoritas banyak menguasai posisi dan akses strategis. Kita tidak tahu Pilkada DKI jakarta tahun 2017 akan dimenangkan siapa, karena kelompok minoritas sangat menguasai banyak akses, termasuk media massa. Padahal mayoritas warga Jakarta adalah muslim.
Karenanya kekuatan-kekuatan umat Islam, termasuk organisasi Islam seperti halnya Muhammadiyah, haruslah tampil menjadi kekuatan strategis. Agar menjadi kekuatan strategis yang menentukan, umat Islam harus kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Umat Islam harus menguasai politik, ekonomi, dan budaya sebagaimana semestinya kaum mayoritas. Namun untuk mencapai posisi strategis itu umat Islam harus terlebih dahulu menjadi kekuatan yang mandiri, termasuk mandiri secara amal usaha dan ekonomi. Selama umat Islam belum mandiri maka selamanya akan tetap sebagai pengekor dan bukan pelaku atau aktor. Untuk menjadi mandiri sebagai penentu atau pelaku umat Islam perlu kesungguhan dan langkah-langkah strategis yang nyata, bukan dengan retorika dan teori.

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

2 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Dapat menjadi Gerakan Islam Alternatif, malahan dapat menjadi Gerakan Islam Utama, bukan hanya di Indonesia, tapi di Dunia. Karena punya syarat2 Agama Yang Berkemajuan, Mencerahkan Peradaban, diantaranya :
    Ummat pertengahan Mempunyai Landasan Tarjih dan Tajdid, Memiliki AUM lengkap, Tdk memisahkan Ilmu Agama dan Umum, Pemahaman Agama secara utuh, Non Politik ( Lebih obyektif ), Dakwah Multi Aspek, dlm menentukan Hukum dan berbagai aspek lain, dll, dll. Tdk menutup kemungkinan Muhammadiyah menjadi Acuan Utama Dunia Islam, dlm berbagai hal. Semoga.
    Insya ALLah.

  • Sy lihat kini Muhammadiyah sdh menjadi organisasi terbesar si seluruh dunia fakta menunjukkan setiap wilayah yg saya kunjungi pasti ada Sekolah mulai SD, SMP, SMA dan Perguruan tingginya tersebar dimana2 dan semua adalah milik pimpinan pusat bukan perseorangan… hebat !!!

Edisi Baru

  • new.jpeg
  • edisi-baru.jpeg
  • web-ad_jamaahhebat.jpg
  • webad_pasang-iklan.gif
  • WebAds_deamilela_thumb.jpeg
  • SS-web1.jpg