Dialog

Prof Syamsul Anwar: Fiqih Muhammadiyah Seperti Fiqih Pada Umumnya

syamsul anwar(1)
Shares

Bagi Muhammadiyah Perubahan keputusan ke keputusan yang lain adalah hal yang biasa, termasuk dalam hal fiqih, asalkan berkesesuaian dengan sumber utamanya Al-Qur’an dan Sunnah Makbullah. Dalam ibadah mahdah harus sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah (pemurnian), dan di luar ibadah mahdah dalam rangka dinamisasi  masyarakat. Tetapi bagi masyarakat awam, hal ini sering  dipertanyakan. Kenapa demikian? Kenapa ini berbeda dengan yang dahulu?

Untuk Lebih Jauh Mengetahui tentang fiqih Muhammadiyah tersebut, Lutfi Effendi dari Suara Muhammadiyah menemui Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Prof Dr H Syamsul Anwar, MA. Berikut ini sejumlah penjelasan tentang fiqih Muhammadiyah:

Ada yang mempertanyakan, kenapa fiqih Muhammadiyah sekarang ini berbeda dengan fiqih Muhammadiyah era KHA Dahlan. Dulu KHA Dahlan shalat tarawih 20 rakaat, kini 8 rakaat. Dulu KHA Dahlan shalat Subuh pakai Qunut, kini tidak. Apakah ini berarti sudah melenceng dari ajaran KHA Dahlan?

Yang perlu dicatat, bahwa fiqih Muhammadiyah sebagaimana fiqih pada umumnya. Itu yang paling pokoknya. Tetapi aeperti halnya fiqih-fiqih yang ada, tentu ada perbedaan di sana-sini dengan fiqih yang lain.  Fiqih Muhammadiyah itu sesuai dengan identitas Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.  Maka dari zaman ke zaman selalu berupaya melakukan tajdid. Karenanya bisa saja kajian saat ini berbeda dengan kajian sebelumnya. Apa yang dicapai oleh generasi yang lalu, bisa saja diubah oleh generasi berikutnya. Tentu saja dengan kajian yang lebih dapat dipertanggungjawabkan keabsahan alasan atau dalilnya.

Muhammadiyah dalam hal fiqih tidak merujuk pada seseorang, tetapi merujuk pada dalil-dalil dalam Al-Qur’an dan Sunnah Makbullah. Muhammadiyah itu kan terus-menerus melakukan kajian, baik itu di bidang ibadah khusus dan akidah ataupun di bidang Ibadah sosial. Karenanya, ketika  suatu fiqih telah ditetapkan bisa saja di kemudian hari dapat berubah ketika menemukan dalil-dalil yang lebih dapat diterima. Apalagi jika fiqih tersebut belum merupakan keputusan Persyarikatan dan masih berupa ajaran-ajaran ulama pada saat itu, tentu akan lebih mungkin berubah  ajaran tersebut ketika dalam kajian Muhammadiyah menemukan dalil yang lebih tepat dan berbeda dengan ajaran yang selama ini telah berlaku.

Apa yang dilakukan Muhammadiyah ini, tidak bertentangan dengan ajaran KHA Dahlan yang juga sudah menjadi identitas Muhammadiyah. Yaitu ajaran tentang tajdid. Dalam hal tajdid ini Muhammadiyah membagi dua bagian atau dengan kata lain tajdid itu mempunyai dua makna. Tajdid di bidang ibadah mahdah atau ibadah khusus dan juga dalam aqidah, Muhammadiyah memilih ibadah sebagaimana yang dilakukan dan diajarkan oleh Rasulullah melalui Al-Qur’an dan Sunnah Makbulah. Langkah ini biasa disebut pemurnian. Sedangkan tajdid di bidang muamalah atau kehidupan sosial, ini lebih bebas dilakukan. Tajdid di bidang ini kita kenal sebagai dinamisasi kehidupan sosial kemasyarakatan umat, dan Muhammadiyah sebetulnya pada awalnya lebih dikenal dalam gerakan pembaruan di bidang sosial ini.

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Edisi Baru

  • new.jpeg
  • edisi-baru.jpeg
  • web-ad_jamaahhebat.jpg
  • webad_pasang-iklan.gif
  • WebAds_deamilela_thumb.jpeg
  • SS-web1.jpg