smamda
Ibadah

Keputusan Tarjih Tentang Membaca Basmalah Dalam Shalat

basmallah

Musyawarah Nasional Tarjih ke-27 yang diadakan di Malang Jawa Timur 16 s.d. 19 Rabiulakhir 1431 H / 1 s.d. 4 April 2010 M memutuskan bahwa:

1. Mengukuhkan Putusan Tarjih yang sudah ada (HPT, h. 77 dan 86) bahwa sebelum membaca al-Fatihah dalam setiap rakaat salat dibaca basmalah, berdasarkan hadis Abu Hurairah r.a. melalui Nu‘aim al-Mujmir sebagai berikut,

عَنْ نُعَيْمٍ الْمُجْمِرِ قَالَ صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقَرَأَ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ حَتَّى إِذَا بَلَغَ ”غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ“ فَقَالَ آمِينَ فَقَالَ النَّاسُ آمِينَ وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا قَامَ مِنْ الْجُلُوسِ فِي اْلاثْنَتَيْنِ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [رواه النسائي وابن خزيمة وابن حبان والبيهقي والدارقطني والطحاوي وابن عبد البر والخطيب البغدادي]

Dari Nu‘aim al-Mujmir [bahwa] ia berkata: aku salat di belakang Abū Hurairah; ia membaca bismillāhirrahmanirrahim, kemudian membaca Ummul Quran (Al-Fatihah) hingga sampai gairil-magdūbi ‘alaihim wa lad –dlalin, lalu mengucapkan amin dan jamaah pun mengucapkan amin. Setiap kali sujud, ia mengucapkan Allāhu akbar dan setiap kali bangkit dari duduk dari dua sujud ia juga mengucapkan Allahu akbar. Ketika selesai mengucapkan salam, ia mengatakan, “Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, Sesungguhnya aku adalah orang yang salatnya paling menyerupai salat Rasulullah saw [HR an-Nasāi, Ibn Khuzaimah, Ibn Ḥibbān, al-Baihaqi, ad-Dāraqutni, at-Taḥāwi, Ibn ‘Abd al-Barr, dan al-Khātib al-Bagdādi]. 

2. Bacaan basmalah sebelum al-Fatihah dalam salat jahar boleh dijaharkan dan boleh pula disirkan (dipelankan) berdasarkan jamak antara hadis-hadis yang memberi pengertian bahwa Rasulullah saw menjaharkan basmalah dalam salat jahar dan hadis-hadis yang memberi pengertian sebaliknya, yaitu bahwa Rasulullah saw memelankan basmalah dalam salat jahar, sesuai dengan kaidah fikih,

إِعْماَلُ اْلكَلاَمِ أَوْلَى مِنْ إِهْماَلِهِ

Artinya: Mengamalkan suatu pernyataan lebih utama daripada mengabaikannya.

Hadis yang menyebutkan bahwa Nabi membaca basmalah pada saat memulai salat memiliki beberapa jalur, antara lain di bawah ini:

  1. Jalur Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh an-Nasai’, al-Baihaqi, al-Daruqutni dan Ibn Khuzaimah sebagaimana telah dikutip pada huruf 1. di atas, dan status jalur ini adalah sahih.
  2. Jalur Ummu Salamah yang juga berstatus sahih, yaitu:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا سُئِلَتْ عَنْ قِرَاءَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ كَانَ يُقَطِّعُ قِرَاءَتَهُ آيَةً آيَةً (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ [رواه أحمد وأبو داود والترمذي والحاكم والبيهقي وإسحاق بن راهويه والدارقطني وابن أبي شيبة والطبراني والطحاوي وابن عبد البر والخطيب البغدادي]

Artinya: Dari Ummu Salamah bahwa ia (Ummu Salamah) ditanya tentang bacaan Rasulullah saw, lalu ia (Ummu Salamah) menjawab: Beliau memotong-motong bacaannya satu ayat satu ayat: bismillāhir-raḥmānirrraḥīm, al-ḥamdulillāhi rabbil-‘ālamīn, ar-rāhmārnirrahīm, māliki yaumiddīn [HR Aḥmad, Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, al-Ḥākim, al-Baihaqi, Isḥāq Ibn Rahawaih, ad-Dāraquṭnī, Ibn Abī Syaibah, aṭ-Ṭabarānī, aṭ-Ṭaḥāwī, Ibn ‘Abd al-Barr, dan al-Khaṭīb al-Bagdādī].

Hadis yang menyebutkan bahwa Nabi tidak membaca basmalah pada saat memulai salat memiliki banyak jalur, antara lain sebagai berikut:

1. Jalur ‘Aisyah yang berstatus sahih, yaitu:

عَنْ أَبِى الْجَوْزَاءِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَفْتِحُ الصَّلاَةَ بِالتَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلِكَنْ بَيْنَ ذَلِكَ وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ قَائِمًا وَكَانَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السَّجْدَةِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِىَ جَالِسًا وَكَانَ يَقُولُ فِى كُلِّ رَكْعَتَيْنِ التَّحِيَّةَ وَكَانَ يَفْرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى وَكَانَ يَنْهَى عَنْ عُقْبَةِ الشَّيْطَانِ وَيَنْهَى أَنْ يَفْتَرِشَ الرَّجُلُ ذِرَاعَيْهِ افْتِرَاشَ السَّبُعِ وَكَانَ يَخْتِمُ الصَّلاَةَ بِالتَّسْلِيمِ. [رواه مسلم، واللفظ له، وأحمد، أبو عوانة، والبيهقي، وأبو داود الطيالسي، عبد الرزاق، والطبراني]

 

Artinya: Dari Abū al-Jauzī’, dari ‘Āisyah, ia berkata: Adalah Rasulullah saw memulai salat dengan takbir dan qiraat dengan al-ḥamdulilāhi rabbil-ālamīn, dan apabila rukuk beliau tidak menegakkan kepalanya dan tidak pula meluruskannya, akan tetapi tengah-tengah antara yang demikian, dan apabila bangkit dari rukuk, ia tidak langsung sujud sebelum terlebih dahulu berdiri lurus, dan apabila mengangkat kepalanya dari sujud, ia tidak langsung sujud lagi sebelum terlebih dahulu duduk dengan sempurna, dan beliau membaca tahiyat pada setiap dua rakaat sambil membaringkan telapak kaki kirinya dan menegakkan telapak kaki kanannya.Beliau melarang duduk mencagkung seperti setan dan melarang menghamparkan lengan bawah seperti dilakukan binatang buas. Beliau menutup salatnya dengan mengucapkan salam [HR Muslim, dan ini lafalnya, Aḥmad, Abū‘ Awānah, al-Baihaqī, Abū Dāwūd, aṭ-ṬayāLisī, ‘Abd ar-Razzīq, dan aṭ-Ṭabarānī].

2. Hadis Anas yang berstatus sahih, yaitu:

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ [رواه مسلم، واللفظ له، النسائي، وأحمد، وابن خزيمة وابن حبان، أبو عوانة، والبيهقي، وعبد ابن حميد، والدارقطني]

Artinya: Dari Anas [bahwa] ia berkata: Aku salat di belakang Rasulullah saw, Abū Bakr, ‘Umar dan ‘Uṡmān, maka aku tidak mendengar seorang pun dari mereka membaca bismillāhir-raḥmānir-raḥīm [HR Muslim, dan ini lafalnya, an-Nasāī, Ahmad, Ibn Khuzaimah, Ibn Ḥibbān, Abū‘ Awānah, al-Baihaqī, Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, al-Ḥākim, al-Baihaqī, ‘Abd Ibn Ḥumaid, dan aṭ-Ṭabarānī].

(Tahfidz Keputusan Munas Tarjih ke 27 Malang dimuat dalam Berita Resmi Muhammadiyah No.6  Ramadhan 1435 H)

10 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ini baru jelas, satu rumah tidak perlu berbagai diskusi yang kurang etis dan memanas.
    “”” Seorang isteri akan lebih tahu berbagai ucapan, perilaku, kebiasaan yang sering dilakukan suami dari pada bukan isteri “””.

  • Kalau dari perspektif susunan matematika Quran yang berbasis angka 19, Basmallah adalah ayat pertama dari Al-Fatihah. Karena jika bukan ayat pertama dari Al-Fatihah, seluruh susunan matematis Al-Quran menjadi tidak konsisten. Wallahu’alam…

    • Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh.
      Menurut saya (Allahu A’lam) yg benar itu ayat pertama Al Fatehah adalah Hamdalah, sesuai pendapat Imam Malik dan Imam Hanafi. Basmalah sebagai ayat pertama Al Fatehah bertentangan tradisi mayoritas muslim ( terutama Di Madinah) sebelum tahun 150 H. Juga bertentangan dengan logika. Pertentangan antar madzhab dalam masalah ini adalah bukti bahwa Al Fatehah cetakan pertama Mushaf Usman ayat2nya belum diberi nomor urut. Mengapa Muhammadiyah dalam keputusannya hanya sekedar mengotak-atik hadits2 yg simpang-siur saling bertentangan yg konon jumlahnya mencapai 70 an. Mengapa tidak mencoba mengadakan terobosan dengan menganalisa rahasia2 ( mukjizat2) dibalik susunan ayat2 dalam Al Fatehah??. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

      • Ketika Imam Malik memakai tradisi masyarakat Madinah untuk memperkuat argumentasinya mengapa Imam Syafi’i tidak memakai tradisi masyarakat Mekah untuk memperkuat argumentasinya. Hal ini adalah bukti bahwa pandangan bahwa basmalah adalah ayat pertama Al Fatehah di Mekah sendiri belum memasyarakat.

    • Dari Eddy Margono ( lanjutan).
      Hasil analisa saya tentang basmalah adalah sebagai berikut:
      1. Adanya basmalah sebelum surat2 cocok sekali dengan ayat 1 surat Al Alaq yg intinya kita disuruh mengucap basmalah sebelum mempelajari firman2Nya. Karena Al Fatehah juga termasuk yg harus dipelajari maka sebelum mempelajari Al Fatehah ya harus baca basmalah dulu.
      2. Intisari ajaran Islam adalah tauhid, demikian pula intisari Al Fatihah juga tauhid.
      3.Kalau tengah2 angka satu sampai tujuh adalah angka empat, maka tepat sekali kalau ajaran tauhid yaitu ayat Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’iin diletakkan di urutan ke empat.
      4.Selanhutnya kalau kita hitung jumlah huruf yg ada pada ayat ke 4,5 dan 6 ternyata masing2 berjumlah 19, sedangkan ayat ke 7 berjumlah 24. Apakah suatu kebetulan atau ini mukjizat kalau ternyata 456= 19×24.
      5. Allah menciptakan segala sesuatu berpasangan. Ternyata pasangannya angka 19 yang merupakan bilangan prima yg tidak bisa dibagi adalah angka 24 yg merupakan bilangan genap yg mudah dipecah belah, bisa dibagi 2,3,4,6 juga 8.
      6. Diluar Al Fatehah angka 19 diwakili basmalah yg terdiri atas 19 huruf dan angka 24 diwakili ta’awwudz yg terdiri atas 24 huruf. Keduanya merupakan syarat yg diperintahkan untuk dibaca sebelum mempelajari Al Qur’an.
      7. Kalau takbiratul ihram pasangannya adalah salam, maka ternyata Al Fatehah juga punya pasangan yaitu Attahiyat. Masing2 terdiri atas 7 kalimat dan susunannya mirip. Kalimat tauhid berada pada posisi kalimat ke empat. Ini mungkin ada hubungannya juga dengan kata ALLAH yg terdiri atas empat huruf.
      8.Sebagaimana telah kita ketahui bahwa jumlah ayat dalam surat2 adalah 6236 ayat dan jumlah basmalah ada 113 ayat. Maka total ada 6236+113=6349 ayat. Al Fatehah (Ummul Kitab) terdiri dari 7 ayat dan ternyata 6349=7×907. Apakah ini bukan suatu mukjizat??.
      9.Walaupun 1234567 tidak bisa dibagi 19, tetapi ternyata 7654321=19×402859. Dan ternyata pula bila basmalah digabung dengan Al Fatehah maka susunannya menjadi 11234567 yg juga habis dibagi 19. Apakah ini suatu kebetulan kalau ternyata 11234567=19×591293.
      10. Allah menciptakan jin dan manusia untuk mengabdi kepadanya. Tidak ada ilah atau Rabb kecuali Allah. Maka kalau kita berbicara tentang Allah seharusnya keterangan pertama ialah bahwa Allah itu ilah atau Rabb, baru disusul keterangan kalau Dia itu Rahman dan rahim, bukan sebaliknya. Kalau kita teliti akan tampak kalau Allah sebagai pemberi Rahmat tidak diposisikan di depan. Misal raufurrahim, ghafururrahim, salamun mirrabbirrahim, assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh, sakinah mawaddah warahmah dll.
      11. Jadi tarjamah tafsiriyah dari basmalah harusnya Dengan menyebut nama Allah Rabb yg Maha Pengasih dan Penyayang.
      Sekian argumentasi saya semoga bisa jadi bahan pertimbangan di majelis tarjih berikutnya.
      Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

      • Dari Eddy Margono ( lanjutan).
        12. Kalau kita sudah sepakat kalau ayat ke 1 dari Al Fatehah adalah Hamdalah, maka ketika kita melihat susunan ayat dari Al Qur’an akan tampak lebih indah. Misalnya :
        a. Ayat ke 1 dari surat pertama ada Rabb. Demikian pula ayat ke 1 dari surat terakhir juga ada Rabb.
        b. Wahyu pertama juga berbunyi : Bacalah dengan menyebut nama Rabb mu yg menciptakan.
        c. Kalau di alam kubur pertanyaan pertama adalah Man rabbuka?, Maka sebelum roh ditiupkan perkenalan dr Allah yg pertama ialah: Bukankah
        aku ini Rabb mu?. Indah sekali bukan??!!.
        13. Kalau sebelum mempelajari Al Fatehah dan surat lain kita perlu baca ta’awwudz dan basmalah, lalu bgmn kalau di waktu shalat.?. Harus diingat bahwa kalau di waktu shalat posisi kita bukan lagi sedang mempelajari Al Fatehah tetapi sudah pada tahap berdoa dengan Al Fatehah. Jadi bisa dimaklumi kalau Imam Maliki tidak baca basmalah lagi.
        14. Dalam Qur’an nabi terdahulu yg kenal basmalah adalah Nabi Sulaiman. Ketika kirim surat ke Ratu Bilqis diawal suratnya ada basmalah. Tetapi ketika dia dan nabi2 lain berdoa kepada Allah ternyata tidak didahului baca basmalah kan?. Karena awal dari doa adalah memuji Allah SWT.
        15. Kalau gabungan antara ta’awwudz dan basmalah ada unsur 19 dan 24, maka ternyata Al Fatehah mengandung unsur 19 dan 24.juga.
        Kita teliti lagi ternyata doa Robbana aatina fi dunya hasanah… Juga tersusun atas 19+24 huruf. Dan ternyata pula tiga surat terakhir masing2 terdiri atas 4,5dan 6 ayat, padahal 456=19×24.