Berita

Nabi Musa as; Musa dan Tukang Sihir

Oleh; Prof Dr Yunahar Ilyas, Lc, MA 

Fir’aun yakin para ahli sihir dari seluruh pelosok negeri yang akan dia kumpulkan sanggup mengalahkan sihir Musa. Para pembesar istana juga menyarankan hal yang sama. Allah SwT berfirman:

1
Pemuka-pemuka kaum Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Musa ini adalah ahli sihir yang pandai. Yang bermaksud hendak mengeluarkan kamu dari negerimu”. (Fir’aun berkata): “Maka apakah yang kamu anjurkan?” Pemuka-pemuka itu menjawab: “Beri tangguhlah dia dan saudaranya serta kirimlah ke kota-kota beberapa orang yang akan mengumpulkan (ahli-ahli sihir). supaya mereka membawa kepadamu semua ahli sihir yang pandai”. (Qs Al-A’raf [7]: 109-112)
Fir’aun segera menantang Musa untuk adu sihir. Allah SwT berfirman:

2
“Dan kami pun pasti akan mendatangkan (pula) kepadamu sihir semacam itu. Maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu tempat yang pertengahan (letaknya).” (Qs Thaha [20]: 58)
Tempat yang diusulkan Fir’aun adalah tempat yang bisa dijangkau oleh kedua belah pihak, bangsa Mesir dan Bani Israil. Pertengahan antara keduanya. Sehingga massa pendukung Fir’aun dan massa pendukung Musa dari Bani Israil bisa datang menyaksikan pertandingan tersebut.
Musa menerima tantangan Fir’un dan menetapkan hari pertandingannya pada hari raya yang akan datang, setelah matahari sepenggalahan atau waktu dhuha. Fir’aun harus mengumpulkan massa untuk menonton pertandingan besar tersebut. Allah SwT berfirman:

3
Berkata Musa: “Waktu untuk per­temuan (kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah di­kumpulkan manusia pada waktu ma­tahari sepenggalahan naik”. (Qs Thaha [20]: 59)
Musa memilih yaum az-Zinah yang secara harfiah berarti hari perhiasan. Pada hari itu bangsa Mesir keluar beramai-ramai dengan segala macam perhiasan untuk merayakan dibukanya bendungan dan penampungan limpahan air sungai Nil sehingga airnya mengalir ke segala menjuru mengairi sawah ladang penduduk. Hari itu mereka sambut dan rayakan (Tafsir Al-Misbah 8:320)
Musa memilih hari raya agar banyak yang menyaksikan mukjizat yang diberikan Allah kepada beliau. Waktu Dhuha dipilih supaya yang ditonton dapat terlihat dengan jelas dan juga belum terlalu panas.
Setelah dicapai kesepakatan waktu dengan Musa, Fir’aun berdiri meninggalkan singgasananya untuk segera mengatur persiapan pertandingan yang sangat menentukan itu. Allah SwT berfirman:

4
Maka Fir’aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, Kemudian dia datang.” (Qs Thaha [20]: 60)
Kalimat kemudian dia datang, maksudnya setelah semua dipersiapkan Fir’aun diikuti para pembesar istana datang ke tempat yang telah disepakati untuk menyaksikan pertandingan ahli-ahli sihirnya dengan Musa.
Sebelum datang ke arena pertandingan, para tukang sihir yang sudah dikumpulkan meminta upah kepada Fir’aun jika mereka nanti bisa menang mengalahkan Musa. Allah SwT berfirman:

5
“Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Fir’aun mengatakan: “(Apakah) Sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?” (Qs Al-A’raf [7]:113)

Fir’aun menjanjikan upah istimewa yaitu peningkatan status menjadi orang dekat Fir’aun. Allah SwT berfirman:

6
“Fir’aun menjawab: “Ya, dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)”. (Qs Al-A’raf [7]: 114)
Hadiah yang dijanjikan bukan emas perak, intan berlian atau barang-barang berharga lainnya tetapi lebih dari itu yaitu menjadi orang dekat penguasa. Dekat dengan pusat kekuasaan di samping akan mendapatkan barang-barang berharga dan segala fasilitas istimewa tentu juga dan ini yang lebih penting lagi mendapatkan kehormatan dan kebanggaan. Itu sebabnya di mana saja, dulu sampai sekarang banyak orang yang berlomba untuk bisa berada di dekat pusat kekuasaan.
Sebelum pertandingan dimulai, Musa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memberi peringatan kepada para tukang sihir. Allah SwT berfirman:

7
“Berkata Musa kepada mereka: ‘Celakalah kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, maka dia membinasakan kamu dengan siksa’. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (Qs Thaha [20]: 61)
Musa datang sebagai utusan Allah SwT, menjalankan tugas suci membebaskan Bani Israil dari perbudakan yang dilakukan Fir’aun. Allah SwT sudah berjanji akan selalu menolong Musa dan Harun. Jika tukang-tukang sihir itu berada di pihak Fir’aun, membantu tirani yang zalim tersebut, berarti mereka ikut menentang Allah SwT, mereka pasti akan dikalahkan dan bahkan diazab oleh Allah SwT. Apalagi sihir adalah bentuk kedustaan, mengubah penglihatan orang terhadap suatu objek. Secara hakiki tidak ada yang berubah dengan sihir. Sementara yang dilakukan Musa bukan sihir, tapi mukjizat dari Allah SwT.
Mendengarkan peringatan Musa tersebut para tukang sihir terbelah. Sebagian mulai ragu dengan kemampuan mereka untuk mengalahkan Musa. Barangkali di antara mereka sudah ada yang mendengar bagaimana tongkat Musa bisa berubah jadi ular dan tangannya bisa bercahaya. Allah SwT berfirman:

8
“Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka). (Qs Thaha [20]: 62).
Tentu saja pembicaraan atau bahkan perdebatan sesama tukang sihir itu mereka lakukan secara berbisik-bisik agar tidak terdengar oleh Fir’aun atau para pembesarnya. Rupanya para aparat dan kakitangan Fir’aun yang ditugasi mengkoordinir para tukang sihir itu membaca gelagat, sehingga segera dia pengaruhi para tukang sihir itu agar jangan ragu untuk menghadapi Musa. Allah SwT berfirman:

9
“Mereka berkata: “Sesungguhnya dua orang ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama.” (Qs Thaha [20]: 63)
Itulah siasat mereka, Fir’aun dan para pembesarnya, memfitnah Musa dan Harun sebagai tukang sihir, dan dengan kekuatan sihirnya itu akan mengalahkan bangsa Mesir kemudian mengusir mereka dari bumi Mesir lalu digantikan oleh Bani Israil. Fir’aun menyembunyikan maksud sebenarnya dari kedatangan Musa dan Harun. Mereka berdua hanya berusaha membebaskan Bani Israil dan membawa Bani Israil ke luar dari negeri Mesir. Sama sekali tidak ada maksud untuk mengusir bangsa Mesir dari negerinya.
Siasat ini sengaja digunakan Fir’aun untuk membangkitkan antipati bangsa Mesir terhadap Musa dan Harun. Mereka sadar sepenuhnya bahwa pertandingan ini sangat menentukan bagi masa depan Fir’aun dan para pembesarnya. Kalau mereka kalah dalam pertandingan atau pertarungan ini mereka bisa dikalahkan. Oleh sebab itu para tukang sihir yang jumlahnya konon sampai 82 orang itu harus menang. Allah SwT menggambarkan tekad mereka tersebut:

10
“Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu sekalian, kemudian datanglah dengan berbaris. Dan sesungguhnya beruntunglah orang yang menang pada hari ini.” (Qs Thaha [20]: 64)
Di medan pertandingan, disaksikan oleh Fir’aun dan para pembesar istana di tribun VVIP, dan juga oleh masyarakat luas dari kedua belah pihak, para tukang sihir Fir’aun menawarkan kepada Musa, apakah Musa yang memulai atau mereka. Musa memilih mereka yang memulai. Lalu tukang-tukang sihir pilihan dari seantero negeri Mesir itu mulai menunjukkan sihir mereka dengan melemparkan tali temali dan tongkattongkat ke tengah medan, tiba-tiba tali temali dan tongkat-tongkat itu berubah menjadi ular yang sangat banyak menjalar kian kemari.• (bersambung)