Komnas HAM: Kerusuhan Tanjungbalai Karena Distorsi Informasi

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Kisah Mahasiswa UMM dalam Tugas Kemanusiaan Relawan Covid-19

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Semenjak mewabahnya COVID-19 di Indonesia, tidak sedikit rumah sakit yang kewalahan baik secara manajemen maupun sarana prasarana dalam...

Kolaborasi MCCC – Aisyiyah Deli Serdang Edukasi Lansia Pencegahan Covid-19

LUBUK PAKAM, Suara Muhammadiyah - Majelis Kesehatan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Deli Serdang bersama MCCC Kabupaten Deli Serdang melaksanakan edukasi pencegahan Covid-19 kepada...

Wakil Rektor UM Jember: Perkuat SDM dan IT Hadapi New Normal

JEMBER, Suara Muhammadiyah - Indonesia tengah menuju kenormalan baru atau New Normal. Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember), Drs Akhmad...

RSI Cempaka Putih Terima APD dari PDIP DKI Jakarta

Sebagai bentuk gotong royong dalam menanggulangi wabah Covid-19, DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta memberikan bantuan Alat Pelindung Diri...

Ditengah Pandemi, Lazismu Lamongan tetap Salurkan Beasiswa dan Bantuan Kesehatan

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Ditengah upaya berbagai pihak untuk bersama sama bersatu melawan virus Corona, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah...
- Advertisement -

JAKARTA, suaramuhammadiyah,id,- Distorsi informasi sebabkan peristiwa penyerangan dan perusakan rumah ibadah di Tanjungbalai, Sumatera Utara beberapa waktu lalu. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyimpulkan ini setelah melakukan pemantauan dan penyelidikan ke lokasi kejadian guna menggali data, fakta dan informasi yang akurat.

Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan distorsi informasi tersebut dilakukan sebagai upaya provokasi untuk memancing amarah kelompok tertentu. Provokator itu ingin agar suatu kelompok membenci kelompok lain.

“Kami menemukan fakta bahwa ada informasi yang didistorsi dan disebarkan oleh oknum tertentu sehingga menimbulkan aksi perusakan Wihara dan Klenteng di Tanjungbalai,” ujar Natalius di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (11/8/2016).

Natalius menjelaskan, sekitar seminggu sebelum kejadian, seorang warga Tanjungbalai, Meliana, menyampaikan keberatan mengenai suara adzan dari Masjid Al-Makshum kepada tetangganya. Keberatan itu pun disampaikan kepada Kasidi, seorang Nadzir Mesjid Al-Makshum dengan harapan bisa disampaikan ke pengurus masjid.

Pada 29 Juli 2016, Kasidi menyampaikan keberatan Meliana kepada pengurus masjid. Beberapa pengurus pun mendatangi rumah Meliana untuk berdialog dan mengonfirmasi keberatan Meliana.

Natalius mengungkapkan sempat terjadi perdebatan dalam dialog tersebut. Dialog dan mediasi akhirnya dilanjutkan di kantor Kelurahan Tanjung Balai. Hasil dari dialog, Meliana meminta maaf atas keberatan yang dia sampaikan. “Namun isu yang beredar saat itu bahwa ada warga etnis Tionghoa yang melarang Adzan dan mematikan speaker masjid,” ungkap Natalius.

Menurut Natalius keberatan yang disampaikan Meliana tidak dimaksudkan untuk menyebar kebencian etnis dan agama. Apa yang disampaikan oleh Meliana, kata Natalius, merupakan kata-kata yang tidak memiliki tendensi negatif dan tidak didasarkan pada rasa kebencian terhadap agama tertentu.

Kerusuhan tersebut terjadi karena ada isu yang sengaja disebar oknum tertentu untuk menciptakan konflik. “Keberatan Meliana tidak bertendensi negatif serta tidak didasarkan pada rasa kebencian,” kata Natalius.

temuan muhammadiyah sumut

Akibat dari distorsi informasi tersebut mengjndang massa berkumpul di sekitar rumah Meliana dan melampiaskan kemarahan dengan melakukan penyerangan, perusakan dan pembakaran terhadap rumah Meliana dan rumah ibadah (le).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -