Keluarga Sakinah

“Provokator” Tidak Selalu Negatif

Anak-Kecil-Sedang-Berbisik

Assalamu’alaikum wr wb.
Ibu Emmy yth, saya (31 tahun) ibu dari putri (9 tahun) dan putra (6 tahun). Putri bersahabat dengan 3 anak yang mereka teman di rumah maupun di sekolah, yang 2 anak beda kelas. Akhir-akhir ini saya sedih karena sering dilapori tentang Putri. Orangtua teman Putri bilang ke saya kalau Putri suka “memprovokasi”. Katanya, Putri pernah membujuk temannya A untuk minta uang jajan lebih. Putri juga pernah mengajak sahabat-sahabatnya itu untuk memusuhi teman sekolahnya yang lain yang pendiam. Tapi, yang saya heran sahabat-sahabatnya cenderung menurutinya.
Bu, mengapa ya anak saya kok seperti itu? Saya tidak pernah mengajarinya menjadi “provokator”. Apa yang bisa saya lakukan untuk menghadapinya? Saya tidak ingin salah didik pada anak-anak saya. Atas jawabannya saya ucapkan jazakumullah.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Ibu Icha, di Jogja

Wa’alaikumsalam wr wb.
Ibu Icha yth, di masa sekolah kebanyakan akan membentuk “peer group” atau geng. Peer group memiliki dampak negatif maupun positif. Misal dengan berkelompok, anak belajar ketrampilan bersosialisasi, berkomunikasi, bekerjasama dan menolong sembari mengembangkan ketrampilan social. Waktu anak bersama orangtua pun jadi makin sedikit seiring usia anak yang bertambah. Maka, pengaruh orangtua pun menipis. Sebaliknya, pengaruh teman dan per group semakin besar hingga mereka menginjak usia remaja.
Di usia sekolah, diterima geng termasuk hal penting bagi anak. Akibatnya, anak mendapatkan tekanan untuk berperilaku seperti harapan gengnya (peer pressure) yaitu anak diharapkan menerima nilai dan perilaku yang berlaku di kelompok tersebut. Padahal nilai dan perilaku ini bisa membuat anak terpengaruh melakukan perbuatan negatif.
Dalam sebuah geng, ada anak yang cukup menonjol dan berpengaruh kuat. Dialah yang menentukan nilai dan perilaku yang berlaku. Bila dicermati pertemanan anak ibu, Putrilah yang paling berpengaruh dan seringkali mengarahkan perilaku teman-temannya. Jangan salah! Anak-anak seperti Putri bisa menjadi provokator karena memiliki ketrampilan sosial yang baik. Ia paham, teman-temannya bias dipengaruhi dan ia cukup percaya diri untuk mengarahkan teman-temannya. Selain itu anak seperti Putri piawai dalam berkomunikasi.
Untuk geng anak perempuan, agresivitas fisik seringkali tidak diterima, maka agresivitas ini dilancarkan dalam bentuk yang lebih tersembunyi. Seperti, mendiamkan atau mengucilkan orang yang tidak disukai hingga menggosipkan. Meski tidak terlalu berbahaya, perilaku ini sangat mempengaruhi anak, karena mereka sangat ingin diterima temannya. Inilah yang disebut agresivitas tersembunyi. Agresivitas tersembunyi ini perlu diperhatikan orangtua. Apalagi guru dan sekolah jarang memanggil orangtua untuk kasus ini. Oleh karena itu, orangtua perlu berbicara secara proaktif kepada anak dan tekankan aturan mengenai memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Caranya, jalin komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Kepada anak jangan hanya Tanya masalah pelajaran, tapi seringlah “sharing” mengenai dunia sosialnya, mis: “waktu istirahat kamu main sama siapa?”, “Apa saja yang kamu senang lakukan dengan teman-teman?” atau “Mengapa kamu hanya bermain sama si A atau Si B?” setelah anak bercerita, bila ada perilakunya yang tidak pas, beri pengarahan.
Keluarga mempunyai peran besar dalam membentuk anak dan menentukan mereka di kelompoknya. Orangtua yang memberi kesempatan kepada anak untuk memilih dan berpendapat biasanya akan membentuk anak yang mandiri dan tidak mudah terbawa tekanan. Anak yang sering menjadi “provokator” sebenarnya dianugerahi bakat kepemimpinan. Yang penting, orangtua tetap mengarahkan agar ia tidak mempengaruhi temannya kea rah negatif. Caranya, bisa dengan memuji “bakat” anak lalu katakan alangkah baiknya bila pengaruh itu digunakan untuk hal positif. Selain itu imbangi bakat kepemimpinan mereka dengan pengelolaan emosi yang baik, termasuk mengembangkan empati kepada orang lain.
Semoga ibu diberi kekuatan untuk bisa menemani putra dan putri ibu menjadi anak shalih/ah. Amin.•

***) Emmy Wahyuni, Spsi (seorang pa­kar psikologi)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *