smamda
Tafsir

Puasa Ramadhan dan Beberapa Aspek Hukumnya (9); Surat Al-Baqarah Ayat 183-187

Oleh karena itu jalan satu-satunya untuk menyatukan sistem penanggalan Islam termasuk penentuan awal bulan-bulan ibadah adalah hisab. Atas dasar itu tuntutan untuk menggunakan hisab semakin menguat sejalan dengan semakin tumbuhnya kesadaran atas tidak memadainya lagi rukyat pada masa kini sebagai metode untuk menetapkan awal bulan-bulan Islam. Jadi dapat ditegaskan bahwa peralihan kepada hisab merupakan suatu tuntutan yang tidak mungkin ditawar lagi. Peralihan dari rukyat ke hisab itu bukan suatu yang bertentangan dengan sunnah. Justru sebaliknya memiliki landasan syar’i dan ilmiah yang kuat. Di antara alasan beralih dari rukyat kepada hisab adalah:
1.    adanya sejumlah kelemahan penggunaan rukyat pada masa kini sebagaimana dikemukakan terdahulu,
2.    perlunya kita menyatukan kalender Islam dan secara khusus perlunya menyatukan jatuhnya hari Arafah serentak di seluruh dunia agar kita dapat melaksanakan ibadah tepat pada momen yang sesungguhnya, yang itu hanya dapat dilakukan dengan hisab,
3.    melakukan rukyat bukan ibadah, melainkan hanya sebagai sarana belaka yang bisa berubah dari satu zaman ke zaman lain, (Rida, Tafsir al-Manar, II: 151-152; az-Zarqa, Fatawa az-Zarqa (Damaskus: Dar al-Qalam – Beirut: Dar asy-Syamiyyah, 1425/2004), 161-162).
4.    perintah Nabi saw untuk melakukan rukyat itu adalah perintah berilat (perintah yang disertai dengan kausa),
5.    Penggunaan hisab juga memiliki landasan syar‘i baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam Hadits.

Perintah syar‘i yang disertai ilat (kausa) berlaku selama kausa itu ada. Apabila kausanya sudah tidak ada, perintah itu tidak berlaku lagi sesuai dengan kaidah, “Hukum itu berlaku menurut ada tidaknya ilat.” (Ibn al-Qayyim, I‘lam al-Muwaqqi‘in ‘an Rabb al-‘Alamin (Beirut: Dar al-Fikr li at-Tiba‘ah wa an-Nasyr wa at-Tauzi‘, 1424/2003), II: 394). Ilat (kausa) perintah rukyat diterangkan dalam Hadits Ibn ‘Umar berikut,

3

Dari Ibn ‘Umar, dari Nabi saw (diwartakan) bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR al-Bukhari dan Muslim]. (Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, h. 346, hadis no. 1913; Muslim, Sahih Muslim, I: 482, hadits no. 15 [1080]).
Ini artinya bahwa Nabi saw memerintahkan rukyat karena itulah sarana mudah yang tersedia pada zaman itu. Ketika zaman berubah di mana kemajuan ilmu astronomi telah berkembang pesat seperti pada zaman sekarang, maka rukyat, karena tidak memadainya, dapat ditinggalkan dan kita beralih kepada hisab karena ia dapat memenuhi kebutuhan kita zaman sekarang.
Perubahan hukum dari semula menggunakan rukyat kemudian beralih kepada penggunaan hisab adalah sah sesuai dengan kaidah perubahan hukum, yang menyatakan,

4
Tidak diingkari perubahan hukum karena perubahan zaman. (Zarqa, al-Madkhal al-Fiqhi al-‘Amm, edisi diperbaharui (Damaskus: Dar al-Qalam dan Beirut: ad-Dar asy-Syamiyyah, 1418/1919), II: 1009).

Menurut kaidah ini hukum dapat berubah apabila syarat-syarat perubahan itu dipenuhi, yaitu:
a).    adanya tuntutan kemaslahatan untuk berubah, yang berarti bahwa apabila tidak ada tuntutan dan keperluan untuk berubah, maka hukum tidak dapat diubah;
b.    hukum itu tidak mengenai pokok ibadah mahdah, melainkan di luar ibadah mahdhah, yang berarti ketentuan-ketentuan ibadah mahdah tidak dapat diubah karena pada dasarnya hukum ibadah itu bersifat tidak tedas makna;
c.    hukum itu tidak bersifat qath’i (pasti); apabila hukum itu qath’i, maka tidak dapat diubah seperti ketentuan larangan makan riba, makan harta sesama dengan jalan batil, larangan membunuh, larangan berzina, wajibnya puasa Ramadhan, wajibnya shalat lima waktu, dan sebagainya;
d.    perubahan baru dari hukum itu harus berlandaskan kepada suatu dalil syar’i juga, sehingga perubahan hukum itu tidak lain adalah perpindahan dari suatu dalil kepada dalil yang lain. (Syamsul Anwar, “Metode Usul Fikih untuk Kontekstualisasi Pemahaman Hadits-hadits Rukyat,” Tarjih, Vol. 11 (1) 1434 H / 2013 M, h. 118).

Keempat syarat perubahan hukum sebagaimana dikemukakan di atas sesungguhnya telah terpenuhi untuk me­lakukan perubahan hukum dari peng­gunaan rukyat kepada penggunaan hisab. Pertama, kenyataan tidak adanya kalender global hijriah, tidak dapatnya rukyat mengkaver seluruh umat Islam di semua penjuru dunia, dan terjadinya perbedaan jatuhnya hari Arafah berbeda antara Makkah dan kawasan lain di timur atau di barat bumi pada tahun tertentu akibat penerapan rukyat, dan perlunya kepastian penentuan tanggal jauh hari sebelumnya, se­mua ini mengharuskan kita beralih kepada hisab demi mengatasi semua problem tersebut. Kedua, rukyat hanyalah sarana untuk menentukan waktu dan bukan ibadah itu sendiri. Oleh karena itu sarana dapat saja berubah demi mencapai tujuan pokok secara lebih efektif. (Rida, “Penetapan Bulan Ramadhan,” h. 88; dan Syah, al-Hisabat al-Falakiyyah, h. 125). Ketiga, perintah melakukan rukyat bukanlah perintah yang qath’ī karena perintah itu berdasarkan kepada Hadits ahad. Dalam kaidah ilmu Hadits dan usul fikih, Hadits ahad tidak menimbulkan pengetahuan pasti (qath’i), melainkan menimbulkan hukum yang tidak pasti (zhanni).  (Al-Gazzali, al-Mustasfa, h. 187). Oleh ka­rena hukum menggunakan rukyat itu bukan hukum yang qath’i, maka ia tidak kebal terhadap kemungkinan diadakan perubahan. Keempat, penggunaan hisab sebagai hukum hasil perubahan mendapatkan dasar-dasarnya di dalam Al-Qur’an dan Sunnah.•
Bersambung

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *