Berita

Syafii Maarif: Saya Tidak Membela Ahok

ahok

YOGYAKARTA. suara muhammadiyah,-Pasca dialog yang cukup panas di TV swasta nasional tentang permintan maaf Ahok, ada berbagai macam tanggapan umat terhadap pernyataan Buya Syafii Maarif yang diwawancarai live dari Yogyakarta. Saat itu Buya menyatakan dirinya tidak begitu kenal Ahok (bukan tidak kenal Ahok)

Apalagi setelah acara itu selesai, juga beredar foto makan siang bersama antara Buya Maarif dengan Ahok. Untuk foto yang beredar, Direktur Eksekutif maarif Institute Fajar Riza Ulhaq telah memberikan klarifkasi bahwa  foto itu adalah kejadian 21 Desember 2015. Saat itu Buya menghadiri acara di Balaikota. Desember tahun lalu, berita tentang hal itu juga sudah dimuat di banyak media.

Sedangkan untuk “kegaduhan” tentang Ahok, Buya Syafii Maarif berpendapat kalau gejala Ahok adalah gejala kegagalan parpol Muslim melahirkan pemimpin, tapi tidak mau mengakui kegagalan ini.

Melalui pesan Whatsapp Mantan ketua Umum PP Muamadiyah ini juga menegaskan bahwa dirinya tidak membela Ahok.

Berikut ini pesan lengkap Buya Syafii Maarif yang diterima Suara Muhammadiyah dengan bebeberapa penyempurnaan ejaan.

Gejala Ahok adalah gejala kegagalan parpol Muslim melahirkan pemimpin, tapi tidak mau mengakui kegagalan ini. Selama tidak jujur dalam bersikap, jangan berharap kita bisa menang.

Saya tidak membela Ahok. Yang saya prihatinkan, gara-gara seorang Ahok, energi bangsa terkuras habis. Anda harus mampu membaca masalah bangsa ini secara jernih, tidak dengan emosi. Selamat berfikir. Maarif (ies).

18 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Bersihkan Muhammadiyah dari para pengusung liberalisme …

    Muhammadiyah seharusnya bertindak tegas kepada para aktivis liberal, termasuk kepada Syafi’i Maarif dan Ma’arif Institut, yang pemikirannya terkesan jelas berusaha menyelewengkan ajaran Islam. dan, itu tidak sesuai dengan tujuan dari Muhammadiyah dalam mendakwahkan Islam.

  • Syafi’i Maarif makin jauh dari umat. Beliau tidak empati dengan suasana bathin ummat. Seperti yang pernah beliau tulis sendiri, saat ini beliau “merasa benar di jalan yang sesat”

  • Nah…Buya…demikianlah esensi ajaran Kyai Dahlan. Banyak kepemimpinan organisasi yg notabene adalah ormas keagamaan yg harusnya konsen pada permasalahan umat (kesenjangan kesejahteraan, rendahnya kualitas pendidikan dll) lebih tertarik pd “perebutan kekuasaan”… Banyak energi terbuang sis-sia memang…seperti kata Buya. Kita masih gemar adu otot, adu kuantitas (demo) daripada adu kualitas…hingga kegagalan menyiapkan kader/pemimpin dari umat kita. Kita masih sangat membutuhkan Buya.

  • Kalo kekuasaan yang kita kejar, kekuatan akan makin jauh…tapi kalo kekuatan yang kita kejar maka kekuasaan InsyaAllah akan ikut… Muhammadiyah beruntung masih “punya” Buya Syafi’i Ma’arif

    • Saya se7 sama mas yudi kita beruntung punya Buya syafii maarif beliau tidak silau dgn hiruk pikuk Politik tapi pikiran Beliau patut ditiru Beliau benar2 orang tua yang patut kita Contih

  • A : Ternyata hanya dengan jamuan makan siang juga bisa mempererat tali silaturahim ya..???
    B : Jangankan jamuan makan siang…, dengan sowan saja sdh bisa mempererat silaturahim bahkan menjadi saudara…
    A : ohhh.. gitu ya..??????

  • Copas :Gejala Ahok adalah gejala kegagalan parpol Muslim melahirkan pemimpin, tapi tidak mau mengakui kegagalan ini. Selama tidak jujur dalam bersikap, jangan berharap kita bisa menang. Kegagalan ini bukan hanya partai politik ini kegagalan Umat Islam termasuk Muhammadyah , termasuk Buya Syafei Maarif , beliau gagal dan juga harus jujur , jangan hanya bisa menunjuk tetapi tidak mampu mengarahkan telunjuk pada diri sendiri

  • Persis Ahok cara Buya bersilat lidah. Beralibi kiri kanan utk menghindari kritik dan sindiran. Memang komentar selama ini nyaris tak ada yg positif utk Parpol yg memproduk pemimpin Muslim. Gejala Ahok adalah gejala kegagalan parpol utk menciptakan Pemimpin Muslim. Seolah dgn mudah nya mengatakan tdk membela Ahok tapi menjadikan Ahok sbg contoh kebaikan dlm menciptakan Pemimpin. Bagaimana orang bisa percaya pada Buya dgn cara komentar seperti itu. Sudahlah, lebih baik cepat bertobat dan mohon ampun pada Allah SWT sebelum semuanya terlambat.

    • Mantab mas ..”Seolah dgn mudah nya mengatakan tdk membela Ahok tapi menjadikan Ahok sbg contoh kebaikan dlm menciptakan Pemimpin” retorika, harus disindir juga dengan retorika, ghazwul fikri ya mas..

  • Muhammadiyah sudah kemasukan virus Liberal dikomandoi oleh mantan Ketumnya. Pikirannya jauh dari indikator pembela Islam, bisanya hanya menghujat Islam. Lihat saja komen2nya selalu menghujat Islam, kl seperti mad Ulil.

  • Buya, masih banyak pemimpin Islam yang berhasil, sebagai contoh Gubernur NTB, Walikota Bandung, dll, tapi sayangnya mereka tidak tereskpose oleh media.

    Buya, jangan memperlebar masalah, ini bukan masalah kepemimpinan, melainkan ini masalah penistaan Agama, Agama Buya Sendiri!. Buya boleh punya pendapat yang berbeda, yang mungkin benar, tapi mungkin juga SALAH. Selesaikan perbedaan ini dalam Majelis Islam, bukan dengan sendiri sendiri, yang malah menunjukkan perpecahan yang pada gilirannya membuat musuh-musuh Islam menjadi senang.

    Coba tanyakan kepada Buya sendiri? apa yang telah Buya perbuat untuk melahirkan pemimpin Islam? jika hasilnya tidak memuaskan Buya, coba tunjuk diri Buya sendiri dan katakan ” Ini kegagalan saya sendiri”.

  • PERIKSA SEGERA REKENING dan harta kekayaan baik itu HIBAH dari PEJABAT NEGARA..sangat RISKAN jika MENJUAL AQIDAH demi DUNIA

  • “Gejala Ahok adalah gejala kegagalan parpol Muslim melahirkan pemimpin, tapi tidak mau mengakui kegagalan ini. Selama tidak jujur dalam bersikap, jangan berharap kita bisa menang.”

    Apakah dengan alasan itu kita tidak boleh mengamalkan surat al maidah 51?

    Apakah dengan alasan itu setiap muslim mengamalkan itu dibilang membodohi?

    Saya jadi bertanya utk apa saya jadi muslim jika untuk mengamalkan isi al qur’an dibilang membodohi.

  • Jadi menurut Buya, cuma Ahok yg sukses jadi pemimpin gitu? Ternyata bukan hanya org awam, tapi buya juga tertipu dg setingan media kaum kafir & liberal. Media yg gencar pencitraan terhadap Ahok & menutupi borok2nya (faktanya Ahok tdk lebih baik dari Gubernur2 sebelumnya).
    & perlu kita ketahui bahwa mayoritas ulama yg melakukan aksi bela Islam bukanlah politisi & mereka tdk mengharapkan jabatan.
    Ahok lah yg suka bikin kegaduhan Buya.. Suka berkata kasar, suka mengumpat, suka meremehkan dan menghina org lain sampai puncaknya menghina Al Quran dan ulama. Jadi janganlah kita membalikan kenyataan, seolah-olah ulama yg membela agamanya yg dituduh membuat kegaduhan.
    Maaf kami sangat menghormati Buya.. Kembalilah pada Al Quran dan Sunah dlm berhujjah Buya, janganlah mendewakan akal semata.
    Sekali lagi mohon maaf bila kami yg bodoh ini berani mengritik Buya yg ilmunya lbh tinggi. Semoga Allah selalu memberi taufik & hidayah serta kesehatan pd Buya.

  • Untuk berubah kita butuh semangat muda yang tua paling bisa ngasih saran tapi jangan sekuler dan liberal sehingga mampu memotivasi yang muda, kalau tak mampu karena sudah tua ya leye2 (istirahat sambil tiduran) saja … Kan enak.