22.1 C
Yogyakarta
Senin, Agustus 10, 2020

Ikatan Pelajar Muhammadiyah Margasari Gelar Aksi Peduli Sosial Rohingya

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inilah Rekam Jejak Prof Ambo Asse, Rektor Baru Unismuh Makassar

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kini memiliki nakhoda baru. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Prof Dr H Ambo Asse,...

Prof Ambo Asse Dilantik Jadi Rektor Unismuh, AMM Siap Berikan Dukungan Penuh

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Jika tak ada aral melintang, Prof. Dr. H. Ambo Asse M.Ag. akan dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh)...

Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Lepas Pengabdian Thalabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengabdian merupakan salah satu dari Tri Dharma pergururan tinggi. Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM)...

Berita Hoax Covid-19 Lebih Cepat Menjangkiti Dibanding Virusnya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sudah beberapa kali ini berita hoax terkait Covid-19 terus bermunculan dan meresahkan masyarakat luas. Berita hoax Covid-19 justru...

Salurkan KUR Syariah, Menko Perekonomian Dukung UMKM Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dampak dari Pandemi Covid-19 tidak bisa dipungkiri menghantam semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, semua lapisan tanpa pandang...
- Advertisement -

MARGASARI, Suara Muhammadiyah – Tragedi kemanusiaan yang dialami etnis minoritas muslim Rohingya, Myanmar, menggugah rasa simpati para siswa SMP, SMA dan SMK Muhammadiyah Margasari Kabupaten Tegal. Ratusan pelajar Muhammadiyah  menggelar aksi penggalangan dana bagi para korban kekerasan. Dalam aksi tersebut, para siswa membawa kontak infaq yang terbuat dari kardus bekas minuman air mineral selanjutnya mereka berkeliling di Pasar Margasari. Pada 30/11/2016

Devika, siswa kelas 11  yang menjadi peserta dalam aksi tersebut, mengatakan bahwa apa yang dilakukan terhadap kaum muslim di Myanmar tersebut tidak berperikemanusiaan. “Kami mengecam dan mengutuk pembantaian yang terjadi,” katanya.

Dia mengatakan, apa yang terjadi di Rohingya merupakan bentuk ketidakadilan terhadap Muslim di Myanmar.

Menurutnya, ketidakadilan itu selalu dilakukan terhadap orang-orang Islam yang menjadi minoritas. Sementara ketika Islam berada pada posisi mayoritas, selalu memberikan keadilan dan bahkan tidak ada ketidakadilan.

“Di Burma, ada yang meraih Nobel Perdamaian, tapi ke mana dia (Aung San Suu Kyi)? Mengapa dia tidak bersuara atas kasus ini? Jika memang seperti ini, sebaiknya Nobel Perdamaian tersebut dicabut karena tidak bisa memberikan perdamaian bagi seluruh rakyat Myanmar,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah Margasari Lilis Rohmayanti mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk aksi solidaritas kepada penduduk muslim Rohingya di Myanmar. “Kami sebagai umat Islam merasa ikut prihatin dengan adanya kekerasan yang tidak berperikemanusiaan. Saya yakin, apa pun agamanya pasti mengutuk kekerasan tersebut,” ujarnya.

Abdul Wachid selaku Guru Muhammadiyah berkomentar, “Apa yang terjadi di Myanmar telah melukai masyarakat Indonesia yang sebagian besar umat Islam. Dia juga meminta umat Islam di dunia untuk bertindak dan tidak boleh diam. Termasuk juga PBB yang selama ini terkesan diam atas kasus tersebut, sementara jika ada kasus lainnya, cukup lantang. Di mana suara PBB? Kami belum dengar membuat statement pada pemerintah Myanmar,” ujarnya.

Seharusnya PBB bisa melindungi semua warga seluruh dunia, bukan sekelompok saja,” katanya. Abdul Wachid mengatakan, dalam aksi itu juga dilakukan penggalangan dana. Dari penggalangan dana tersebut, akhirnya berhasil terkumpul lebih dari Rp. 1 juta yang akan disalurkan untuk korban kekerasan di Rohingya.

“Untuk penyaluran nanti akan kami sampaikan ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Tegal melalui Lazis Mu akan mengelolanya,” tandas Moh. Atiq  selaku Waka Kesiswaan SMA Muhammadiyah Margasari.

Dia menandaskan, penggalangan dana ini sekaligus sebagai pelatihan terhadap kepekaan dan solidaritas para siswa. Karena sumbangan tidak dipatok nominal dan benar-benar sukarela. Diharapkan dengan pendidikan solidaritas tersebut, nantinya mereka akan tanggap ketika ada kejadian seperti ini ( Hendra Apriyadi ).

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles