Kolom

Rupiah Zonder Muhammadiyah?

11183155747-ir_djuanda_di_uang_rupiah_baru_tribunnews-com
Shares

Oleh: Muhammad Yuanda Zara*

Pemerintah, melalui Bank Indonesia (BI) baru saja mengeluarkan 11 uang rupiah baru. Ada 12 muka pahlawan di uang tersebut, yang sebagian besarnya adalah muka baru alias belum pernah ditampilkan dalam rupiah. Kalangan Muhammadiyah merespon uang baru ini dengan beragam. Ada yang memandang bahwa kali ini rupiah zonder (tanpa) Muhammadiyah, salah satu organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia. Tapi ada pula klaim bahwa Muhammadiyah diwakili oleh Soekarno dan Djuanda Kartawawidjaja. Pentingkah gambar wajah di mata uang? Bagaimanakah sebenarnya representasi Muhammadiyah, baik di uang baru, maupun di sepanjang sejarah uang Indonesia? Bagaimana dengan para tokoh Muhammadiyah yang lebih populer?

Gambar di mata uang merupakan aspek yang sangat krusial dalam kehidupan suatu negara-bangsa. Wajah-wajah dalam rupiah merepresentasikan pandangan pemerintah terhadap sejarah, pahlawan, dan keterwakilan berbagai kelompok dalam masyarakatnya. Mencetak muka di mata uang berarti merawat ingatan tentang seorang tokoh ternama, atau memperkenalkan tokoh baru yang belum dikenal. Bohlman (2004: xv) yang meneliti mata uang Uni Eropa, Euro, menyebut bahwa gambar-gambar yang khas, dalam hal ini di uang Euro, merupakan “suatu cara untuk melestarikan identitas yang unik dari masing-masing bangsa”. Inipun berlaku bagi rupiah. Di samping itu, bayangkan kekuatan public relation yang dibawa rupiah baru: Uang baru ini akan berada di tangan ratusan juta orang Indonesia, bahkan juga di luar negeri lewat penukaran uang, sehingga merupakan salah satu medium yang efektif mempromosikan wajah yang dibawanya.

Di dalam uang yang baru ini, bisa dikatakan bahwa Muhammadiyah hanya separoh terwakili. Kaitan Djuanda dengan Muhammadiyah memang tidak diragukan lagi. Djuanda adalah anggota Muhammadiyah. Ayahnya sendiri, R. Kartawidjaja, merupakan pengurus Muhammadiyah di Tasikmalaya. Pada tahun 1936-1942 Djuanda bertugas sebagai Direktur AMS Muhammadiyah di Jakarta. Bahkan, seminggu sebelum meninggal, Djuanda sempat berkirim surat pada Muhammadiyah Ranting Menteng, Jakarta, agar dirinya tetap diakui sebagai anggota Muhammadiyah.

Dengan berpandangan bahwa setiap individu mempunyai berbagai macam identitas (sekolah, organisasi kemasyarakatan, afiliasi politik, pekerjaan, suku bangsa), dengan sebagian tergolong menonjol sementara sebagian lainnya tidak, maka kemunculan Djuanda boleh dibilang tidak terlalu menampilkan identitas kemuhammadiyahan. Dalam publikasi resmi BI, Djuanda diperkenalkan sebagai “Pengukuh Kedaulatan Indonesia”. Tidak ada referensi sama sekali ke Muhammadiyah. Bandingkan dengan KH Idham Chalid, yang diperkenalkan sebagai “Guru Besar Nahdlatul Ulama”, jadi secara langsung menunjukkan afiliasi keorganisasiannya. Singkatnya, dari sisi pemerintah, arti penting Djuanda ialah dilihat dari kontribusinya bagi “kedaulatan”, dalam hal ini peran krusialnya dalam soal kedaulatan Indonesia atas lautnya.

Di luar identitas sebagai negarawan ini, Djuanda lebih banyak eksis dalam memori orang Indonesia dalam tiga kata kunci lain: administrator, teknokrat, dan Sunda. Ini tampak dari berbagai karya yang mengulas biografi Djuanda, baik yang utuh maupun populer. Sedikit sekali diungkap peran Djuanda dalam Muhammadiyah. Tapi mungkin bukan salah publik juga untuk menganggap bahwa Djuanda tidak merepresentasikan Muhammadiyah. Ini terjadi karena terlampau sedikitnya informasi yang tersedia soal relasi Djuanda dan Muhammadiyah. Dewasa ini hanya ada satu biografi utuh Djuanda, plus satu buku in memoriam, serta beberapa tulisan pendek tentang Djuanda. Informasi yang ada kebanyakan mengulang informasi lama yang sudah jamak diketahui. Padahal, posisinya di Muhammadiyah kala itu tergolong tinggi, dan ia sendiri hingga akhir hayatnya merupakan anggota Muhammadiyah.

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Edisi Mendatang

  • promo-07.jpg
  • iklan.jpg
  • SS-web1.jpg
  • koperasi.jpg
  • darul-khoir.jpg