smamda
Berita

Mengelola Konflik di Masyarakat, Kuncinya Adalah dengan Berpikir Jenih

16110302_240716489711706_8494029935080374272_n

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Konflik merupakan pertentangan yang timbul di dalam diri seseorang maupun dengan orang lain yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupa perselisihan, adanya ketegangan, atau munculnya kesulitan-kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Demikian disampaikan Wuri Rahmawati, Anggota Divisi Khusus Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dalam acara Diskusi Mingguan MPM dengan tema “Manajemen Konflik Dalam Masyarakat” di Aula Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Kamis malam (19/1).

Sebuah konflik, kata Wuri, pada dasarnya tidak terlepas dari diri manusia. Konflik dapat timbul akibat adanya pertentangan-pertentangan atau kebimbangan dalam diri manusia dan kehidupannya. Ia juga menjelaskan bahwa terdapat dua jenis konflik yakni konflik interpersonal dan konflik intrapersonal.

Senada dengan hal tersebut, Peserta Diskusi fatah mengatakan bahwa konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Menurutnya, kehidupan dikatakan dinamis manakala manusia merasakan konflik. “Sebuah kehidupan dikatakan dinamis justru ketika terdapatnya konflik. Jika hidup terlepas dari konflik, maka kehidupan dapat dikatakan statis,” terangnya.

Wuri menjelaskan, kunci utama dalam menyikapi suatu konflik yaitu dengan tetap tenang dan berpikiran jernih. Karena konflik pada dasarnya tidak dapat dihindari. Tapi sebuah konflik dapat diminimalisasi dampak penyebarannya. “Konflik pada dasarnya tidak dapat dihindari apapun itu konfliknya. Tapi sebuah konflik dapat dimimalisasi dampak penyebarannya. Oleh karena itu, kuncinya adalah tetap tenang dan berpikiran jernih. Karena jika tidak, justru akan memperuncing keadaan,” paparnya.

Beberapa faktor penyebab konflik di suatu kelompok atau masyakat di antaranya yaitu perbedaan bendapat, perbedaan kepentingan, perbedaan pemikiran, serta kurangnya transparansi dalam kelompok-kelompok masyarakat. “Adanya konflik dapat menimbulkan ketidakpedulian antar kelompk, munculnya kubu, bahkan bisa membubarkan sebuah kelompk atau masyarakat,” tambah Wuri.

Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam meminimalisasi konflik yaitu dengan cara mencari akar masalah konflik dari berbagai sisi dan sudut pandang, mendiskusikan dan merumuskan solusi dari penyelesaian konflik, menjelaskan solusi kepada pihak yang berkonflik, serta  memonitoring atas implementasi dari solusi (Yusri).

 

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *