Aoki Takenobu, Phd dan Masayuki Akutsu, Ph. D dalam diskusi ruti bersama Redaksi Suara Muhammadiyah, Jum'at (10/3)
Aoki Takenobu, Phd dan Masayuki Akutsu, Ph. D dalam diskusi ruti bersama Redaksi Suara Muhammadiyah, Jum'at (10/3)
Berita

Sambangi SM, Ini Kata 2 Peneliti Jepang Tentang Islam Indonesia

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Sebagai agenda rutin, setiap bulan Redaksi Suara Muhammadiyah menggelar diskusi yang mendatangkan berbagai tokoh dan peneliti dari dalam dan luar negeri. Dalam kesempatan kali ini, Redaksi SM kedatangan dua tamu peneliti dari Jepang yaitu Aoki Takenobu, Phd dan Masayuki Akutsu, Ph. D. Selain sama-sama mengajar di Chiba University, keduanya melakukan kolaborasi riset yang berfokus kepada isu Lingkungan dan Perspektif Islam.

Masayuki Akutsu yang menaruh konsen dalam sejarah, mengatakan bahwa dibandingkan dengan kondisi keberagamaan yang ada di daratan Timur Tengah, Islam dan budaya di Indonesia memainkan peran yang sangat krusial dalam di dalam membangun tatanan masyarakat di Indonesia. Melihat Iklim beragama yang ada, Masayuki pun menilai masyarakat Indonesia memiliki kemampuan dalam mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang khususnya diajarkan di dalam al-Qur’an, Hadits kedalam perilaku dan keseharian mereka.

“Kondisi Indonesia sangat baik dalam mengaplikasikan antara apa yang diajarkan di dalam Islam dan al-Qur’an dengan perilaku dan keseharian mereka. Ditambah dengan keberadaan organisasi seperti Muhammadiyah ataupun Nahdlatul Ulama,” tuturnya Jum’at (10/3) di ruang Redaksi Suara Muhammadiyah.

Muslim Indonesia sendiri mampu menyelaraskan antara ajaran Islam dengan budaya yang dimilikinya sehingga, menurut pandangannya, memiliki cara berislamnya sendiri dan tidak perlu menyamakan atau berkiblat kepada Islam di Timur Tengah. Bagi Masayuki, tidak masuk akal bagi masyarakat Islam yang mencoba memisahkan diri dari budaya mereka sendiri.

“Ini penting bagi masyarakat Muslim di berbagai negara untuk memahami Islam secara benar, dan menyesuaikan dengan iklim budaya mereka sendiri. Arab bukanlah Islam, namun Arab adalah budaya. Banyak yang salah menganggap bahwa budaya Arab adalah Islam,” tegasnya.

Komunitas Muslim Hui adalah salah satu komunitas Islam di Cina yang mencoba untuk melakukan akulturasi dengan budaya setempat yang dikenal kental dengan paham konfusianisme. Oleh karenanya, Muslim Hui dan Muslim Indonesia pun menjadi salah satu contoh yang baik untuk dibandingkan dengan kondisi masyarakat Islam di Timur Tengah.

“Walaupun mereka menghadapi tekanan yang luar biasa dari lingkungannya dan juga dengan pemerintah setempat, Muslim Hui berhasil menciptakan lingkungannya sendiri,” imbuh

Sedangkan tentang Muhammadiyah, Aoki sendiri mengakui bahwa Islam di Indonesia tidak jauh dipengaruhi oleh keberadaan gerakan seperti Muhammadiyah. Dirinya pun kagum dengan ide-ide dan pemikiran Muhammadiyah. Sembari bercerita tentang bagaimana kisah Kiai Dahlan yang pulang ke Indonesia setelah belajar di Makkah membawa pemikiran-pemikiran modernisnya.

“Pulang dari Makkah Kiai Dahlan membawa Biola, bahwa pakaiannya biasa saja, tidak memakai pakaian orang Arab. Ia juga menggunakan meja, kursi dan papan tulis di sekolah yang didirikannya. Banyak masyarakat yang menentang, namun Kiai Dahlan menjawab bahwa tidak masalah menggunakannya demi mendalami ajaran Islam,” tuturnya.

“Ide-ide Muhammadiyah seperti inilah yang dalam hemat saya harus tetap dipertahankan dan disebarkan. Itulah yang membuat Muhammadiyah sangat penting peranannya,” tandasnya (Th).

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *