obrolan_cendekia
17361853_10209287839182450_4383706638707833544_n
Berita

Petani Teluk Jambe Dipindah ke Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ratusan petani korban penggusuran PT. Pertiwi Lestari yang tergabung dalam Serikat Tani Teluk Jambe, Karawang, Jawa Barat akhirnya menempati Panti Asuhan Muhammadiyah Tanah Abang. Sebelumnya, mereka menempati gedung PP Muhammadiyah Menteng Jakarta sejak Kamis (16/3) malam.

Ketua Kokamdamsar PP Pemuda Muhammadiyah sekaligus Koordinator Posko Al Maun tempat petani mengungsi, Mashuri Mashuda menuturkan ada 217 jiwa pengungsi yang saat ini ditampung. Dari jumlah tersebut terdapat 63 anak-anak yang akan mendapatkan layanan pendidikan di Sekolah Muhammadiyah serta layanan kesehatan dan lainnya.

“Kami terima mereka karena darurat kemanusiaan. Kami juga akan lakukan advokasi kemanusiaan. Kami akan tinjau sampai 1 minggu kedepan perkembangannya bagaimana,” ujar Mashuri di Jakarta, Senin (20/3). Mashuri menambahkan selain pendidikan dan hiburan untuk anak, Muhammadiyah juga akan memberikan pendampingan psikososial untuk orang tua dan ibu.

Salah satu relawan Pemuda Muhammadiyah, Ahmad H Machsuni menyatakan bahwa para petani juga diberikan siraman rohani. “Malam ketiga para petani masih menginap di Gedung PP Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah memfasilitasi tempat berteduh dan makan. Untuk memenuhi kebutuhan rohani mereka, Pemuda Muhammadiyah mengajak mereka mulai shalat dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.17352481_1883199048581690_6347353867391206152_n

Pada Rabu, 23 Maret 2017, PP Muhammadiyah akan menggelar rapat terbatas termasuk mengundang Kontras, LBH Jakarta, Dompet Dhuafa dan lembaga lainnya untuk mensinergikan dan merumuskan langkah kebijakan advokasi selanjutnya yang tepat sasaran.

Ketua Dewan Pembina Serikat Tani Teluk Jambe, Aris Wiyono mengatakan pihaknya sangat terbuka bagi siapa pun yang ingin lakukan advokasi terkait konflik agraria petani teluk jambe dengan PT. Pertiwi Lestari.

Aris berujar para petani akan tetap bertahan di Jakarta hingga ada penyelesaian konkrit dari pemerintah. “Kami akan bertahan sampai ada penyelesaian konkrit karena kalau pulang pum sudah tidak ada rumah,” tegas Aris (Ribas).17426242_10209287839342454_5381524892985513030_n