smamda
Dinamika persyarikatan

Gelar Musyda, Nasyiatul Aisyiyah Metro Usung Reposisi Perempuan

img-20170319-091151jpg_q2tt7

METRO, Suara Muhammadiyah- Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Metro menggelar Musyawarah Daerah (Musyda) ke-5  pada Sabtu-Minggu (19-20/3). Kegiatan bertajuk “Gerakan Perempuan Muda Muhammadiyah Berkemajuan Untuk Kemandirian Bangsa” ini diselenggarakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Metro.

Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini, Wali Kota Metro yang diwakili Asisten 1, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Metro, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Metro, Ketua DPRD Metro, Pimpinan Ortom Muhammadiyah Metro, Pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Metro, serta para pimpinan cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Metro.

Selain kegiatan Musyda ke-5, dalam kesempatan tersebut juga digelar seminar nasional bertajuk “Reposisi Perempuan Sebagai Pelopor Kebangkitan Peradaban” dengan menghadirkan Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini sebagai pembicara tunggal dalam seminar tersebut.

Ketua PDNA Metro, Tri Hanifah menuturkan bahwa pengambilan tema dalam Musyda ke-5 ini yaitu berangkat dari tantangan zaman dengan derasnya arus kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Menurutnya, kondisi ini menuntut organisasi perempuan untuk mampu menjawab perkembangan zaman yang ada dengan cara menghimpun dan menyusun program-program adaptif, serta membangun dakwah perempuan yang kreatif di era digital.

“Bagaimana upaya untuk bisa berkontribusi menjadi pelopor dalam membangun peradaban yaitu membangun karakter generasi umat dan bangsa di era digital, di era linimasa ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum PPNA  Diyah Puspitarini dalam sambutannya menyampaikan perlunya dua kesiapan dalam berorganisasi. Yaitu, kata Diyah, kesiapan memimpin dan kesiapan dipimpin untuk melanjutkan tradisi kepemimpinan dan kebijakan organisasi.

Lebih lanjut Diyah menjelaskan, bahwa Nasyiatul Aisyiyah sebagai sebuah gerakan perempuan muda Muhammadiyah harus mampu merespon persoalan sosial yang terjadi di lingkungannya misalnya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Nasyiatul Aisyiyah perlu mengadvokasi persoalan-persoalan ini, selain kita harus mendidik diri kita, anak-anak kita dan para perempuan muda lainnya,” tandasnya (Amirudin/ Yusri).