30.6 C
Yogyakarta
Kamis, Oktober 1, 2020

Haedar Nashir: Semua Harus Rela Berkorban Demi Nilai

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Menguji Kualitas Pilkada dengan Protokol Kesehatan, Apakah Cukup?

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Semenjak kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal bulan Maret 2020, banyak hal yang sebenarnya...

Berhasil Lampaui Target, LLHPB ‘Aisyiyah Persiapkan Keberlanjutan Program

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang pengakhiran program “Membangun Kelentingan Keluarga dan Komunitas dalam Menghadapi Masa Pandemi Covid-19”, LLHPB PP Aisyiyah mempersiapkan Exit...

Farmasi UMP Juara Nasional Karya Tulis Ilmiah

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Tim Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berhasil meraih juarai Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) BRM FMIPA...

Upaya UMMAT Gelar Wisuda di Masa Pandemi

MATARAM, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar wisuda luring (langsung), untuk angkatan 48 dan 49, Diploma dan Strata-1 (S-1). Wisudah...

Ormas Kegamaan Punya Peran Signifikan Menanggulangi Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Diklat dan Litbang Kemenag RI bekerjasama dengan Al-Wasat...
- Advertisement -

BATAM, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menyatakan bahwa para pemimpin harus memiliki semangat rela berkorban dalam menegakkan nilai-nilai moral demi kemajuan bangsa. Hal itu dikatakan dalam acara Pengajian Khusus Ulil Amri bertema ‘Hakikat Taat Allah Taat Rasul Taat Ulil Amri’ yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikn Kader (MPK) PDM Kota Batam.

Dalam setiap level pimpinan, kata Haedar, godaan bagi para penguasa akan selalu ada. Utamanya godaan penyalahgunaan kekuasaan. Tindakan itu akan berakibat pada tumbuh suburnya ketidakadilan dan kesengsaraan rakyat. “Tidak memberi kesejahteraan bagi rakyat,” kata Haedar di Gedung Bank Indonesia Kota Batam, Sabtu (25/3).

Para pejabat yang hari ini masuk dalam pusaran kekuasaan, sebagian besar tidak kuat menahan godaan. “Para pejabat yang masuk ke KPK itu adalah orang-orang baik, namun ada ketergodaan ketika dia berkuasa,” tuturnya.

Selain karena faktor penyalahgunaan kekuasaan, Haedar juga memberi catatan tentang lemahnya sistem yang berlaku. Sistem yang longgar ini menyebabkan terjadinya akumulasi penyalahgunaan kekuasaan yang bisa dilakukan dengan mudah oleh siapa saja.

Namun Haedar optimis, masih banyak para pejabat dan penguasa yang menggunakan hati nurari, ketulusan, dan kesungguhan dalam membangun bangsa. “Semangatnya sama, ingin bangsa ini maju,” katanya.

Haedar juga menyampaikan bahwa kesungguhan para pemimpin dalam melaksanakan kebijakan-kebijakan yang mensejahterakan rakyat termasuk bagian dari jihad fi sabilillah. Sehingga siapapun yang berada dalam lingkaran kekuasaan, harus teguh dan istiqamah dalam melaksanakan program-program pro rakyat.

“Para tokoh bangsa, pemimpin pemerintahan, dari pusat hingga bawah itu masih banyak yang berkeinginan dan punya nilai untuk membangun bangsa dan negara. Tetapi memang kita harus makin memperluas radius kesadaran itu,” ajak Haedar.

Kesadaran saja belum cukup. Haedar mengajak para pemimpin yang telah memiliki kesadaran untuk berani memperjuangkan nilai-nilai integritas dengan tindakan nyata, demi kepentingan rakyat banyak. “Jadi semua kita yang punya posisi itu, harus rela berkorban demi nilai,” kata Haedar (Ribas).

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles