Keluarga Sakinah

Sikap Anakku Sok Bossy

anak-bossy

Assalamu’alaikum wr wb.

Ibu Emmy yth., saya ibu dari 3 orang putra-putri, yang pertama putri (7 tahun), yang kedua putri (6 tahun) dan yang kecil putra (3,5 tahun). Dari ketiganya, anak yang kedualah yang bersikap suka mengatur dan mau menang sendiiri pada saudaranya di rumah dan teman-temannya.

Sebetulnya ia sangat menyenangkan karena ia lebih ceria dan centil dibanding kakak dan adiknya. Tapi kalau sudah keluar perilaku sok mengaturnya, sering menimbulkan pertikaian entah dengan kakaknya atau dengan teman bermainnya. Dari laporan gurunya, ia juga kadang mengajak temannya untuk menjauhi teman yang tidak mau diatur olehnya. Saya khawatir sikap anak saya ini kebablasan dan menjadi sumber masalah di sekolahnya atau dengan teman-teman di lingkungan rumah. Saya pernah membaca satu rubrik bahwa sikap sok mengatur dan mau menang sendiri bias berkembang menjadi perilaku bulliying.

Bagaimana cara menghadapi anak saya tersebut agar ia tidak menjadi sumber masalah yang akhirnya juga akan merugikan dirinya sendiri? Atas jawabannya kami ucapkan jazakumullah.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Ibu Reni, di Malang


Wa’alaikumsalam wr wb.

Ibu Reni yth., melihat perilaku anak kita yang polos dan lucu memang menyenangkan, tapi kalau sudah keluar sikap yang kurang atau tidak pas ketika bergaul dengan saudaranya atau temannya kadang bikin jengkel juga ya. Anak yang punya sikap suka mengatur dan mau menang sendiri bias menimbulkan banyak masalah terutama dengan teman sebayanya yang umumnya juga masih sama-sama tinggi egonya. Bila dibiarkan, bias jadi anak ini tanpa disadarinnya suka memperlakukan temannya secara tidak pantas yang lazim disebut sebagai perilaku bullying.

Perlakuan yang tepat dan konsisten pada mereka, insya Allah akan dapat mengurangi sikap ‘bossy’nya. Berikut ini hal-hal yang bias dilakukan orang tua kepada anak ‘sok bossy’ :

Pertama, Memahami penyebabnya. Ada beberapa factor yang menyebabkan anak bersikap bossy. Kadang urutan kelahiran bias menjadi penyebab meski tidak selalu, seperti anak ibu. Factor fisik yang lebih besar juga bias mendorong anak bersikap lebih dominan. Namun yang lebih sering menjadi penyebab adalah factor pola asuh. Orang tua kadang tanpa menyadari, lebih sering memberi mandate pada salah satu anak saja. Hal ini membuat anak tersebut merasa sok kuasa untuk mengatur yang lainnya, sikapnya pun jadi lebih dominan.

Kedua, Hindari sikap memanjakan. Disadari atau tidak, orang tua kadang melakukan pemanjaan pada anak tertentu. Karena terbiasa mendapatkan perhatian dan otoritas penuh seorang anak bias menjadi sok kuasa, susah menerima posisi tawar dan kurang bias berempati pada orang lain.

Ketiga, Perhatikan contoh model dari orang tua. Anak sangat pintar mengadopsi kebiasaan buruk di lingkungan sekitar. Pemberian tanggung jawab yang besar pada anak tertentu dan mengiyakan semua keinginannya bias diadopsi sebagai aturan main terhadap teman dan saudaranya. Untuk mengubah sikap bossynya, mulai dari introspeksi mengenai sikap dari orang tuanya selama ini. Perbanyak diskusi dan beri pilihan pada anak tersebut. Capat atau lambat ia akan belajar menerapkan pada temannya.

Keempat, Tegakkan aturan di rumah. Biasakan anak menerima perlakuan adil dalam keluarga dengan menegakkan aturan yang konsekuen. Misalnya, siapa yang lebih dulu bangun maka boleh mandi lebih dulu. Biasakan pula komunikasi yang demokratis, dimana setiap anggota keluarga berhak berpendapat. Orang tua memberi kesempatan yang sama. Biasakan kakak dan adik bekerja sama di rumah secara proporsional. Misalnya membantu pekerjaan di rumah. Masing-masing mempunyai tugas yang sama tanpa ada yang lebih berhak memerintah.

Semoga hal-hal di atas bias membantu mengurangi anak bersikap bossy. Yang perlu diingat, tidak selalu sikap bossy itu negative, mungkin itu cerminan potensi kepemimpinannya. Namun jangan sampai perilakunya ini lalu menjurus pada bullying. Ini bias membuatnya dijauhi teman-temannya. Arahkan secara tepat agar anak menjadi peka terhadap orang lain dan tidak terlalu memaksakan kehendak, dengan mengjaknya membayangkan bila ia yang diperlakukan seperti itu.

Semoga ibu dan bapak diberi kesabaran dalam menemani putra-putrinya menjadi anak shalih-shalihah. Amin.

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *