smamda
Ibrah

Jujur Kepada Umat

Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi
Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr Haedar Nashir MSi

Oleh: Haedar Nashir

Pada suatu waktu orang-orang kafir Quraisy bermupakat jahat untuk menyebarluaskan berita bohong, bahwa Muhammad adalah tukang sihir. Berita dusta itu sampai ke telinga Nadhar bin Harits, seorang yang paling membenci dan memusuhi Nabi akhir zaman itu. Nadhar berkata penuh pembelaan, “Muhammad sejak mudanya adalah orang yang sangat disenangi di kalanganmu, yang paling benar kata-katanya, dan seorang yang paling jujur. Sekarang setelah kamu melihat uban memutih di jambangnya dan membawa agama, lalu kamu mengatakan bahwa dia tukang sihir. Demi Allah, dia bukan tukang sihir.”.

Dua pelajaran dari kisah mulia tersebut. Pertama, jelas sekali betapa Muhammad Rasulullah dikenal sebagai sosok yang sangat jujur sepanjang hayatnya. Kejujurannya diakui oleh kaum kafir dan siapapun di jazirah Arabia, sampai mereka yang memusuhinya pun bersaksi akan sifat utama Nabiyullah itu. Muhammad bahkan diberi gelar Al-Amin, setelah beliau sewaktu muda berhasil menyatukan seluruh kabilah yang tengah bertengkar soal siapa yang harus meletakkan hajar aswad ketika Ka’bah dibangun kembali. Allah pun memuliakannya dengan gelar Uswah Hasanah dan Berakhlaq yang agung.

Pelajaran kedua, meski tidak sederajat kualitasnya, ialah kejujuran sosok Nadhar. Meski Nadhar putra Harits itu  memusuhi Nabi Muhammad, namun dia jujur tentang kejujuran Nabiyullah itu. Sulit menemukan orang yang kesatria dalam memberikan penilaian terhadap orang yang dibenci atau dimusuhinya. Lazimnya, orang seperti itu suka memutarbalikkan fakta karena subjektivitasnya yang kuat, yang benar pun disalahkan, apalagi yang salah tentu akan didramatisasi. Nahdar memberikan contoh biarpun kepada musuh atau lawan, sikap jujur tetap harus dijumjungtinggi. Tentu saja yang baik ialah, jangan suka memusuhi orang jujur, sekaligus dirinya jujur.

Apalagi bagi para pemimpin umat atau bangsa. Jujur harus dikedepankan. Meski suatu saat berbuat keliru atau salah sebagamana watak dasar manusia, alangkah baiknya manakala jujur dengan kesalahan. Jika diri salah, tidak perlu menyalah-nyalahkan pihak lain, seakan diri bersih dan suci. Rakyat atau umat akan lebih menghargai pempimpinnya yang jujur, meski sempat salah. Hal yang baik tentu saja, jangan berbuat salah dan istiqamahlah dalam kejujuran. Jadilah pemimpin apa adanya dalam jiwa dan perangai yang jujur.

Jadi pemimpin tidak perlu bertopeng demi citra dan pesona. Tidak perlu pula banyak polah yang membngungkan umat atau rakyat. Jika Allah memberikan anugerah menjadi pemimpi  cerdas dan hebat, syukurilah nikmat itu dengan sikap tawadhu’, tidak congkak, dan lupa diri. Belajarlah ilmu padi, makin tua kian berisi, kian matang makin merunduk. Dengarlah suara hati dari lubuk qalbu terdalam agar menjadi pemimpin yang autentik, bukan yang serba kamuflase. Simak pula bisikan jernih dan suara kebenaran yang datang dari umat atau siapapun yang memberikan tausyiyah atau kritik, siapa tahu memang kita sedang berada di jalan yang salah. Jangan merasa benar dan digdaya sendiri.

Pemimpin yang jujur akan lurus dalam mengurus umat atau rakyat. Menjadi pemimpin jujur dan tulus dalam mengelola hajat hidup orang banyak itu itu memang tidak mudah. Rasulullah bersabda,  “Tidaklah seorang hamba (pemimpin) yang mengurus urusan umat manakala tidak mau bersusah payah  dan tidak berlaku jujur serta tulus kepada yang dipimpinnya, melainkan hamba itu pasti tidak akan dapat menium harumnya surga” (HR Bukhari-Muslim).  Allah SWT bahkan berfirman: “Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar karena kebenarannya, dan menyiksa orang-orang munafik jika dikehendakinya, atau menerima taubat mereka, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Ahzab: 24).

Maka, sungguh mulia manakala para pemimpin itu jujur kepada umat atau rakyat yang dipimpinnya. Bersahaja dan tidak banyak muslihat, yang mengecoh khalayak. Hasbi Asy-Shiddieqy, ulama Indonesia ternama menyatakan, “Dalam dunia yang serba kalut ini sering benar kita dapati orang yang mengumandankan keadilan dan kesejahteraan, bertindak dengan secara halus sekali, membenamkan rakyat ke dalam kancah keengsaraan dan kemusykilan. Lidahnya mengatakan bahwa ia seorang penjamin keadilan sosial. Tetapi batinnya seorang pengeruk harta rakyat untuk kekayaan diri sendiri.”

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *