obrolan_cendekia
presiden-joko-widodo-berdialog-dengan-sejumlah-tokoh-agama-di-_170417182456-961
Berita

Pesan Jokowi Kepada Tokoh Agama dan Tanggapan Utusan Muhammadiyah

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Presiden Joko Widodo pada Senin (17/4) sore, sekitar pukul 16.00 kembali memanggil sejumlah tokoh, ulama, pimpinan ormas Islam, dan cendikiawan muslim. Adapun yang mewakili Muhammadiyah dan organisasi otonom adalah ketua PP Muhammadiyah bidang Hubungan Antar Agama dan Peradaban Prof Syafiq A Mughni, Ketua PP Aisyiyah Prof Masyithoh Chusnan, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, dan Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah Diyah Puspitarini.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi menyampaikan beberapa poin penting terkait dengan dinamika kebangsaan. Dahnil Anzar dan Diyah Puspitarini membeberkan pesan Presiden Jokowi. Pertama, terkait dengan redistribusi asset atau lahan. “Untuk mempersempit ketimpangan Pak Presiden menyampaikan upaya beliau melakukan redistribusi lahan, dan berharap bisa dibangun Kemitraan dengan ormas-ormas Islam untuk membantu memperkecil kesenjangan tersebut,” tutur Dahnil

Kedua, Presiden Jokowi mengajak para tokoh untuk memperhatikan masalah radikalisme yang bisa mengancam Indonesia. Bahkan Presiden Afganistan menyampaikan pesan agar Indonesia jangan terjebak seperti Afganistan.

Ketiga, terkait dengan Pilkada DKI, Presiden Jokowi meminta para tokoh agama untuk menyampaikan himbauan dan ajakan yang meneduhkan dan menentramkan guna menghindarkan kondisi inkondisifitas di Indonesia. Keempat, terkait dengan upaya pemerintah dalam menanggulangi narkoba.

Setelah mendengarkan paparan Presiden Jokowi, Diyah Puspitarini menyatakan, pertama, bahwa atas nama pribadi dan PP NA senantiasa akan mendukung penuh upaya pemerintah dalam melakukan redistribusi lahan dan reforma agraria. Namun, Diyah memberi catatan bahwa pemerintah perlu segera melakukan penanganan cepat terhadap warga yang terkena dampak korban penggusuran tanah untuk industri atau bahkan reklamasi.

Kedua, semua pihak perlu untuk menyamakan persepsi terkait dengan terorisme. Menurutnya, teroris itu adalah mereka yang membuat ketakutan dan ketidaknyamanan di republik ini. “Bahwa yang menciptakan kegaduhan agama apapun adalah teroris. Bukan semata-mata disematkan pada umat Islam,” tuturnya.

Ketiga, Diyah mengajak seluruh pihak untuk menjaga kedamaian pra dan pasca pilkada. Bahwa setiap keputusan pilkada harus diterima. “Atas nama PPNA mengajak para pemilih pemula dan kaum perempuan muda untuk bepartisipasi dalam mensukseskan pilkada,” harap Diyah.

Sementara itu, Dahnil Anzar menyampaikan, pertama, memberikan apresiasi kepada presiden untuk mendorong kebijakan redistribusi asset dan lahan sebagai wujud keberpihakan pemerintah kepada kelompok miskin.

Dahnil juga melaporkan sikap keberpihakan Muhammadiyah kepada para kaum mustadl’afin. “Beberapa bulan Ini Muhammadiyah menerima saudara-saudara kami petani Teluk Jambe, Karawang, korban konflik agrarian, Mereka kehilangan lahan, pemerintah daerah tidak berpihak kepada mereka, sekarang 200 lebih Petani Karawang tersebut, ditambah 60 Anak ditampung oleh Muhammadiyah. Sudah sebulan lebih mereka kami tamping. Bagi Muhammadiyah tidak ada masalah membantu saudara-saudara kami tersebut, karena salah satu visi dakwah Muhammadiyah adalah membantu mustad’afin, namun sejatinya ada tanggungjawab negara yang harusnya hadir membantu mereka,” kata Dahnil

Kedua, terkait dengan radikalisme dan terorisme, bagi Pemuda Muhammadiyah tugas-tugas deradikalisasi pasti dan terus dilakukan oleh organisasi Islam, terutama yang memiliki komitmen merawat Indonesia.

“Di tengah upaya-upaya tersebut, menjadi percuma bila radikalisme dan terorisme itu lahir dari kekuatan di luar kendali kami, Yakni sebutlah kekuatan aparat yang justru melahirkan terorisme, atau justru ada indikasi ternak terorisme sehingga apapun yang kita lakukan justru menjadi percuma,” katanya.

Ketiga, terkait dengan kasus Novel Baswedan, adalah tindakan terorisme terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. “Pasti polisi mudah mengungkap, bagi saya tinggal political will saja, jangan sampai kasus Novel Ini sama dengan kasus Tama S Langkun di jaman Pak SBY dulu, maka saya memohon Bapak memimpin langsung penuntasan kasus ini,” ujar Dahnil.

Keempat, terkait permintaan menyampaikan pesan yang menentramkan jelang Pilkada DKI Jakarta, Pemuda Muhammadiyah akan mendukung penuh. Namun, menurutnya, produsen kebisingan sesungguhnya adalah dua kandidat dan timsesnya yang sedang bertarung. “Saya kira justru permintaan tersebut harus disampaikan kepada mereka, minta komitmen mereka untuk memastikan Pilkada yang bersih dan menjaga kondisifitas, jangan sampai mereka yang berbuat para tokoh agama Ini yang harus memadamkan,” paparnya (Ribas).