smamda
Dinamika persyarikatan

Bedah Buku Takziyah Muhammadiyah, KH Hasyim Muzadi Sosok Muslim Moderat

diskusi-bedah-kh-hasyim-muzadi-33uwi33ay282qwerc7zlsa

BANJARMASIN, Suara Muhammadiyah“Saya menilai Kiai Hasyim sangat objektif ketika menyinggung perbedaan pandangan antara NU dan Muhammadiyah. Hubungan baik antara NU dan Muhammadiyah harus bisa dikembangkan menjadi motor bagi persatuan Islam dan bangsa Indonesia,”

Begitu komentar M Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode (2005-2015), dalam cover buku berjudul Takziah Muhammadiyah untuk KH. A. Hasyim Muzadi. Tokoh-tokoh ormas Islam modernis ini berbagi tulisan dalam buku 213 halaman, terbitan PT. Mediabaca Mandiri bersama UMJ dan Ahmad Dahlan School of Economics edisi 2017 yang dibedah dalam diskusi buku di kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB), Sabtu (20/5/2017).

Ada empat narasumber yang dihadirkan dalam membedah buku sosok KH. A. Hasyim Muzadi dari sudut tokoh-tokoh Muhammadiyah. Adalah Rektor UMB Prof. Dr. H. Ahmad Khairuddin, M.Ag; Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalsel Drs. KH. Syarbani Haira, M.Si dan menantu KH. A. Hasyim Muzadi, Arif Zamhari Ph.D memberi testomi di hadapan puluhan peserta diskusi dengan moderator Muhazir Fanani.

Khairuddin menilai sosok KH. A. Hasyim Muzadi merupakan ulama dan tokoh NU yang justru mudah diterima warga Muhammadiyah. Wakil Ketua PW. Muhammadiyah Kalsel ini pun mengakui pandangan keagamaan seorang Hasyim Muzadi sangat moderat dan mudah diterima warga Muhammadiyah.

Hal senada juga dilontarkan Syarbani Haira. Menurutnya, ketika Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof DR Amien Rais mengklaim bahwa anggota ormasnya itu sejumlah warga NU, dikurangi 10 juta. “Langsung dibalas KH Hasyim Muzadi dengan candaan serupa bahwa anggota NU itu berarti yang sisanya. Candaan kedua tokoh ormas Islam ini jelas menunjukkan mereka itu saling menghargai, meski kerap berbeda pandangan khususnya dalam sisi keagamaan,” tutur Syarbani

Kesaksian serupa juga diungkapkan Arif Zamhari. Ia mengakui sosok ayah mertuanya itu diterima semua pihak, tak hanya di kalangan warga Nadhliyin, justru juga menerobos sekat-sekat seperti warga Muhammadiyah. “Hal ini karena dalam pandangan KH Hasyim Muzadi, terpenting itu adalah menjalin ukhuwah Islamiyah serta menjaga sesama anak bangsa. Apalagi, NU dan Muhammadiyah merupakan ormas Islam yang menjadi pendiri bangsa Indonesia ini,” ucap Arif.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PW. Muhammadiyah Kalsel Abdul Khaliq, SPdI, MPd selaku penyelenggara kegiatan tersebut mengatakan bahwa “kegiatan diskusi buku tersebut rutin kita laksanakan sebaga wujud dari konsistensi Muhammadiyah dalam pengembangan kepustakaan di kalangan warganya”. (khaliq)