33 C
Yogyakarta
Senin, Juli 13, 2020

Bina Ideologi Penggerak Media Muhammadiyah, Haedar: Harus Paham Muhammadiyah Secara Menyeluruh

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Kemenag: Tidak Ada Agenda Penghapusan Bahasa Arab dan PAI Di Madrasah

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama A Umar memastikan tidak ada penghapusan mata pelajaran...

AS Berikan Sanksi pada Anggota Partai Komunis China terkait Penahanan Muslim Uighur

Suara Muhammadiyah – Amerika Serikat pada Kamis (9/7) telah memberlakukan sanksi terhadap salah seorang politisi China, Chen Quangguo, beserta tiga pejabat senior...

Disambut Haru Keluarga, UMY Umumkan Penerima Beasiswa Dokter Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mengumumkan penerima Beasiswa Dokter Muhammadiyah. Pengumuman disampaikan Rektor UMY Dr Gunawan Budiyanto, MP...

Spirit Baru Suara ‘Aisyiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dalam rentang perjalanan yang sangat panjang Aisyiyah bersama Suara Aisyiyah telah menunjukkan jati dirinya sebagai gerakan perempuan Islam...

Idul Adha ala Muhammadiyah di Masa Pandemi Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengadakan Pengajian Umum via Zoom bertema “Idul Adha di Masa Pandemi Covid-19” pada 10 Juli 2020. Pengajian...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah bekerjasama dengan Majelis Pendidikan Kader (MPK) PP Muhammadiyah menggelar Pembinaan Ideologi penggerak media Muhammadiyah selama 1 hari. Dalam kesempatan tersebut Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan bahwa di tangan para penggerak media Muhammadiyah nasib masa depan informasi.

Dengan dinamika media yang kian dahsyat, selain menghadapi persaingan, media Muhammadiyah harus memperkuat identitas dan basis ideologi yang dimilikinya agar terbawa arus. “Jika tidak bisa hadir secara dinamis Muhammadiyah juga akan kewalahan menghadapi kondisi yang ada di luar,” tutur Haedar di Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro, Rabu (14/6).

Menurut Haedar kondisi saat ini menunjukkan bahwa seluruh informasi mampu dikemas sedemikian rupa dan menunjukkan bahwa tidak ada media yang betul-betul objektif. Sedangkan di saat yang sama, kondisi dunia saat ini dipenuhi oleh kontestasi tafsir.

“Dunia ini dibangun di atas tafsir bahwa siapa yang punya kekuatan hegemoni maka ia yang akan menguasai. Kalau tidak pandai-pandai orang Muhammadiyah baik yang sudah lama ataupun awam bisa terbawa. Oleh karena itu harus benar-benar paham Muhammadiyah secara keseluruhan,” lanjutnya.

Haedar menambahkan bahwa pembahasan terkait manhaj Muhammadiyah yang dicuatkan pada pengajian Ramadhan lalu merupakan respons menanggapi situasi banyaknya tafsir dan pemikiran yang berkembang di dalam Muhammadiyah. Tidak jarang, arus tersebut membuat warga Muhammadiyah sendiri kehilangan arah.

“Warga Muhammadiyah tak terkecuali, termasuk para penggerak media hendaknya paham betul apa perbedaan antara gerakan Muhammadiyah dengan gerakan-gerakan lainnya yang ada di luar sana. Karena banyak yang salah kaprah mengasosiasikan Muhammadiyah dengan berbagai gerakan Islam lainnya,” tandas Haedar.

Pembinaan Ideologi tersebut dihadiri sekurangnya 50 peserta dari sejumlah media Muhammadiyah yang ada. Di antaranya Suara Muhammadiyah, Website Muhammadiyah, TV Muhammadiyah (TVMu), RadioMu, dan Menara 62. (Th)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles