Bina Akidah

Do’a

Berdoa
Shares

Oleh: Muhbib Abdul Wahab

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina.” QS. Al-Mu’min/40: 60)

Secara teologis, ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang malas dan tidak mau berdoa berarti orang yang sombong, tidak tahu diri, dan cenderung durhaka kepada Allah SWT.  Karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, maka Dia akan marah/murka kepada-Nya.” (HR. Ahmad, Turmudzi, dan Ibn Majah)

Sesungguhnya doa merupakan jalan menuju pertolongan dan kebahagiaan hidup yang hanya dapat dijalani oleh hamba yang mengenal, mencintai, dan menghambakan diri kepada Allah. Doa merupakan sumber kekuatan, harapan, dan kenikmatan Mukmin, karena hatinya senantiasa tertambat melalui doa dengan Sang Kekasihnya yang Maha Penyayang. Oleh sebab itu, Nabi SAW bersabda: “Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak bisa berdoa; sedangkan orang yang paling bakhil adalah orang yang pelit memberi salam (kepada sesama Muslim).” (HR. Ibn Hibban).

Secara teologis, doa juga merupakan jalan keluar (solusi) bagi orang-orang yang dihadapkan kepada berbagai persoalan dan kebuntuan dalam hidupnya. Doa menjadi  kunci pembuka sekaligus pintu keluar menuju pencapaian cita-cita dan harapan hidup sang pendoa. Esensi doa adalah permohonan hamba kepada Allah SWT agar diberikan inayah (perhatian), ma’unah (pertolongan), dan hidayah (bimbingan, petunjuk jalan) menuju solusi persoalan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Berdoa hanya pada waktu susah dan meninggalkannya pada saat bahagia merupakan perilaku orang lupa (lupa diri dan lupa Allah).  “Dan apabila Kami beri kenikmatan kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS Fushshilat/41: 51) Dalam konteks ini, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin agar doanya di waktu kesusahan dikabulkan oleh Allah, maka hendaklah ia memperbanyak doa di waktu lapang dan bahagia.” (HR. Turmudzi dan al-Hakim).

Teologi doa membelajarkan kita untuk selalu berada dalam “kancah relasi transcendental” dengan Sang Maha Pemberi, sehingga dengan begitu Mukmin selalu memiliki optimisme tinggi dalam hidupnya. “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka ketahuilah bahwa Aku itu Maha Dekat. Aku akan merespon doa orang yang berdoa kepada-Ku. Karena itu, hendaklah mereka merespon perintah-Ku dan mempercayai-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk.” (QS. al-Baqarah/2: 186). Jadi, karena Allah itu Maha Dekat, maka tidak ada alasan bagi hamba untuk tidak berdoa demi peningkatan kualitas hidupnya ke depan.

Mengoptimalkan doa merupakan salah satu bukti penghambaan, pengabdian, dan rasa tawakkal hamba kepada-Nya. Selain itu, teologi doa tidak sekedar berupa permohonan hamba akan betapa lemah dan butuhnya kepada Sang Maha Pemberi, melainkan juga puji-pujian hamba atas segala keagungan, kemuliaan, kebesaran, kemurahan, dan kemahakuasaan-Nya, sehingga pendoa harus tahu diri dengan sadar mau menyucikan diri, mengakui segala kekurangan dan kefakirannya, menjauhi segala kemaksiatan dan dosa, agar doanya didengar dan direspon oleh-Nya.

Secara teologis,  agar dikabulkan, doa harus “dikawal dan dibarengi” dengan beramal, berusaha dan berbuat sesuai dengan apa yang dimohonkan kepada Allah SWT. Jika misalnya memohon kekayaan dari Allah, maka hamba harus bekerja keras, halal dan thayyib, untuk meraih yang dimohonkan itu. Selain itu, hamba juga tidak boleh berputus asa, bahkan harus selalu berbaik sangka dengan Allah bahwa doanya pasti dikabulkan (sesuai dengan kebijaksanaan Allah).

Teologi doa juga mengajarkan kita tentang “ruang dan waktu” yang termasuk kategori mustajab (sinyal pengabulannya jernih dan kuat). Semua rumah Allah (masjid, mushalla), terutama tiga masjid (al-Masjid al-Haram, Masjid Nabawi, dan Masjid al-Aqsha), Multazam (antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah), Raudlah (antara rumah dan mimbar Nabi SAW), Hijir Isma’il, Arafah, Mina dan kawasan tanah suci lainnya merupakan ruang yang mempunyai nilai plus bagi pendoa. Sedangkan waktu mustajab antara lain adalah waktu sepertiga malam terakhir, sebelum subuh, waktu antara azan dan iqamah, sepanjang waktu di bulan suci Ramadlan, dan sebagainya. Dalam konteks ini, Nabi SAW pernah bersabda: “Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak (oleh Allah), yaitu: doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, doa pemimpin yang adil, dan doa orang teraniaya. (HR. At-Turmudzi). Dengan demikian, pendoa yang harus tahu diri, tahu waktu, dan tahu tempat suci yang sinyal pengabulan doanya itu kuat dan cepat.

Ketahuilah, “Allah itu Maha Baik, dan tidak menyukai kecuali yang baik-baik,” kemudian Nabi SAW menyebutkan mengenai seseorang yang datang dari perjalanan jauh dengan rambut acak-acakan (kusut) dan wajah berdebu, mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa: Ya Tuhanku, ya Tuhanku.  Selanjutnya beliau berkata: “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan oleh Allah, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram” (HR. Muslim). Semoga kita termasuk orang yang pandai dan sukses berdoa, sehingga kita menjadi Mukmin yang sukses dunia dan akhirat.

 

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *