21.8 C
Yogyakarta
Senin, Agustus 10, 2020

Film Nyai Ahmad Dahlan Menyampaikan Pesan dan Pelajaran Penting dari Kehidupan Nyai Walidah

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Inilah Rekam Jejak Prof Ambo Asse, Rektor Baru Unismuh Makassar

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kini memiliki nakhoda baru. Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan Prof Dr H Ambo Asse,...

Prof Ambo Asse Dilantik Jadi Rektor Unismuh, AMM Siap Berikan Dukungan Penuh

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Jika tak ada aral melintang, Prof. Dr. H. Ambo Asse M.Ag. akan dilantik sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah (Unismuh)...

Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah Lepas Pengabdian Thalabah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengabdian merupakan salah satu dari Tri Dharma pergururan tinggi. Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM)...

Berita Hoax Covid-19 Lebih Cepat Menjangkiti Dibanding Virusnya

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sudah beberapa kali ini berita hoax terkait Covid-19 terus bermunculan dan meresahkan masyarakat luas. Berita hoax Covid-19 justru...

Salurkan KUR Syariah, Menko Perekonomian Dukung UMKM Pemuda Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dampak dari Pandemi Covid-19 tidak bisa dipungkiri menghantam semua sendi dan aspek kehidupan masyarakat, semua lapisan tanpa pandang...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ahmad Najib Burhani menyambut baik kehadiran Film Nyai Ahmad Dahlan. Film drama-biopik yang mengisahkan tentang pahlawan nasional perempuan pertama Muhammadiyah ini, akan ditayangkan secara serentak di bioskop, pada 24 Agustus 2017.

Menurutnya, pembelajaran sejarah melalui media film menjadi salah satu alternatif. Najib meluruskan pandangan sebagian kalangan bahwa film tidak bisa menjadi acuan referensi. “Meski film Nyai Ahmad Dahlan ini merupakan film berdasarkan kisah nyata, namun film seperti ini sering dianggap bukan bagian dari referensi sejarah yang otentik dan otoritatif. Ia tidak bisa dipakai sebagai bukti sejarah,” tuturnya.

Namun demikian, kata Najib, film memiliki kredibilitas untuk menanamkan keyakinan dan pembelajaran kepada masyarakat luas dalam waktu singkat. Terutama bagi sebagian generasi muda, media film tentu lebih digemari. “Melalui film, pesan-pesan sejarah umumnya justru bisa disampaikan secara efektif. Orang yang sebelumnya tidak mengenal Nyai Walidah dan apalagi perannya dalam pemberdayaan perempuan akan dengan mudah belajar melalui film,” ungkap Najib.

Film tentang tokoh-tokoh penting di Indonesia ini, dianggap Najib, bisa melengkapi narasi lain yang selama ini beredar, seperti dalam novel dan komik. Media seperti novel, film, dan komik, dapat dijadikan pintu masuk untuk memahami sejarah tertentu. “Bagi yang ingin meningkat dari pemahaman awam, tentunya film dan novel tidaklah cukup. Membaca sejarah secara lebih komprehensif tentu saja harus berangkat dari buku-buku sejarah, arsip-arsip, memorabilia, dan sumber-sumber utama lain,” ujar Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah ini.

Terlepas dari itu semua, Najib mengapresiasi film yang mengisahkan tentang sosok perempuan berkemajuan ini. Kiprah dari tokoh yang telah menorehkan peran-peran besar untuk umat dan bangsa ini perlu dikenal oleh publik.

“Saya ingin mengucapkan selamat atas film ini. Dengan kehadiran tokoh-tokoh Muhammadiyah dan keluarga KH Ahmad Dahlan sebagai aktor dalam film ini, maka saya yakin film ini bisa secara kredibel menyampaikan pesan dan pelajaran penting dari kehidupan Nyai Walidah kepada masyarakat Indonesia,” kata Najib Burhani.

Sebagaimana diketahui, film yang disutradarai Olla Atta Adonara ini memadukan para artis nasional dan dari pihak keluarga serta para aktivis Muhammadiyah. Naskah film yang diproduseri Iras Film ini ditulis oleh Dyah Kalsitorini dengan data utama dari keluarga Kiai Ahmad Dahlan dan dokumen lainnya. (Ribas)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles