Menggapai Toleransi Otentik

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Haedar Nashir: Dalam Tubuh TNI-Polri Ada Jiwa Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir, MSi turut menhadiri silaturahim secara virtual bersama jajaran pejabat...

Memahami Pandemi Corona dengan Jurnalisme Data

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Segala hal terkait Pandemi Covid-19 menjadi suguhan setiap hari khalayak. Informasi yang bertebaran menyuguhkan ketidakpastian bagi pembacanya. Maka...

Muhammadiyah Perbolehkan Shalat Jum’at dengan Syarat

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Melihat terus terjadinya fluktuasi kasus Covid-19 di Tanah Air, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui MCCC kembali mengeluarkan tuntunan dan...

Pembukaan Kembali Masjid, Takmir Perlu Keputusan Rasional Bukan Emosional

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dalam hal pencegahan Covid-19 meski diperbolehkan untuk melaksanakan sholat...

Muhammadiyah dan Satgas Lawan Covid -19 DPR Sepakat Memberdayakan UMKM

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menerima kunjungan Satuan Tugas (Satgas) Lawan Covid-19 DPR RI, dibawah komando Sufmi Dasco Ahmad. Rombongan...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Menanggapi isu toleransi yang kerap diperdebatkan, Kajian Malam Sabtu (Kamastu) yang rutin diselengarakan oleh AMM DIY di Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, pada Jum’at (18/8) mengambil pokok bahasan tentang toleransi yang otentik.

Hadir sebagai pembicara Ketua Pemuda Katolik DIY Agustinus Budairto,  wakil ketua wanita Hindu Darma Indonesia Niluh Kasiani Sandhi, dan Dosen Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ahmad Muttaqin.

Dalam paparannya, Agus menyatakan bahwa kebhinekaan sudah menjadi corak khas bagi Indonesia, kemudian semua itu disatukan dengan nilai toleransi yang sebenarnya atau otentik yakni melalui dialog mufakat dan solutif. “Semua saling berbaur dan bermasyarakat, sehingga toleransi otentik bisa tercapai,” tuturnya.

Serupa dengan Agus, Niluh menyampaikan mengenai komponen pembentuk bangsa ini memiliki variasi yang melimpah. Hal tersebut merupakan anugerah yang dititipkan oleh Tuhan untuk diolah dan kemudian dirayakan bersama, bukan untuk dipertentangkan. “Toleransi itu disampaikan dengan nyata, melalui dialog serta dalam tujuan yang sama dalam penyelesaian,” ungkap Niluh.

Menurutnya, jika merujuk pada inti agama, kesemuanya menganjurkan pada kebaikan dan hal-hal yang positif. perilaku tidak toleran dan yang membawa dampak negatif pada dasarnya adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai utama yang diajarkan di semua agama.

Sementara Muttaqin menambahkan, bahwa pemaknaan  toleransi sebagai dua hal yang berbeda dalam realitas dangan idelitasnya. “Toleransi ibarat sebuah gula, tapi dalam realitanya tidak semanis gul. Mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan,” jelasnya.

Ahmad Muttaqin yang juga anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah itu menambahkan bahwa toleransi yang otentik dibangun di atas tiga pilar. Yaitu trust atau kepercayaan, resiprocity, dan emphaty.

Dengan adanya tiga pilar itu, menjadikan semua komponen berbeda menjadi dewasa dalam menyikapi perbedaan. Menjadikan unsur berbeda untuk meningkatkan saling kerjasama dan menambah warna bagi kehidupan. (A’anmg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -