Berita

Kapolri: ‘Saya Merasa Tersentuh Hati, Seorang Profesor, Ketua Umum, Mau Jadi Ketua Ranting’

din tito
Shares

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Kesahajaan dan kesederhanaan para tokoh dan pimpinan Muhammadiyah selalu menjadi inspirasi. Sosok KH Ahmad Dahlan, Pak AR Fachruddin, Buya Syafii Maarif, Din Syamsuddin, hingga Haedar Nashir dengan kekhasannya masing-masing selalu menjadi teladan di tengah kekeringan nilai para elit. Kesahajaan ini dilihat sebagai sesuatu yang langka oleh kalangan non Muhammadiyah.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian, termasuk salah satu yang kaget saat menghadiri Syukuran Tahun ke-2 Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu serta peresmian Koperasi Syariah Muhammadiyah Business Center di Gedung Graha Adhya Wicaksana, Fatmawati, Jakarta Selatan, pada Minggu, 19 November 2017.

Dalam sambutannya, Tito mengaku kaget mendengar mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2015, Prof Din Syamsuddin dengan banyak posisi di tingkat internasional, justru mau menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu.

“Jadi saya melihat, begitu membaca bahwa Prof Din Syamsuddin menjadi Ketua Ranting Muhammadiyah di Pondok Labu, saya jujur kaget. Apa mungkin Ketua Umum yang sudah dua periode yang kira-kira salevel dengan Kapolri turun menjadi Kapospol di Pondok Labu,” ungkap Tito yang beberapa hari sebelumnya juga menghadiri resepsi Milad Muhammadiyah 105 di Keraton Yogyakarta.

Kapolri Tito mengaku takjub, ketika seorang Din Syamsuddin yang sebelumnya menjabat pucuk pimpinan salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, mau ‘turun gunung’ menjadi ketua ranting. Dalam struktur Muhammadiyah, ranting merupakan struktur terendah, setelah urusan pimpinan pusat, pimpinan wilayah, pimpinan daerah, dalam pimpinan cabang.

“Saya merasa tersentuh hati saya, kenapa seorang profesor, Ketua Umum mau jadi ketua ranting. Sesuatu yang luar biasa, sesuatu tauladan yang dapat kita tiru semua. Beliau masih terus mengabdi ke masyarakat. Itu poin penting bagi saya,” tutur Tito.

Saat ini, Din Syamsuddin menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban. Sebelumnya, Din merupakan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, sosok Din perlu dijadikan contoh revolusi mental dalam konteks kebangsaan. Menurutnya, para tokoh dan elit merupakan orang yang harusnya senantiasa membumi, membersamai rakyat.

“Bahwa tokoh siapa pun itu harus selalu mengakar ke bumi dan rakyat memerlukan tokoh yang berada di dekatnya, bukan tokoh yang melambung tinggi ke langit, tetapi tidak berpijak ke bumi,” kata Haedar. Hal ini, kata Haedar, dalam rangka mendorong masyarakat untuk maju bersama.

Sementara itu, Din Syamsuddin mengatakan bahwa amanat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu merupakan bentuk pengabdian kepada Sang Maha Kuasa. Dalam mengabdi, posisi bukanlah yang utama, tetapi tentang seberapa besar konstribusi dan dedikasi. “Bagi kami Muhammadiyah biasa saja. Keterlibatan kami di organisasi sebagai pengabdian bagian dari Allah, sehingga dimana saja sama,” ujar Din.

Turut hadir dalam acara itu Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie yang juga sebagai penasehat PRM Pondok Labu, Kapolri Tito Karnavian, Ketua MPR Zulkifli Hasan, dan beberapa tokoh lainnya. (Ribas)

Baca Juga:

Kesederhanaan Buya Syafii; Makan di Angkringan, Naik Kereta, hingga Bersepeda

Pemimpin Teladan nan Sederhana

Indahnya Hidup Sederhana

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *