30 C
Yogyakarta
Rabu, Juli 8, 2020

Mata Kuliah Kemuhammadiyahan, Mahasiswa Uhamka Kumpulkan 407 Juta Untuk Dhuafa

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

FGM Purworejo Rancang Kemajuan Bidang Pendidikan

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Purworejo menyelenggarakan Silaturahmi dan Bincang Pendidikan di Aula Pondok Pesantren Darul Arqom SMP...

Gandeng Mitra Internasional, FKIP UMS Kembangkan Sekolah Penggerak di Karanganyar

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali mengembangkan sekolah penggerak, kali ini pada jenjang...

Lazismu Medan dan Yayasan Anak Bangsa Bisa Salurkan Bantuan

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Lazismu Kota Medan terus melakukan penguatan perannya dengan membangun jejaring dengan pihak lain. Kali ini Lazismu Kota Medan...

Cegah Negara Menjadi Neo-Otoritarian

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Rembug Nasional digagas Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam memandang dinamika kebangsaan aktual. Dalam hal ini terkait Ancaman Kebebasan Sipil...

Ta’awun Sosial PRA Wirobrajan Berbagi Sesama

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Wirobrajan mengajak masyarakat untuk Sedekah Jariyah Peduli Covid-19 dengan cara yang unik. Bertajuk “Ihlas Berbagi...
- Advertisement -

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Kedermawanan dan kepedulian terhadap kaum dhuafa merupakan ajaran pokok Muhammadiyah yang diserap KH Ahmad Dahlan dari surat al-Maun. Spirit dari theologi al-Maun inilah yang menggerakkan dan mendorong Muhammadiyah tumbuh besar hingga saat ini.

Rektor Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Prof Suyatno, menyatakan bahwa tradisi filantropi sudah  berakar selama 1 abad dalam tubuh Muhammadiyah, sejak zaman KH Ahmad Dahlan. Tradisi inilah yang membentuk watak warga Muhammadiyah bahwa ‘hidup itu memberi, bukan meminta.’ Jargon ini pula yang ditanamkan oleh Muhammadiyah kepada warga dan anggotanya. “Modal sosial ini harus terus dilembagakan dan dikembangkan menjadi energi sosial unt melakukan transformasi masyarakat menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” katanya.

Menurut Suyatno, Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), sebagai salah satu amal usaha Muhammadiyah, bertanggungjawab untuk merawat dan mengembangkan tradisi ini. “Maka UHAMKA, melalui LAZISMU UHAMKA, LKSFI (FEB), G-500 (FFS) serta FTM (FKIP) serta Mata Kuliah AIK (Al-Islam dan Kemuhammadiyahan) terus menggerakkan warga kampus dan masyakarat untuk mengembangkan kepedulian terhadap sesama, dan menjadikan kampus sebagai jembatan dan solusi problematika masyarakat,” urainya.

Dalam mata kuliah AIK yang berbobot 2 SKS tersebut, para mahasiswa Uhamka melakukan kegiatan filantropi yang disebut Dakwah Lapangan. Dalam kegiatan Dakwah Lapangan mahasiswa UHAMKA melalui mata kuliah Kemuhammadiyahan yang dibelajarkan di semester gasal tahun ajaran 2017/2018 berhasil mengumpulkan lebih dari 407 juta rupiah. Rp 407.196.900 ini kemudian digunakan untuk membantu dan memberdayakan para kaum dhuafa dan mustadh’afin. (Rbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -

More articles