Muhammadiyah dan Kehadiran Islam Berkemajuan Di Indonesia

Muhammadiyah dan Kehadiran Islam Berkemajuan Di Indonesia Indonesian Islam
Kuliah Umum Haedar Nashir di Monash University, Australia, Februari 2018

Kehadiran Islam Berkemajuan Dalam pandangan Muhammadiyah, Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan. Membangun peradaban yang utama dan menjadi rahmat bagi semesta. Inilah yang disebut “Islam Berkemajuan”

Oleh: Haedar Nashir

Muhammadiyah dan Kehadiran Islam Berkemajuan

Islam Indonesia merupakan fenomena keagamaan yang menarik. Islam di negeri kepulauan Nusantara ini hadir secara damai, berkarakter moderat, dan berkembang menjadi muslim terbesar di dunia. Penyebaran Islam secara damai membawa pengaruh pada corak Islamisasi yang bersifat sosial-kultural (Kartodirjo, 1993). Islam Indonesia berkembang menjadi agama masyarakat secara luas, sekaligus menjadi kekuatan integrasi nasional dalam pembentukan kebudayaan Indonesia (Kontjaraningrat, wawancara Kompas).

Dalam proses Islamisasi yang “indigeneous” itu Islam Indonesia membentuk muslim yang lembut, damai, toleran, dan harmoni. Menurut Esposito (1997), wajah Islam Indonesia lebih lembut, dibentuk oleh angin tropis dan pengalaman multikultural yang panjang. Inilah wajah Islam yang sekarang populer disebut Islam moderat atau Islam tengahan (wasithiyah). Sebagian kalangan mengklaimnya sebagai Islam Nusantara. Namun wajah Islam Indonesia tidaklah tunggal dan terus mengalami dinamika.

Pasca Islam Nusantara yang berwajah kultural, Islam Indonesia mengalami transformasi yang dinamis. Pada awal abad ke-20 seiring dengan bangkitnya kesadaran nasional secara lebih terorganisasi dan mulai tumbuhnya benih modernisasi, hadir proses baru dalam Islamisasi yaitu Islam berwajah pembaruan atau tajdid. Islam yang memberi sentuhan kemajuan atau kemoderenan itu diperankan oleh organisi-organisasi pembaruan khususnya Muhammadiyah.

Dalam kehidupan kaum perempuan peran Aisyiyah selaku organisasi perempuan Muhammadiyah dalam memelopori bangkitnya perempuan Islam dan ikut membidani lahirnya Kongres Wanita Pertama tahun 1928 merupakan tonggak penting dalam memberi warna Islam yang berkemajuan.

Peran pembaruan atau Islam yang menyebarkan nilai-nilai kemajuan tersebut sangat penting dan menentukan perkembangan Islam mutakhir. Peran Islam modern sangat penting selain dalam menumbuhkan nasionalisme dan kedararan politik baru menentang penjajah dengan cara modern juga dalam memajukan umat dan bangsa pasca Indonesia merdeka (Deliar Noer, 1996). Tanpa gerakan pembaruan tidak mungkin lahir generasi muslim terpelajar yang kemudian tampil sebagai kelas menengah baru dan menjadi pilar lahirnya pranata-pranata sosial Islam yang maju.

Generasi muslim yang lahir dalam kultur Islam pembaruan ini bahkan di belakang hari memproduksi elit muslim di berbagai lembaga pemerintahan, yang membentuk genre baru Islam Indonesia yang memperkuat pilar pergerakan Islam di basis kemasyarakatan dan civil society. Tanpa kehadiran Islam berkemajuan atau Islam reformis-modernis tidak mungkin lahir wajah Islam Indonesia yang kosmopolit, urban, dan sanggup hidup di tengah modernitas tahap lanjut dan globalisasi yang membuana seperti kita saksikan hari ini.

Baca Juga:   Lewat Beirut, Repatriasi Pekerja Migrant Perempuan dari Suriah Dipulangkan ke Indonesia

Kini sering dipublikasikan secara luas bahwa Islam Indonesia yang moderat merupakan wajah Islam masa depan. Diproyeksikan bahwa Islam moderat sedang menerangi jalan menuju

sebuah masa depan Islam yang besar”, sebagai sebuah fenomena “The New Face of Islam (TIME: 23/9/1996). Tentu asumsi ini perlu didukung dan merupakan sebuah optimisme yang menggembirakan. Namun Islam di mana pun, termasuk di Indonesia tidak berhenti di satu titik. Artinya Islam Indonesia tidaklah statis, apalagi tunggal.

Islam Indonesia akan terus mengalami dinamika antara ajaran dan realitas kehidupan yang melingkarinya, serta membentuk keragaman corak atau varian sesuai dengan proses pergumulannya yang kompleks. Dalam konteks ini Islamisasi bukan sekadar berarti penerimaan ajaran secara doktrinal tetapi sekaligus pengorbanan untuk akomodasi terhadap perubahan dan tuntutan zaman dalam proses akulturasi yang normal tanpa kehilangan esensi dan prinsip ajaran (Abdullah, 1974).

Islam Indonesia akan menghadapi dinamika kehidupan baru di abad ke-21 sesuai dengan hukum perubahan. Berbagai kecenderungan, masalah, dan tantangan kehidupan modern yang lebih kompleks tengah dan akan terus hadir untuk diberikan jawaban crdas oleh umat Islam. Umat Islam selain tampil sebagai golongan yang membawa pesan damai, toleran, dan propluralitas, juga harus menjadi kekuatan yang prodemokrasi, penegakkan hak asasi manusia, dan civil society.

Di samping itu umat Islam Indonesia juga harus menjadi golongan yang unggul di bidang politik, ekonomi, pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berdaya saing tinggi. Dalam konteks kehidupan kontemporer yang kompleks itu maka sungguh penting dan relevan kehadiran Islam Indonesia yang berkemajuan.

Umat Islam Indonesia yang  mayoritas harus tampil sebagai umat berkemajuan, bukan sebagai golongan yang besar sebatas jumlah. Apalah artinya besar secara kuantitas tetapi kalah dalam kualitas. Apakah artinya Islam moderat jika tertinggal dan tangan di bawah. Umat Islam Indonesia yang besar dan moderat harus menjadi golongan besar yang unggul dan tangan di atas. Itulah relevansi kehadiran Islam dan umat Islam berkemajuan di Indonesia.

Islam Berkemajuan

Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa Islam merupakan agama yang mengandung nilai-nilai kemajuan untuk membangun peradaban yang utama dan menjadi rahmat bagi semesta, inilah yang disebut “Islam Berkemajuan” (Din al-Hadlarah). Nabi Muhammad bersama kaum muslimin selama 23 tahun telah menjadikan Yasrib yang pedesaan menjadi al-Madinah al Munawwarah, kota peradaban yang cerah dan mencerahkan. Setelah itu selama sekitar lima sampai enam abad Islam menjadi peradaban yang maju di pentas dunia.

Islam mengajarkan manusia untuk “Iqra” (QS Al Alaq: 1-5), menjadi pelaku perubahan dan berwawasan ke depan (QS Ar-Ra’du: 11; Al-Hasyr: 18). Islam yang mengajarkan tangan di atas (yad al-‘ula) dan bukan di bawah (yad al-sufla). Islam membentuk manusia Muslim sebagai atau pelaku sejarah (syuhada ‘ala al-nas ), selain hadir sebagai umat moderat (ummatan wasatha) dalam kehidupan (QS Al-Baqarah: 143) . Umat Islam diharuskena menjadi golongan terbaik yang unggul atau khayra ummah (QS Ali Imran: 110), sehingga dapat menjadi rahmatan lil-‘alamin atau rahmat bagi semesta alam (QS Al-Anbiya: 107).

Baca Juga:   SPS Pusat: SM Majalah Tertua di Indonesia

Kemajuan dalam panda