Anggota Parlemen ASEAN Belajar Toleransi Kepada Pemuka Agama DIY

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Wakil Rektor UM Jember: Perkuat SDM dan IT Hadapi New Normal

JEMBER, Suara Muhammadiyah - Indonesia tengah menuju kenormalan baru atau New Normal. Wakil Rektor 2 Universitas Muhammadiyah Jember (UM Jember), Drs Akhmad...

RSI Cempaka Putih Terima APD dari PDIP DKI Jakarta

Sebagai bentuk gotong royong dalam menanggulangi wabah Covid-19, DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta memberikan bantuan Alat Pelindung Diri...

Ditengah Pandemi, Lazismu Lamongan tetap Salurkan Beasiswa dan Bantuan Kesehatan

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah - Ditengah upaya berbagai pihak untuk bersama sama bersatu melawan virus Corona, Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Muhammadiyah...

Tim Medis Menjadi Perhatian MCCC Sumut

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Muhammadiyah Covid19 Command Center (MCCC) Sumatera Utara menyerahkan santunan untuk tim medis di Medan. Santunan diberikan kepada tim...

UNMUHA Berhasil Menjadi PTS Terbaik Se-Aceh

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah - Pemeringkatan 4 International Colleges and Universities (4ICU) menempatkan Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA) diposisi 1 Universitas Swasta terbaik...
- Advertisement -

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Grha Suara Muhammadiyah menjadi tempat pertemuan ASEAN Parliamantarians for Human Rights (APHR) bersama pemuka agama DIY, Sabtu (5/5/2018). Beberapa anggota parlemen dari Thailand, Myanmar, Indonesia bertemu dengan tokoh Muslim, Kristen, Hindu, Budha hingga Forum Persaudaraan Umat Beriman (FPUB) dalam rangka meningkatkan pemahaman anggota parlemen ASEAN dalam mengawal kebebasan beragama atau berkeyakinan melalui fungsi legislatif.

Anggota Kehormatan APHR Eva Kusuma Sundari mengatakan anggota parlemen ASEAN  tersebut ingin melihat toleransi di Indonesia walaupun banyak kasus, tetapi relatif dapat mengendalikan tekanan terkait ekstrimisme dan intoleransi. “Mereka mengantisipasi, ingin belajar dari kita, bukan belajar bahwa kita sudah sukses, kita masih berupaya terus,” tutur Anggota Komisi XI DPR RI tersebut.

Apriyanto, perwakilan dari FPUB mengatakan pihaknya selalu berada di garis depan dalam upaya mengatasi konflik dan berbagai upaya pencegahan. Ia melihat kasus intoleransi lebih cenderung pada pola isu politik daripada isu agama. “Ada penguatan persoalan materialism di Yogyakarta, bergesernya budaya-budaya tradisional menjadi budaya-budaya yang post modern,” imbuhnya.

APHR

Sementara itu, Wakil Ketua PWM DIY Arif Jamali Muis mengungkapkan pemahaman agama yang tidak komprehensif ditambah kemampuan belajar agamanya yang hanya separuh  dan melalui media sosial menyebabkan terjadinya intoleran. Selain itu, menurut Arif, penyebab lainnya adalah  politik yang memainkan isu-isu untuk kepentingan politik sesaat dan akibat tidak adanya keadilan. “Semakin timpang keadilan ekonomi, tentu akan membuat masyarakat gampang terpancing tindakan-tindakan kekerasan, tindakan-tindakan intoleran,” ucapnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, ketiganya harus simultan tidak bisa menuduh kelompok agama dan paham agamanya disalahkan. “Perbaiki juga tentang ekonomi, keadilan, para politisi jadilah negarawan yang kemudian menyebarkan ajakan-ajakan yang menyejukkan,” terang Arif.

Menurut Arif, Muhammadiyah sudah lebih satu abad ikut adil dalam merawat toleransi dan keberagaman walaupun punya pekerjaan rumah yang tidak sederhana, bahwa faham intoleran juga mempengaruhi kader-kader Muhammadiyah. “Di tingkat Cabang, di tingkat Ranting pengajian-pengajiannya harus menggunakan pengajian-pengajian yang faham keberagamaannya menurut Muhammadiyah memahami Islam, lembaga pendidikan juga harus begitu,” pungkasnya.(rizq)

Baca juga:

Gerakan Ayah Hebat Pemuda Muhammadiyah DIY

Hadapi Revolusi Industri 4.0, Haedar Nashir: Toleran dan Moderat Saja Tidak Cukup

Haedar Nashir: Usut Tuntas Kasus Teror Terhadap Tokoh dan Umat Beragama!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

More articles

- Advertisement -