Budaya

Puisi-puisi Iman Budhi Santosa

2015-03-29-67th-ibs-01
Shares

Maghrib di Pasar Swalayan

Maghrib memang tak perlu bagi lampu-lampu, etalase

manekin, barang-barang berselimut mata uang

yang tak henti-hentinya menantang

 

Tapi, mengapa engkau tak juga risau

sedang matahari khusyuk bersujud

di pangkuan Ilahi

melepaskan jerat ilusi

yang tak pernah pasti

 

Di pasar swalayan

sampai juga maghrib

demikian pula azan

tapi nyaris tak didengarkan

(2012)

 

Juma’at  Para  Fakir

Selalu dengan wajah kering, jauh wudu

salat ditinggalkan karena harus menunggu.

Mulai teritis, rindang beringin, hingga gerbang tua

berhias kuncup bunga peninggalan raja-raja Jawa.

 

Mengapa tangis terus dirawat, serupa tongkat

untuk mengemis pada manusia

bukan bersyukur pada Tuhan

yang membuatnya ada?

 

Ia memang tak ingin berteduh di serambi

dingin oleh zikir, hangat dalam sepasang rakaat

di hari mulia yang bernama Jum’at.

Ia memang lebih percaya pada keping logam

atau kertas, karena tak pernah mahir

mencungkil kata fakir dari bibir

yang dimanjakan piring dan gelas

(2012)

 

Di Makam Syeh Maulana Maghribi

Pada puncak bukit, usai jalan berundak

masjid dan makam, Islam dan Jawa

berdampingan dalam kerindangan

 

Di sudut, rumpun bambu pancing

sunyi warisan Maulana Maghribi

dekat muara sungai opak dan pantai selatan

menjaga kikisan ombak

zaman dan kepercayaan berbenturan

 

Di serambi, seorang lelaki muda bersila

seperti  menanti, seperti bertapa

tapi tasbih di tangan tetap menghitung

seperti ditetapkan Nabi

seirama denyut dada kiri

 

Di makam ini ratusan orang bersaksi

bumi Jawa bersyahadat

meletakkan keris pedang

di pangkuan para wali

(2011)

 

Matahari di Dahi

Tukang Sampah Tua Kota Yogyakarta

Karena gerobak itu bau, badannya juga bau

maka ia mandi dulu di masjid itu

mencuci karat daki

sebelum melafalkan kalimah suci

 

Diubun-ubunnya ada matahari

yang dulu juga menyaksikan Nabi

bersujud di padang pasir sunyi

 

Ada sampah tersisa pada namanya

tapi, tidak dihamparan sajadah tua

bergambar ka’bah

ketika ia meletakkan dahi

di pangkuan Yang Maha Perkasa

(2011)

————————–

*Iman Budhi Santosa lahir di Magetan pada 28 Maret 1948. Pendidikan formalnya adalah S.Pb.M.A. selama empat tahun di Yogyakarta (1968), lalu melanjutkan ke Akademi Farming Semarang (1983). Pernah bekerja pada perkebunan teh di Kendal (1971-1975) dan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah (1975-1987). Pada 1969, bersama Umbu Landi Paranggi dan kawan-kawan mendirikan Persada Studi Klub (PSK); komunitas penyair muda di Malioboro. Menulis sastra dan kebudayaan dalam dwi bahasa; Indonesia dan Jawa.

Karya-karyanya pernah dipublikasikan media massa pusat dan daerah, serta sejumlah majalah, seperti Basis, Sastra, Horison, Citra Yogya, Kalam, dan Latitudes. Sejumlah puisinya terdapat dalam antologi bersama: Tugu (1986), Tonggak 3 (1987), Pesta Api (1989), Lirik-lirik Kemenangan (1994), Zamrud Khatulistiwa (1997), Gerbong (1998), Bertandang dalam Proses (1999), Embun Tajalli (2000), Dari Fansuri ke Handayani (2002), Medan Waktu (2004), TOngue in Your Ear (2007), Force Majoure (2007), Malioboro (2007.


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Humaniora” Majalah Suara Muhammadiyah No. 12 tahun 2014

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • web-ad_kld-2019.jpeg
  • webad_pasang-iklan.gif
  • WebAds_deamilela_thumb.jpeg
  • SS-web1.jpg