Analog

Nurani Zamroni pada Pendidikan dan Muhammadiyah

zamroni

Judul                : Hidup Bermartabat dengan Muhammadiyah untuk Pendidikan Bangsa (Biografi Prof H Zamroni PhD)

Penyusun         : Tim Pusat Data dan Penelitian-Pengembangan Suara Muhammadiyah

Penyunting      : Lutfi Efendi

Penerbit           : Suara Muhammadiyah berkerjasama dengan UMM dan Gramasurya

Cetakan 1        : November 2017

Ukuran            : 21×21 cm

Tebal                : xx + 384 hlm

 

Orang Jerman menyebutnya zeitgeist. Bahwa manusia tidak bisa lepas dari jiwa zaman yang melingkupinya. Sejarah manusia dibentuk dari serangkaian proses panjang. Mulai dari lingkungan sosial, endapan pengetahuan dan pendidikan, hingga jangkauan pengalaman dan horison pemikiran. Tokoh-tokoh yang hari ini dikenal sebagai adimanusia tidak lahir dari ruang hampa. Apalagi sekali jadi semisal pertunjukan sulap.

Mereka telah melalui serangkaian tempaan dan beragam cerita kegagalan. Begitulah manusia adanya. Orang hanya melihat ketika sosok itu telah sukses dan menjadi arif dengan segala perangainya yang memukau. Mereka jarang mau melihat bagaimana sosok ini ditempa, dibentuk, dan didewasakan dengan beragam permasalahan, kesulitan, kepayahan, dan segenap ketidakenakan.

Orang bijak pernah berkata, ‘Belajarlah dari kesalahan orang lain, karena Anda tidak cukup waktu untuk melakukan semua kesalahan itu sendiri.’ Begitulah seharusnya kita menjalani kehidupan. Belajar pada pengalaman dan perjalanan sesama. Saling mengambil pelajaran. Terlebih pada sosok-sosok yang lama berkiprah di beragam lembaga, telah mengenyam umur senja dan melewati beragam masa. Mereka tentu memiliki segudang rekaman tentang beragam peristiwa.

Sebut salah satunya adalah sosok Prof Dr Zamroni PhD. Guru besar kelahiran Kauman, Gondomanan, Yogyakarta ini telah berusia 70 tahun pada 2017. Sebuah umur yang dianggap telah selesai dengan segala gegap gempita duniawi. Berbagai capaian dan buah pikirannya telah dinikmati oleh banyak kalangan.

Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa sosok pakar pendidikan yang disegani ini pernah menjadi seorang pramuniaga di sebuah toko ketika masih muda. Pernah juga bekerja sebagai staf biasa di kantor PP Muhammadiyah Jalan KH Ahmad Dahlan. Pengalaman-pengalaman ‘hidup susah’ ini diceritakan dalam buku ini. Hingga kemudian menjadi seperti saat ini.

Demikian juga, kepiawannya dalam seni bela diri Tapak Suci, jarang diketahui. Bergelut di Muhammadiyah sejak di Ikatan Pelajara Muhammadiyah (IPM), Majelis Pendidikan Kader (MPK), Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), hingga Majelis Pendidikan Tinggi (Dikti). Di majelis Dikti, Zamroni menjabat sebagai anggota (pada muktamar 41), menjadi sekretaris (muktamar 42), wakil ketua (muktamar 43), hingga menjadi pucuk ketua (muktamar 44).

Pada muktamar 45 di Malang tahun 2005, Zamroni diamanahi menjadi bendahara umum. Jabatan ini didudukinya hingga dua periode, setelah di muktamar 46 di Yogyakarta, putusan muktamar kembali menunjuknya. Tentu prestasinya gemilang, sehingga diamanahi beragam jabatan penting yang tidak biasa. Baru di muktamar 47 di Makassar, Zamroni memilih untuk tidak menduduki jabatan struktural. Tugas dan jabatannya di Universitas Negeri Yogyakarta dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menyibukkan dirinya. Meskipun, tidak di jabatan struktural Muhammadiyah, dia tidak benar-benar ‘mabniyyun ala sukun’ atau istirahat total. Pun saat ini setelah purna tugas dari UNY. (Ribas)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *