Haedar Nashir (lima dari kiri) berfoto bersama para tokoh usai menyampaikan pidato kebangsaan (Dok Tata)
Haedar Nashir (lima dari kiri) berfoto bersama para tokoh usai menyampaikan pidato kebangsaan (Dok Tata)
Berita

Pidato Kebangsaan, Haedar Nashir: Merah Putih Hitamnya Umat dan Bangsa Tergantung Pemimpinnya

MALANG, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan negara dan pemerintah harus benar-benar berdaulat termasuk dari hegemoni politik oligarki. Indonesia harus menjadi milik semua, jangan menjadi segelintir orang atau kelompok tertentu.

“Di sinilah pentingnya para pemimpin bangsa yang tercerahkan akal-budi dan peran kebangsaannya. Kata pepatah Italy ‘Ikan busuk dimulai dari kepala,’  Betapa penting posisi dan peran para pemimpin di negeri dan umat mana pun,” kata Haedar dalam Pidato Kebangsaan yang disampaikan di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (12/8).

Menurut Haedar, merah putih dan hitamnya umat dan bangsa tergantung pemimpinnya. Pemimpin itu jantung dan kepala dari tubuh manusia. Jika pemimpin itu baik, maka baiklah umat dan bangsa. “Sebaliknya nasib umat dan  bangsa akan nestapa manakala para pemimpinnya berperangai dan bertindak buruk, hianat, dan tidak konsisten pada nilai dan kenegarawanan. Padahal yang dipertaruhkan adalah nasib manusia jutaan warga Indonesia dengan segala nasibnya.”

Dalam kesempatan itu hadir Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Wakil Ketua MPR Ahmad Basarah, Rektor UMM Fauzan. Selain itu, di hadapan pimpinan persyarikatan, tokoh lintas agama, serta ribuan warga Muhammadiyah yang hadir, Haedar menyampaikan Pidato Kebangsaan bertajuk “Meneguhkan Nilai-nilai Kebangsaan yang Berkemajuan Menyongsong Indonesia Emas.”

Haedar percaya di Republik ini masih banyak elite dan warga bangsa yang masih jernih hati, pikiran, dan tindakannya untuk membangun Indonesia yang berkemajuan berdiri tegak di atas nilai-nilai luhur bangsa. “Maka saatnya energi positif ruhaniah dan kecerdasan akal-budi para pemimpin dan bangsa Indonesia kita titipkan amanah untuk mengisi kemerdekaan 73 tahun Indonesia merdeka.”

Para pemimpin itu, masih menurut Haedar, sejatinya memiliki kemuliaan posisi dan peran dalam membawa nasib umat dan bangsanya menuju tangga kemajuan. “Disinilah pentingnya para pemimpin yang ikhlas, jujur, dan mau konsisten pada nilai-nilai kehidupan bangsa,” ungkapnya.(Rizq)