smamda
Berita

Din Syamsuddin: Tidak Bisa Dibayangkan Adanya Stabilitas di Indonesia Kalau Islamnya Tidak Moderat

foto: republika
foto: republika

JAKARTA, Suara Muhammadiyah-Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban (UKP-DKAAP) Din Syamsuddin menyatakan bahwa corak keagamaan yang moderat di Indonesia ikut serta menjaga stabilitas bangsa. Sikap wasathiyah tersebut mampu menjaga harmoni dan kerukunan bangsa yang majemuk ini.

“Islam di Indonesia ini moderat. Tidak bisa dibayangkan adanya stabilitas di Indonesia kalau Islamnya tidak moderat, kalau umatnya tidak moderat,” ujarnya dalam Forum Perdamaian Dunia (World Peace Forum/WPF) ke-7, Jakarta, Selasa (14/8). WPF itu berlangsung di Jakarta pada 14-16 Agustus 2018 dan mengangkat tema “the Middle Path for the New World Civilization”, yang pada hari terakhir akan menghasilkan Jakarta Message. Forum ini diikuti sekitar 231 tokoh dari 43 negara.

Menurutnya, jika umat Islam di Indonesia yang mayoritas ini tidak toleran, maka Indonesia sudah hancur dan kacau. Sejak awal, dengan kebesaran hati umat Islam, Piagam Jakarta yang disusun oleh pendiri negara akhirnya bisa dikompromikan demi keutuhan bangsa.

Oleh karena itu, Din meminta isu radikal jangan hanya menyasar Islam dan umatnya, karena radikalisme ini ada di setiap sisi kehidupan manusia. Sikap yang menganggap Islam sebagai radikal adalah tindakan radikal itu sendiri. “Dalam rangka menjaga kerukunan, mari kita cari akar tunjang dari radikalitas. Baik atas nama agama, ekonomi, dan politik,” ungkapnya.

Kekerasan akibat radikalisme, kata Din, tidak hanya berupa kekerasan fisik yang kemudian dikaitkan dengan Islam. Masih ada kekerasan pemodal dan kekerasan negara. Radikalitas dipicu oleh banyak faktor. Adanya kesenjangan dan ketidakadilan biasanya menjadi alasan utama munculnya gerakan radikal ini. Salah satu contoh dengan sistem ekonomi yang ekstrim membuat orang yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Dalam kesempatan itu, Din juga mengatakan bahwa konsep Jalan Tengah (Middle Path) merupakan solusi krisis peradaban untuk menciptakan keseimbangan di dunia. “Kami sungguh berharap dengan membawa ‘middle path’ kita membawa energi dunia. Middle path menjadi solusi untuk krisis peradaban dunia,” kata Din. Menurutnya, Pancasila bisa menjadi titik temu yang perlu ditawarkan kepada dunia.

Krisis dunia yang ditandai dengan liberalisasi ekonomi, politik dan budaya, perlu dicarikan keseimbangan, antara hak dan kewajiban atau tanggung jawab. Di sinilah, konsep Jalan Tengah itu berperan untuk mencerminkan keseimbangan tersebut. “Kita harus menjaga keseimbangan dengan Jalan Tengah,” ujarnya.

Menurut Din, Indonesia sendiri dapat mengajukan Pancasila sebagai manisfestasi Jalan Tengah kepada dunia. “Kita ingin mengangkat konsep jalan tengah ini terutama dari khasanah bangsa ini, budaya Indonesia yang memang berada di jalan tengah. Kita ini cenderung mencari jalan keluar, kita ini cenderung duduk bersama dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sehingga terkenal dengan gotong rotong,” katanya. (ribas)