Humaniora

Puisi-puisi W Haryanto

foto: naufalbear
foto: naufalbear

 

“LAPINDO !”

: surat buat Presiden

 

waktu tak tampak, bukan jalan yang lincah, nasib yang lekas,

maret ke-12, aku membacamu yang berpeluk ke rimbun pohon,

cemasmu tak tergoyah. Seakan menebar bunga-bunga kemenyan

 

arahmu mencari mata gerimis. Tak lepas dari kenangan:

bersandar ke kaca jendela, berdiri alpa lalu memeluk remang,

Kau mengganti kulit tahun. Dan rasa peduli hilang kendali

 

—masih pada warna yang sama, entah apa yang terasa, sakit

atau unggas yang berkarat ke tengah kolam—Kau suka berlagu

dan kerap mencuri warna bunga. Kau diam-diam bergeser,

 

Kau menegur air dengan tatapan yang cermat, Kau bisa

memilih bulan dalam jerami, Kau tak terbelah. Saat hujan

acuh atas masa lalu, bukan akal menjamah hutan ke awal syair,

 

mengubahmu jadi hening—tempat senja menoreh sedih

seperti orang-orang pincang. Ke puncak Maret: kita minum teh,

lalu teringat pada letak pakis di dinding sumur—dulu,

 

Kau bertukar rupa ke tetes air, cinta yang sepadan

dengan bayangan. Kau merubah langkah. bulan jatuh lalu beranak

ke dasar kolam, jam tak berhenti di angka tujuh

 

Kau mengharap cuaca bisa berubah—dan kelak,—ibu yang kekal

teguhkan tanah-tanah retak ke hulunya: aku berlari,

sampai bulan abu, terbakar tungku. hari remajamu seperti sihir,

 

bualan hikmat di bawah payung,—jauh ke tengah hari

bila terlanjur kemungkinanmu, kubuka simpulmu”—aku berujar

bersama burung, tak risau saat tergelincir ke ujung daun.

 

(2009-2011)

 

FRAGMENT OF INSANITY

                        —usai Tsunami Aceh

 

tangis tak selalu berkisah. Masa lalu

yang jauh di dasar laut. Aku bermimpi

seakan menggiring mendung ke puncak bukit,

biar dunia terbuka—

 

tapi cintaku mati. Di jubah Desember

saat kita dipisahkan tsunami, kutulis syair

tentang jarak bumi dan bulan,

 

badai ini tak mungkin kutolak,

pikiranku pergi dari tubuh. Di malam yang

tak berputus, bulan yang mati tinggal abu,

 

saat pagi menyala di jalan lembah,

aku seperti mayat yang tak berjawab

dan mengukir setiap bayangan

 

(2004-2011)

 

JAGIR WONOKROMO, I

                        —usai penggusuran

 

hening yang tak bisa diduga

membujukmu pergi,

dan prenjak tak lagi melintas,

ujarmu tak berbalas

 

senjamu tak sama seperti kemarin,

cuma bisikan-bisikan ke sungai

sisa gelap ditulis kereta malam

seperti ingatan,

 

ke lampu 40 watt

pesanmu tercatat, dan kucemaskan

caramu memandang

setelah halaman buku terlanjur tertutup,

dan kampungmu yang lama

adalah anjing-anjing yang menguap

 

(Surabaya, 2004-2011)

 

JAGIR WONOKROMO, II

                        —kepada perkampungan streenkali Jagir

 

kau tak lagi datang subuh ini,

 

bulan pergi usai memungut gugur daun

di pelupukmu, ia menyebutmu. Dalam resah

 

sungai yang tua hilang arah,

pada potret lama: kau pernah limbung

mainkan lagu bersama orang-orang kakilima,

ocehan-ocehan tak jelas, pasar maling,

 

kenyataan cuma tanda titik,

kota yang berganti kulit, dan neon-neon

menembus ruang penuh bius,

membusukkan apa yang tertangkap mata,

 

kesabaranmu adalah bahasa

yang telah mati. Tubuh yang kalah

 

(tubuh yang memantulkan

—ujud dari Ibu yang gaib)

 

Kelak, pintu kota telah tertutup. Tanpamu,

jika esok mulai dituliskan lagi:

dan jika seekor anjing mencari-carimu,

mungkin kau mainkan klarinet

di akhir syairku.

 

(2011)

 

AWAL

Setelah kata berakhir dan angin tak lagi menggerakkan apapun di sekitar kita, setelah adzan magrib melintas teluk dan September sujud tanpa bisikan, setelah kematian menjawab semua teka-teki, setelah tiap rumus matematika tak menjadikan kita bijak. Di sini. Kita sendiri di bulan. Pada batas terluar dari kenyataan. BISMILLAH,

 

Setelah halaman terakhir buku kita tutup. Burung-burung dan semua bunyi hilang. Senyapkah?

 

(2011)


 

TREMBESI

—pojok jalan Kartini, Blitar

 

hidup yang kutiup, saling bersahut

mawar hitam yang dibisikkan ke air—

bayanganku damai bubuhkan warna,

 

kutandai tahun dengan nyanyi yang

meninggalkan sunyi. tanpa jiwa. aku tak mengerti

dunia macam apa yang kupilih,

 

nasibku masih di ufuk. pada jam gementang

gelap khusyuk dan tumpah ke dinding

ada sebab yang terasa seperti teriak

 

senjaku lari menuju hutan. jalan di dalam

ketakutan, ruang yang tiada tepi

aku membacamu dengan getir seperti sebuah tanda seru

 

tak ada esok. syair hanya terucap kabut—

menjadikanku begitu liar

kesadaranku menjauh dan dilecut cambuk

 

waktu memalingkan muka. kenangan

yang tak dikenali. cerita yang menyakitkan

menjadikanku separuh api,

 

sendiri. bisikan-bisikan yang berlepasan

aku tak mungkin menjaga dunia dari kehilangan,

bayanganku tlah menikamku dari belakang

 

(Blitar, 2009)


W Haryanto, penyair, eseis, dan penulis naskah drama. Karya-karyanya banyak termuat di pelbagai media massa, Kompas, Jawa Pos, Media Indonesia, dll. Puisi-puisinya juga terkumpul dalam sejumlah buku, antara lain, Birahi Hujan (DKJ, 2003), Ubud Writer Festival 2010, Temu Sastrawan Indonesia 2010,dll. Selain menulis juga menyunting dan menerbitkan buku-buku penulis-penulis muda Jawa Timur, Generasi Mutakhir Penyair Jawa Timur edisi 1 (2007), Generasi Mutakhir Penyair Jawa Timur edisi 2 (2008), No Prayer for The Dying (antologi tunggal Puput Amiranti, 2011), Rakyat & Tuhan (antologi 4 penyair Blitar, 2011), dan Airmata di Jumat yang Agung (antologi tunggal Langitjiwa Andra, 2011). Bersama kelompoknya UKM Teater MataAngin Unair pernah lolos dalam Festival Teater se-dunia Project Istro-politana di kota Bratislava, Slovakia, 2008. Kini menjadi ketua Forum Alumni Unair Independent (FauNa). Menetap di Ngagel Baru 3/16 Surabaya, HP: 081703260717, email: w_haryanto1972@yahoo.com

*Tulisan ini pernah dimuat di rubrik Humaniora Majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 5 tahun 2012

 

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *