Dialog

Nilai Islam Harus Ada Pada Semua Kekuatan Politik

yusril-ihza-mahendra_20170517_105642
Shares

 

Pasca Reformasi, banyak Partai Politik Islam yang muncul serta menjadi kontestan pemilu. Namun masih banyak kalangan menilai peran parpol Islam belum terlalu signifikan dalam membawa aspirasi dan kepentingan umat. Alih-alih membawa aspirasi umat, justru sebagian oknum dari partai Islam secara praktis masih ada kecenderungan berprilaku sama dengan partai-partai sekuler maupun nasional. Apakah memang betul demikian pahit kenyataan parpol Islam ini? Dan kenapa bisa terjadi? Serta langkah-langkah apa yang mesti dilakukan parpol Islam ke depan?  Lebih detilnya, Berikut petikan wawancara Suara Muhammadiyah dengan Prof Dr H Yusril Ihza Mahendra, Pakar Hukum Tata Negara, Mantan Menteri di era Gusdur, Megawati Soekarno Putri dan SBY serta Pendiri dan Mantan Ketua Partai Bulan Bintang (PBB) beberapa waktu yang lalu.

Umat muslim adalah golongan masyarakat mayoritas di tanah air, namun secara politik, umat Islam tidak memiliki kekuatan politik signifikan, kenapa hal ini bisa terjadi?

Secara formal bisa dibilang begitu, kalau dilihat dari partai-partai yang secara resmi menyebut dirinya partai Islam, namun kekuatan politik Islam di Indonesia tidak bisa dilihat sesedehana itu. Jika semua pihak menganggap Islam sebagai faktor politik yang penting, dan tidak ada suatu kebijakan apapun yang akan diambil oleh kekuatan politik manapun juga, itu semua menandakan bahwa Islam sebagai faktor politik tetap signifikan dalam politik di tanah air. Semakin banyak ajaran-ajaran Islam terimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan semakin baik, hal itu dapat dilakukan oleh kekuatan politik mana saja. Saya melihat, hal itu jauh lebih baik sekarang dibandingkan dengan masa-masa lalu.

 

Sejauhmana signifikansi partai politik Islam selama ini ?

Partai Islam itu bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mencapai tujuan. Sebagai alat, segalanya tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh sebuah bangsa. Ada trend di suatu zaman, partai Islam menguat, adakalanya melemah. Partai Nasionalis juga mengalami hal yang sama. Namun faktor Islam harus tetap ada pada semua kekuatan politik. Karena itu, saya mendorong agar kader-kader muda Islam masuk ke semua partai, militer, polisi, akademisi, LSM  dan apa saja, yang semuanya adalah kekuatan-kekuatan politik yang dapat mempengaruhi kebijakan politik nasional.

 

Belakangan ada sebagian anggapan publik, bahwa keberadaan partai politik Islam tidak jauh berbeda atau hampir sama dengan partai-partai sekuler dan nasionalis. Bagaimana tanggapan bapak?

Mungkin ada benarnya hal itu. Pada tingkat praktis di lapangan, secara empiris hal itu sangat mungkin untuk terjadi. Islam pada dasarnya bekerja dalam pikiran dan perasaan orang-orang yang terlibat dalam politik. Dengan dasar itulah prilaku politiknya dibimbing dan diarahkan. Dalam tindakan yang praktis sepintas bisa terlihat sama dengan orang sekuler dan nasionalis. Niat dan akhlak, atau motivasi dan etiklah, yang menjadi pembeda tindakan seseorang dan sekelompok orang. Saya tidak menafikan bahwa dalam realitas ada pimpinan dan anggota partai Islam yang berprilaku buruk, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ini menandakan bahwa terdapat kesenjangan antara idealisme dengan realitas, yang secara normative harus diperbaiki terus-menerus.

 

Beberapa tokoh Ormas Islam sering sekali menyerukan adanya koalisi parpol Islam, namun kenapa sampai saat sekarang, sepertinya partai Islam sulit untuk bersatu ?

Ini problema yang sama yang dihadapi oleh semua ideologi politik di tanah air. Bukan hanya Islam, partai Kristen saja pecah belah. Sosialis terpecah-pecah juga. Komunispun ada macam-macam partai. Nasionalis apa lagi. Anda lihat saja lambang Banteng, digunakan oleh banyak partai, mulai banteng yang paling gemuk sampai banteng yang tinggal tulang-tulangnya saja. Terpecahnya kekuatan politik, kadangkala bukan disebabkan perbedaan ideologi, tetapi perbedaan kepentingan di antara tokoh-tokohnya. Ini yang menyulitkan persatuan seperti anda kemukakan.

 

Problem-problem apakah selama ini yang terjadi dalam parpol Islam, hingga kendaraan politik umat Islam ini, belum mampu menjadi tuan di rumah sendiri?

Faktor pertama karena kelemahan kepemimpinan; Kedua dana yang tidak cukup, ketika rakyat makin pragmatis dalam menentukan pilihan politik; Ketiga,sebagian partai Islam hancur karena mereka tidak mau ikut-ikutan “zaman edan” seperti kata Ranggawarsita; Keempat, Pemilu kita penuh rekayasa dan kecurangan. Partai Islam umumnya tidak mau terlibat dengan praktek-praktek seperti ini. Kelima, sebagian umat Islam menganggap bahwa perjuangan menegakkan suruhan-suruhan Islam tidak selalu harus dilakukan oleh partai Islam. Ini hanya soal strategi politik saja.

 

Bagaimanakah sesungguhnya peran ideal dari keberadaan parpol Islam sebagai representasi ummat Islam di tanah air?

Idealnya, gabungan antara partai kader dan partai massa. Partai kuat secara intelektual dan leadership, tetapi juga mendapatkan dukungan massa yang banyak dan militant.

 

Langkah-langkah apa pula yang mesti dibenahi oleh parpol Islam untuk membangun kepercayaan public dan menjadikan parpol Islam sebagai wadah aspirasi ummat secara luas?

Yang paling penting terus-menerus melakukan komunikasi politik, sehingga gagasan dapat dipahami dan diterima bagian terbesar rakyat.

 

Dengan melihat dinamika politik yang berkembang belakangan ini, bagaimana bapak melihat prospek parpol Islam?

Saya tidak terlalu optimis dengan melihat kenyataan bahwa rakyat semakin pragmatis dalam menentukan pilihan. Di tengah rakyat yang sebagian besar masih berpendidikan rendah dan hidup dalam kemiskinan, maka partai yang akan dipilih rakyat adalah partai yang banyak-banyak bikin iklan di televisi  dan memberi  uang menjelang hari H pelaksanaan Pemilu. Parpol-parpol Islam umumnya tidak punya dana. Mengharapkan uang halal untuk berbuat demikian, alangkah sulitnya. Partai sekular akan berbuat apa saja, dapat uang entah dari mana, yang penting ada dana besar untuk Pemilu, Pilpres atau Pilkada. Saya pribadi selalu merasa orang yang kalah dalam pertarungan politik. Bukan saya tidak mampu. Saya tidak mau menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Itu sebabnya sebagian analis mengatakan bahwa sejatinya saya bukanlah seorang politikus. Kalau politikus harus diartikan dapat berbuat apa saja demi mencapai kekuasaan, barangkali memang benar juga kalau saya ini bukanlah politikus. (d)


Tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Dialog” Majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 9 tahun 2012

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *