smamda
Berita

Ketahanan Muhammadiyah Ada di Cabang dan Ranting

Kuliah umum oleh Mendikbud (Dok Dwi Agus/SM)
Kuliah umum oleh Mendikbud (Dok Dwi Agus/SM)

MAGELANG, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Ranting dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah memiliki peran yang sangat penting. Ketahanan Muhammadiyah akan sangat tergantung bagaimana memperkuat serta merevitalisasi cabang dan ranting.

Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, ranting merupakan akar organisasi, jika akarnya subur maka tanaman yang di atasnya akan tumbuh subur juga. “Jika ingin Muhammadiyah ini maju dan memiliki daya tahan yang kuat, maka ranting-ranting harus mulai dihidupkan kembali,” tutur Muhadjir dalam kunjungannya ke Cabang dan Ranting Expo di PRM Gunungpring, Magelang, Sabtu (20/10).

Agar cabang dan ranting bisa maju, Muhadjir memberi contoh dengan cara membuat lembaga pendidikan yang mengagumkan seperti di PRM Gunungpring yang memiliki SD, SMP Plus, dan SMA Taruna. “Saya kira Gunungpring adalah contoh ideal dari ranting Muhammadiyah,” imbuhnya.

Untuk mewujudkannya, lanjut Muhadjir, memang tidak mudah, perlu perjuangan dan kerja keras. Oleh karena itu, Muhammadiyah harus dengan segala daya dan upaya, menghidupkan dan merevitalisasi kembali ranting dan cabang.

Selain itu, mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut juga memberikan pesan kepada ‘Aisyiyah yang mempunyai tugas pokok untuk menggerakkan kelompok akar rumput terutama melalui gerakan pencerahan majelis taklim.

“Muhammadiyah memiliki program keluarga sakinah, itu semestinya ‘Aisyiyah mengambil peranan disitu, menggerakan kembali pengajian-pengajian, kajian-kajian, di tingkat ranting dan cabang secara bergilir untuk memberikan pencerahan,” tandas Muhadjir.

Di dalam pengajian tersebut, masih menurut Muhadjir, tidak hanya majelis taklim, tapi majelis taklim modern. Terdapat penyuluhan kesehatan ibu dan anak, penyuluhan kepada calon pengantin, pemberian wawasan dan pendidikan keluarga yang baik, seperti bagaimana cara menghindari berbagai macam pengaruh negatif terhadap anak dan lain sebagainya.

“Tidak hanya kajian keislaman, tetapi pengkajian yang juga memberikan bekal ibu-ibu rumah tangga untuk wawasan yang luas, termasuk kesehatan, pendidikan anak, dan juga ekonomi umat,” pungkasnya.(Riz)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *