30.6 C
Yogyakarta
Kamis, Oktober 1, 2020

Haedar Apresiasi Lokakarya Studi Kemuhammadiyahan untuk Generasi Millenial

By Suara Muhammadiyah

- Advertisement -

Berita Terbaru

Menguji Kualitas Pilkada dengan Protokol Kesehatan, Apakah Cukup?

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Semenjak kasus pertama Covid-19 diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada awal bulan Maret 2020, banyak hal yang sebenarnya...

Berhasil Lampaui Target, LLHPB ‘Aisyiyah Persiapkan Keberlanjutan Program

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Menjelang pengakhiran program “Membangun Kelentingan Keluarga dan Komunitas dalam Menghadapi Masa Pandemi Covid-19”, LLHPB PP Aisyiyah mempersiapkan Exit...

Farmasi UMP Juara Nasional Karya Tulis Ilmiah

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Tim Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) berhasil meraih juarai Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTI) BRM FMIPA...

Upaya UMMAT Gelar Wisuda di Masa Pandemi

MATARAM, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menggelar wisuda luring (langsung), untuk angkatan 48 dan 49, Diploma dan Strata-1 (S-1). Wisudah...

Ormas Kegamaan Punya Peran Signifikan Menanggulangi Covid-19

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah- Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Badan Diklat dan Litbang Kemenag RI bekerjasama dengan Al-Wasat...
- Advertisement -

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menguatkan pengetahuan civitas akademika terhadap Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Perguruan Tinggi Muhammadiyah se Jabodetabek bekerjasama dengan Suara Muhammadiyah dan TvMu menyelenggarakan Launching buku Kemuhammadiyahan dan Lokakarya Al-Islam, Senin (10/12/2018) di Auditorium Ahmad Dahlan Lt.6 Kampus Uhamka Pasar Rebo, Jakarta Timur. Acara dihadiri oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr. H. Haedar Nashir, sebagai keynote speech, para pembicara seperti Prof. Dr. Lincolin Arsyad, M.Sc.; Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Gunawan Suryoputro, M.Hum; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Dr. H.M. Yunan Yusuf,MA; Guru Besar UIN Jakarta, Drs. H. Husni Thoyar,MA.; Ketua BPH UMJ, Drs. Zamahsari, M.Ag.; Wakil Rektor IV Ketua Tim Penulis Buku Kemuhammadiyahan/Wakil Rektor IV Uhamka, Deni Asy’ari,MA; Direktur Suara Muhammadiyah serta peserta dari berbagai latar belakang dosen aika, mahasiswa, lembaga kampus, hingga pimpinan ptm.

Dr. H. Haedar Nashir, M.Si dalam pidato kuncinya,  menyampaikan apresiasi yang baik kepada Uhamka dan PTM lainnya yang tekah menyusun buku kemuhammadiyahan. Haedar juga menyampaikan beberapa point penting diantaranya isi yang terkandung dalam buku kemuhammadiyahan secara keseluruhan yang ditulisnya, kemuhammadiyahan dalam prinsip teologi al maun dan konteks dalam gerakan alam pikiran di lingkungan Muhammadiyah, masyarakat berbangsa dan bernegara.

Warga Muhammadiyah sebagian beranggapan bahwa apabila sudah Islam itu sudah berMuhammadiyah karena dinilai memiliki pandangan dan gerakan yang moderat. Namun, dalam sejarahnya Muhammadiyah justru memiliki karakter khusus dalam menyoal keagamaan dan gerakannya. “Muhammadiyah sebagai gerakan islam memiliki karakter sendiri. Islam terbentuk sebagai ajaran, ide, memiliki sifat yang absolut. Orang-orang dapat menafsirkannya sesuai dengan pandangannya.”ujarnya

Haedar juga menambahkan bahwa harus ada pengembangan dari studi kemuhammadiyahan yang terbagi dalam latar belakang yang berbeda-beda. “Perlu juga, ke depan dikembangkan, konsep studi kemuhammadiyahan ini untuk pemula maupun untuk kalangan profesional. Misalnya Muhammadiyah for beginner dll”, ungkapnya

Adanya pendidikan dan pengetahuan tentang Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan keagamaan Islam adalah yang harus diketahui oleh generasi saat ini. Orang lebih mengenal islam, namun belum tentu ia mengetahui tentang Muhammadiyah. Di perguruan tinggi misalkan, belum tentu mahasiswa dan dosen di ptm adalah orang Islam yang mengenal tentang Muhammadiyah.

Deni Asy’ari dalam penyampaiannya mengatakan bahwa orang yang bekerja dan mengabdi di PTM belum tentu orang Muhammadiyah dan mengenal tentang muhammadiyah.”Kita tahu belum tentu mahasiswa yang kuliah di kampus adakah orang muhammadiyah atau mengenal Muhammadiyah. Misalkan UAD, paling 20% saja yang Muhammadiyah.”ujar Deni (red)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -
- Advertisement -
- Advertisement -

More articles