Haedar Nashir saat berceramah di Masjid Gedhe Kauman (Dok PP Muh)
Haedar Nashir saat berceramah di Masjid Gedhe Kauman (Dok PP Muh)
Berita

Pesan Haedar Nashir dalam Menghadapi Tahun Politik 2019

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah-Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pengajian refleksi akhir tahun 2018 di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta turut memberikan beberapa wejangan dalam menghadapi tahun politik 2019. Menurutnya, ajang demokrasi semisal pemilu, pilpres, pileg, merupakan peristiwa biasa yang terjadi setiap lima tahun sekali. Oleh karena itu, menyikapinya tidak boleh secara berlebihan.

Haedar menyatakan bahwa politik itu adalah urusan muamalah duniawiyah. Prinsipnya ibahah atau boleh, tidak diatur secara rigid di dalam nash. Politik dibutuhkan dalam mengatur urusan dan mendistribusikan keadilan.

Politik merupakan wilayah domain partai politik. “Muhammadiyah itu ormas. Bukan partai. Tugasnya berbeda dengan parpol,” ungkapnya. Antara partai dan ormas memiliki peran serta tugas yang berbeda.

Dalam kontestasi politik, selalu ada pihak yang menang dan kalah. “Yang menang, jalankah amanah dengan baik dan hormati yang kalah. Yang kalah, hormati yang menang dan terus belajar,” ujarnya.

Menurut Haedar, Muslim dalam berpolitik harus menunjukkan akhlak mulia, yang berbeda dengan cara orang sekuler berpolitik. “Kita sebagai muslim menggunakan nilai-nilai mulia yang diajarkan agama. Kampanye dengan hikmah dan mauizah hasanah. Rebut hati orang, bukan dengan mencaci maki,” katanya.

Haedar juga mengingatkan bahwa perjuangan amal shaleh tidak hanya bisa dilakukan melalui bidang politik. Masih ada banyak bidang yang lain yang sama mulianya dan perlu diberi perhatian.

Dalam menghadapi tahun politik, kata Haedar, juga dibutuhkan bekal ilmu. Dalam menghadapi apa pun, harus dengan ilmu. Islam sejak awal menggaungkan spirit ilmu. Wahyu pertama justru berisi perintah membaca.

Sisi lain, umat Islam perlu untuk tidak terlena dengan tahun politik. Umat Islam harus berpacu membangun pusat-pusat keunggulan. Dengan itulah, Islam bisa kembali menjadi umat yang berkualitas dan diperhitungkan.

Umat Islam sebagaimana yang disebut dalam al-Quran, juga harus menjadi khairu ummah. Menjadi syuhada ala al-nas. Pelaku kebaikan. Menjadi contoh teladan bagi umat lainnya.

Di tahun politik, kata Haedar, hal yang juga perlu menjadi perhatian bersama adalah soal ukhuwah dan kebersamaan. Tiada bangsa besar tanpa persatuan. (ribas)

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *