Editorial Kolom

Dakwah Digital: Narasi Alternatif Muhammadiyah

2
Shares

Kecerdasan buatan dengan kecanggihan algoritma patut menjadi perhatian. Para influencer sangat memahami cara kerja dunia digital dan mengoptimalkannya. Adalah algoritma yang dikembangkan oleh Facebook, Youtube, Twitter, selalu membaca, mencatat, dan menganalisis kebiasaan dan kegemaran penggunanya. Secara otomatis, mengetahui apa dan siapa yang sering diklik, kemudian mengelompokkan mereka dalam satu zona tertentu. Hanya orang dan narasi yang dalam jangkauannya saja yang berseliweran di beranda.

Ketika ekosistem terbentuk, mereka direkatkan dengan kesamaan minat, rasa-merasa, dan ideologi. Faktor emosi sangat menentukan tingkat kepercayaan di masa berlimpahnya informasi. Orang merasa nyaman dan terbangun rasa percaya pada mereka yang dekat dan sepaham. Hormon oksitosin membuat rasa intim dan senang dengan objek yang dekat dengannya.

Sebaliknya, langsung melawan dan kotra dengan mereka yang berlawanan dan jauh secara ideologi. Karena kenyamanan pada kesamaan, orang betah berlama-lama di media sosial untuk berkomentar, menanggapi, berdebat. Waktu yang terserap inilah yang dikomputasikan oleh penyedia layanan untuk menyodorkan iklan yang sesuai dengan hasil logaritma kecenderungan.

Dalam kasus umum, perdebatan itu sengaja dipelihara oleh buzzer dan pemilik kepentingan. Netizen pun terpolarisasi dan saling berkelahi. Setiap ada kutub pro selalu dilawan kutub kontra, berhari-hari menjadi trending topik di medsos. Dari perdebatan yang menguras tenaga itu, tidak ada yang diuntungkan. Persis perumpamaan anjing yang berebut tulang.

Perdebatan itu biasanya dimunculkan oleh sebab sebuah kasus yang dimunculkan seorang influencer. Di masa ini, influencer dipercaya publik karena otoritas (termasuk bidang keagamaan) bergeser. Kepakaran menjadi tidak penting. Dari hubungan guru-murid secara langsung, kini belajar pada ustaz idola di media sosial. Adalah positif ketika sang influencer merupakan sosok alim dan berakhlak mulia, namun tidak sedikit ustaz idola yang justru berideologi sebaliknya. Niat baik para ustaz milenial perlu dihargai, sekaligus menjadi otokritik bagi organisasi moderat untuk memberi alternatif ustaz yang memenuhi dahaga spiritual.

Fenomena ini menyadarkan kita semua, bahwa Muhammadiyah belum menjadi influencer digital. Muhammadiyah sebagai ummatan wasathan belum maksimal menawarkan narasi-narasi alternatif yang memikat. Tokoh Muhammadiyah belum akrab di ruang ini dan tidak memiliki tim teknis. Hanya personal tertentu yang bergerak dan narasi-narasi mereka kadang tidak mewakili suara resmi induk organisasi.

Di tengah arus itu, Muhammadiyah sebagai arus moderat tidak perlu ikut-ikutan dalam salah satu kutub perdebatan. Tetapi diam juga bukan solusi. Ketika arus moderat diam, maka arus kecil ekstrim kiri dan kanan akan leluasa menguasai ruang sosial. Muhammadiyah perlu keluar dari kedua kutub dan menampilkan diri sebagai kekuatan penyeru narasi alternatif. Perlu dihadirkan Good News From Muhammadiyah. Di saat netizen sibuk berkelahi, Muhammadiyah sesuai kepribadiannya harus sibuk bekerja dan mengabarkan warta menyejukkan.

Muhammadiyah perlu merubah strategi dakwah komunitas virtual. Perlu digalakkan al-jihad li al-muwajahah dalam wujud memberikan jawaban atas tuntutan zaman dengan narasi alternatif terbaik untuk mewujudkan kehidupan utama. Dakwah di dunia baru ini sungguh mujur. Menyedikitkan kata dan tenaga, tetapi mengefektifkan pesan. (ribas)


Tulisan ini pernah dimuat di majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 14 tahun 2018

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

1 Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *