Bina Akhlaq

Lapang Dada

ilustrasi: kaskus
ilustrasi: kaskus

Oleh: Mutohharun Jinan

“Lapang dada, luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam.” Ini adalah salah satu sifat dari sepuluh sifat Muhammadiyah yang termaktub dalam rumusan Kepribadian Muhammadiyah. Lapang dada dan luas pandangan adalah dua frase yang saling terkait dan saling melengkapi. Yang dimaksud lapang dada tentu saja bukan dalam pengertian dhahir dari frasa tersebut, yakni dadanya lebar atau lapang. Lapang dada adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan sikap terbuka, sikap menampung berbagai informasi dan nasehat, sikap tidak mudah tersinggung. Sementara luas pandangan, mengandung pengertian keluasan ilmu pengetahuan, penguasaan banyak persoalan, berpengalaman, dan keluasan perspektif dan wawasan.

Setiap orang menghadapi masalah dalam hidupnya, terkadang terasa berat terkadang ringan secara silih berganti. Begitu juga, setiap orang menjumpai saat-saat yang sangat membahagiakan namun dalam waktu yang tidak lama berubah menjadi menyedihkan dan memberatkan. Dalam situasi apapun agaknya lapang dada mampu menjadi penyeimbang sehingga seseorang tidak terjerumus dalam kesombongan pada saat sedang begembira dan tidak putus harapan pada saat sedang dilanda kesedihan.

Sikap lapang dada sinyalir dapat menjadikan pemiliknya sebagai calon penghuni surga. Sebagaimana kisah seorang pemuda Anshar yang lewat ketika Nabi Muahammad saw dan sahabat sedang dalam satu majelis. Lalu Nabi bersabda, telah datang seorang calon penghuni surga. Perkataan ini terulang tiga kali. Abdullah bin Amru bin Ash lalu mengikuti laki-laki Anshar tersebut selama tiga hari. Tidak terlihat amalan ibadah istimewa yang dilakukan oleh lelaki Anshar ini. Rupanya, yang menjadikannya calon penghuni surga adalah sifat lapang dada. Kata lelaki itu, “Amalku hanyalah amal yang telah engkau lihat. Namun di dalam jiwaku sama sekali tidak pernah terbetik rasa ghisy (tidak tulus) terhadap seorang muslim pun, dan aku juga tidak pernah iri kepada seorang pun atas sebuah nikmat yang Allah karuniakan kepadanya.” (HR. Ahmad)

Lapang dada juga sangat manjur untuk meredam sikap amarah tatkala ada orang yang sedang mengkritik atau melakukan perbuatan yang tidak menyenang. Seorang pemimpin akan tampak kewibawaannya jika mampu menunjukkan sikap berlapang dada pada saat kritik dari masyarakat menerpanya.

Suatu hari Amirul Mukminin Umar bin Khattab sedang berpidato tentang jihad. Tiba-tiba Salman Al Farisi menginterupsi, ‘Jangan didengar, jangan ditaati”. Umar mencoba bersabar dan bertanya, ”Mengapa?” ”Karena engkau berbuat curang dan mencuri kain Yaman yang dibagikan kemarin masing-masing selembar per orang. Bagaimana engkau bisa menjahitnya menjadi baju dan sekarang memakainya.”

Umar kembali bersabar, dan bertanya kepada hadirin, ”Mana Abdullah?” Tak ada yang menyahut, termasuk putranya, Abdullah bin Umar, karena mungkin menyangka maksudnya adalah hamba Allah (abdullah). Untuk ketiga kalinya Umar bersabar dan bertanya lebih konkret, ”Mana Abdullah bin Umar?” Setelah anaknya menyahut, Umar memerintahkan menjelaskan asal muasal bajunya. Penjelasannya memuaskan Salman dan hadirin, bahwa jatah kain Abdullah Bin Umar diberikan ayahnya sehingga cukup dibuat satu baju. Mereka pun kembali bersedia mendengarkan dan menaati. Umar tetap bersikap lapang dada, sabar dan ramah tamah, meski kritik itu salah. Inilah salah satu penyebab keberhasilan pemerintahannya.

Dalam Al-Quran istilah lapang dada, secara simbolik digunakan Allah SWT untuk menunjuk orang-orang yang kepadanya Ia berkenan memberi petunjuk atau hidayah, terutama hidayah iman dan Islam. Allah berfirman, ”Siapa-siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, maka Dia melapangkan dadanya. Dan siapa-siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka Allah menjadikan dadanya sesak dan sempit” (QS. Al-Anfal/6: 125).

Orang yang bersih hati dan lapang dada, seperti dikemukakan di atas, tak lain adalah orang-orang yang mampu menekan secara maksimal kecenderungan-kecenderungan buruk yang ada dalam dirinya, seperti rasa benci, dengki, iri hati, dan dendam kusumat. Sebaliknya, ia juga mampu dan berhasil mengembangkan potensi-potensi baik yang ada dalam dirinya menjadi kualitas-kualitas moral (akhlaq al-karimah) yang nyata dan aktual dalam kehidupannya.


Penulis adalah dosen di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Bina Akhlaq” majalah Suara Muhammadiyah edisi nomor 8 tahun 2016

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *