Berita

Saran Dekan Psikologi UMM Atasi Stres saat Mengerjakan Skripsi

Muhammad Salis Yuniardi, MPsi, PhD, Psi (Dok UMM/SM)
Muhammad Salis Yuniardi, MPsi, PhD, Psi (Dok UMM/SM)
Shares

MALANG, Suara Muhammadiyah – Dua mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama di Bandung, Jawa Barat ditemukan tak bernyawa pada Desember lalu. Setelah dilakukan penyelidikan, polisi menyimpulkan kejadian tersebut atas dugaan kuat bunuh diri. Usut punya usut, salah satu dugaan bunuh diri ini karena tekanan saat mengerjakan skripsi.

Menanggapi hal tersebut Dekan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhammad Salis Yuniardi, MPsi, PhD, Psikolog, menyebutkan bahwa depresi menjadi faktor melakukan bunuh diri. “Depresi ialah tahap seseorang kehilangan harapan. Tentu saja pikiran akan terombang-ambing,” kata Salis ketika dihubungi pada Senin (7/1).

Pertama, sambungnya, ketika mendapatkan masalah, seseorang akan mengalami stres. Stres menjadi pintu utama sebelum masuk ke tahap depresi. Menurut pria lulusan S3 Psikologi Institute of Neuroscience Newcastle University, Inggris Raya ini, semua orang tentu memiliki masalah.

Maka, kata Salis, tentu ada beberapa hal yang harus dipegang teguh. Seperti keyakinan agama. “Orang beriman diajarkan untuk berpikir positif dan optimis, ini kunci dalam setiap jengkal kehidupan,” jelasnya. Meski begitu, agar tidak masuk ke tahap depresi, Salis menyarankan beberapa hal yang dapat dilakukan.

Kedua yakni berbagi cerita kepada orang yang dipercaya. Namun, diakuinya, tidak semua orang dapat menjadi partner berbagi cerita. Haruslah orang yang dapat dipercaya. Selanjutnya, bisa juga bercerita kepada ahli atau psikolog. “Psikolog bekerja di bawah sumpah, maka keamanan rahasia akan terjamin sepenuhnya,” terangnya.

Berikutnya, bagi Salis, pola pikir seseorang juga mesti benar. “Bila kita anggap diri kita tidak mampu, maka itu kemungkinan besar akan terjadi. Hal ini akan tersugesti yang bermuara pada usaha-usaha yang akan dilakukan,” tuturnya. Agar tak terjebak dalam tahap depresi, berpikiran positif dan optimis mesti menjadi pegangan hidup.

Termasuk saat mengerjakan skripsi. “Jangan berpikir seolah-olah yang mengerjakan skripsi hanya anda. Ini adalah tahap yang mesti dilalui semua akademisi,” tandasnya. Selanjutnya, pola pikir yang musti ditanamkan yakni harus optimis. Karena sudah sekian banyak orang juga mengerjakan skripsi dengan tuntas. (Humas UMM)

Shares
aplikasi_suara_muhammadiyah

Tambah Komentar

Klik disini untuk memberikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *